Persatuan Dunia Islam dan Ketakutan Amerika: Pandangan Imam Ali Khamenei tentang Politik Perpecahan

KHAMENEI.ID – Siapa sebenarnya yang takut pada persatuan umat Islam? Pertanyaan itu menjadi pusat perhatian dalam kerangka pemikiran Imam Ali Khamenei qs yang membahas hubungan antara persatuan dunia Islam dan dominasi kekuatan global. Bagi beliau, musuh utama persatuan Muslim bukanlah perbedaan mazhab atau batas negara, melainkan kekuatan-kekuatan yang selama ini diuntungkan oleh perpecahan.

Menurut Imam Khamenei, ada pihak-pihak yang akan mengalami kerugian besar jika negara-negara Islam benar-benar bersatu. Ketika dunia Islam tercerai-berai, kata beliau, jalan untuk intervensi, eksploitasi, dan penguasaan sumber daya menjadi terbuka. Sebaliknya, jika negara-negara Muslim mampu mengambil sikap bersama dalam isu-isu strategis, ruang gerak kekuatan asing akan menyempit.

Beliau mempersempit contoh pada kawasan Asia Barat dan Afrika Utara—wilayah yang selama puluhan tahun menjadi arena konflik, intervensi, dan perebutan pengaruh global. Imam Khamenei menyebut negara-negara seperti Iran, Irak, Suriah, Lebanon, Arab Saudi, Mesir, Yordania, dan negara-negara Teluk sebagai kekuatan besar yang sebenarnya memiliki potensi luar biasa jika bergerak dalam satu garis kebijakan.

Gagasan utamanya sederhana tetapi tajam: bila negara-negara kawasan ini bersatu dalam isu-isu mendasar, maka kekuatan besar tidak lagi leluasa mendikte kebijakan mereka. Dalam hal ini, beliau secara eksplisit menunjuk Amerika Serikat dan sekutunya sebagai pihak yang paling dirugikan oleh persatuan semacam itu.

Nada kritiknya keras. Imam Khamenei menuduh Amerika melakukan intervensi ekonomi dan politik di kawasan, mulai dari tekanan ekonomi hingga campur tangan dalam kebijakan luar negeri negara-negara Muslim. Ia juga menyinggung pencurian sumber daya dan penggunaan kelompok ekstremis sebagai alat geopolitik. Dalam pandangannya, kekacauan kawasan bukan semata konflik internal, melainkan bagian dari permainan kekuasaan internasional.

Namun ini bukan hanya kritik terhadap Barat. Yang lebih penting adalah refleksi tentang kelemahan dunia Islam sendiri. Menurut beliau, banyak negara Muslim terpaksa menerima tekanan asing karena berdiri sendiri-sendiri. Ketika negara merasa sendirian, mereka mudah dipaksa menyesuaikan diri dengan kepentingan kekuatan global.

Baca Juga  Haji, Persatuan Umat, dan “Haji Bara’ah”: Gagasan Imam Ali Khamenei tentang Politik Spiritual Islam

Di sinilah persatuan dipahami bukan sekadar slogan emosional, tetapi strategi politik. Imam Khamenei menggambarkan bagaimana negara-negara Muslim sebenarnya memiliki kepentingan yang sama: menjaga kedaulatan, menghindari intervensi asing, dan menentukan arah politiknya sendiri. Tetapi selama mereka bergerak sendiri-sendiri, tekanan dari luar akan terus berlangsung.

Gagasan ini memiliki akar kuat dalam ajaran Islam. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan:

«وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا» (آل عمران: 103)

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai.”

Ayat tersebut, dalam konteks ceramah Imam Khamenei, tidak hanya dipahami sebagai nasihat spiritual, tetapi juga prinsip sosial-politik. Perpecahan membuka jalan bagi dominasi, sedangkan persatuan menciptakan daya tahan kolektif.

Beliau kemudian mengajak para pemimpin, intelektual, dan elite politik dunia Islam untuk memikirkan manfaat konkret dari solidaritas regional. Tidak ada negara, katanya, yang rela kebijakan dalam negeri dan luar negerinya diatur oleh pihak asing. Namun banyak yang akhirnya menyerah karena merasa tidak memiliki sandaran.

Pesan ini terasa relevan di tengah situasi geopolitik saat ini, ketika dunia Muslim masih sering terjebak dalam konflik internal dan rivalitas kawasan. Persatuan sering diucapkan dalam pidato, tetapi sulit diwujudkan dalam kebijakan nyata. Dalam perspektif Imam Khamenei, selama negara-negara Muslim gagal membangun solidaritas strategis, kekuatan besar akan terus menemukan celah untuk campur tangan.

Ini bukan sekadar seruan ideologis, melainkan pembacaan geopolitik yang jelas: dunia Islam memiliki potensi besar, tetapi potensi itu terpecah oleh batas-batas politik dan kepentingan jangka pendek. Persatuan, dalam pandangan beliau, bukan utopia romantis, melainkan syarat untuk keluar dari lingkaran ketergantungan.

Bagikan:
Terkait
Komentar