KHAMENEI.ID– Ada sesuatu yang diam-diam sedang diperebutkan di zaman modern: bukan sekadar pasar, politik, atau teknologi, melainkan imajinasi manusia. Terutama imajinasi anak muda.
Hari ini, hampir setiap layar di dunia dipenuhi wajah-wajah yang dirancang untuk dikagumi. Industri hiburan global terus memproduksi tokoh-tokoh populer: selebritas, aktor, influencer, penulis sensasional, hingga figur glamor yang tampak memesona di permukaan tetapi sering kali kosong di bagian terdalam hidupnya. Mereka dipromosikan tanpa henti, diulang setiap hari, dipoles sedemikian rupa agar menjadi standar baru tentang sukses, kecantikan, kebebasan, dan kebahagiaan.
Manusia modern akhirnya tumbuh dalam banjir citra.
Ironisnya, banyak dari figur itu bahkan tidak menawarkan makna yang benar-benar utuh. Mereka hanya riuh. Besar di layar, tetapi rapuh di kehidupan nyata. Namun mesin media global tidak pernah lelah memproduksi mereka. Sebab dunia hari ini memahami satu hal penting: siapa yang menguasai teladan, ia sedang menguasai arah generasi.
Karena itu industri hiburan bukan sekadar hiburan. Film-film besar, budaya populer, bahkan sebagian karya seni modern sering membawa nilai dan kepentingan tertentu. Hollywood, misalnya, tidak hanya menjual cerita, tetapi juga cara hidup. Mereka mengatakan seni harus bebas dari politik, tetapi praktiknya justru sebaliknya: seni, film, sastra, dan media dipakai untuk menopang kepentingan ekonomi dan kekuasaan global.
Di belakang layar gemerlap itu berdiri jejaring raksasa kapitalisme modern, perusahaan-perusahaan besar, kekuatan ekonomi, dan pengaruh politik yang saling menopang. Mereka memahami bahwa manusia lebih mudah diarahkan lewat emosi dan figur ketimbang lewat ceramah panjang.
Dan di tengah gempuran sebesar itu, banyak bangsa merasa miskin teladan. Mereka kehilangan figur yang bisa dihadirkan kepada generasi muda sebagai contoh kehidupan yang bermakna.
Tetapi tradisi Islam, sesungguhnya, tidak pernah kehabisan sosok besar.
Masalahnya bukan ketiadaan teladan. Masalahnya: kita terlalu lama membiarkan tokoh-tokoh itu tinggal di rak sejarah dan mimbar peringatan, bukan dihidupkan kembali sebagai inspirasi zaman.
Padahal Islam memiliki figur-figur yang jika dikenalkan dengan bahasa yang hidup, akan jauh lebih kuat daripada karakter-karakter fiksi modern mana pun.
Di puncak semua itu berdiri Fatimah az-Zahra a.s.
Ia bukan perempuan yang dibesarkan dalam kemewahan istana. Kehidupannya justru sangat sederhana. Rumahnya kecil. Tangannya akrab dengan pekerjaan rumah tangga. Ia menggiling gandum sendiri, mengurus anak-anak, hidup dengan kesahajaan yang mungkin di zaman sekarang dianggap “biasa saja”.
Namun justru dari rumah kecil itulah lahir salah satu cahaya terbesar dalam sejarah manusia.
Fatimah bukan hanya putri Nabi Muhammad. Dalam banyak riwayat, ia digambarkan sebagai perempuan yang keteguhan ruhani, kecerdasan, kesucian, dan keberaniannya melampaui batas zamannya. Dalam sebuah doa ziarah yang dinukil para ulama klasik, ia dipanggil dengan gelar-gelar yang begitu dalam maknanya: perempuan suci, perempuan yang sabar dalam ujian, perempuan yang dizalimi tetapi tetap mulia.
Di sana Fatimah a.s disapa:
السَّلَامُ عَلَيْكِ أَيَّتُهَا الصِّدِّيقَةُ الشَّهِيدَةُ
“Salam atasmu, wahai perempuan yang benar dan syahid.”
Juga:
السَّلَامُ عَلَيْكِ أَيَّتُهَا التَّقِيَّةُ النَّقِيَّةُ
“Salam atasmu, wahai perempuan yang bertakwa dan suci.”
Gelar-gelar itu bukan sekadar pujian emosional. Ia mencerminkan sebuah karakter manusia yang utuh: kuat tetapi lembut, sederhana tetapi agung, terluka tetapi tetap menjaga martabat.
Dan mungkin justru tipe manusia seperti inilah yang langka di zaman sekarang.
Kita hidup di era ketika manusia dihargai berdasarkan seberapa viral dirinya. Ukuran keberhasilan berubah menjadi angka pengikut, penampilan visual, dan kemampuan menciptakan sensasi. Kedalaman jiwa sering kalah oleh pencitraan.
Karena itu generasi muda modern sebenarnya sedang mengalami kekosongan yang sunyi. Mereka dibanjiri figur populer, tetapi miskin figur yang benar-benar memberi arah hidup.
Padahal Islam juga memiliki teladan pemuda yang luar biasa. Hasan a.s dan Husain a.s, misalnya, disebut dalam hadis Nabi saw sebagai:
سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Penghulu para pemuda surga.”
Menariknya, gelar itu tetap melekat meski keduanya kelak menua secara usia. Sebab yang dimaksud bukan sekadar umur biologis, melainkan kualitas jiwa muda mereka: keberanian, kesucian hati, pengorbanan, dan idealisme.
Artinya, masa muda dalam pandangan spiritual bukan hanya fase umur, tetapi energi moral yang seharusnya menjadi teladan sepanjang zaman.
Hal yang sama juga tampak pada sosok Nabi Muhammad saw dan Imam Ali a.s di masa muda mereka. Mereka bukan anak muda yang hidup untuk popularitas, melainkan anak muda yang hidup untuk makna. Mereka hadir membawa keberanian berpikir, keberanian melawan ketidakadilan, dan keberanian mempertahankan kebenaran meski harus sendirian.
Bandingkan dengan dunia hari ini yang sering membentuk generasi muda agar takut berbeda, takut kehilangan validasi sosial, dan takut hidup tanpa pengakuan publik.
Di titik inilah persoalan “teladan” menjadi sangat penting. Sebab manusia, sadar atau tidak, selalu sedang meniru sesuatu. Jika tidak menemukan figur yang luhur, ia akan meniru apa saja yang paling sering muncul di layar hidupnya.
Karena itu pertarungan budaya modern sesungguhnya adalah pertarungan tentang siapa yang paling berhasil mendefinisikan manusia ideal.
Apakah manusia ideal adalah mereka yang paling kaya, paling terkenal, paling sensual, dan paling ramai dibicarakan? Ataukah manusia ideal adalah mereka yang memiliki integritas, kesucian jiwa, keberanian moral, dan keteguhan dalam kebenaran?
Tradisi Islam menawarkan jawaban yang berbeda dari logika dunia modern. Ia tidak menghadirkan superhero fiktif. Ia menghadirkan manusia nyata, yang menangis, terluka, miskin, dizalimi, tetapi tetap berdiri menjaga cahaya dalam dirinya.
Dan mungkin itulah alasan mengapa kisah Fatimah, Zainab, Hasan, Husain, dan tokoh-tokoh besar Islam tidak pernah benar-benar mati. Sebab manusia modern, sedalam apa pun ia tenggelam dalam dunia citra, pada akhirnya tetap haus pada ketulusan yang nyata.







