KHAMENEI.ID– Ada masa ketika manusia merasa dirinya berada di puncak peradaban, tetapi sesungguhnya sedang berjalan dalam gelap. Jalan-jalan kota ramai, kerajaan-kerajaan berdiri megah, ilmu berkembang di tangan segelintir orang, dan kekuasaan tampak kokoh. Namun di balik kemegahan itu, manusia kehilangan arah. Kekuatan menggantikan keadilan, kesombongan menutupi nurani, dan kekerasan dianggap sebagai cara paling sah untuk mempertahankan kekuasaan.
Di tengah dunia seperti itulah Nabi Muhammad saw diutus. Peristiwa yang dikenal sebagai Mab’ats Nabi bukan sekadar awal kenabian seorang manusia pilihan. Ia menjadi titik balik hubungan antara langit dan bumi, antara Tuhan dan manusia. Sebuah awal baru yang membawa misi untuk mengubah arah sejarah, bukan hanya bagi masyarakat Arab, tetapi bagi seluruh umat manusia.
Al-Qur’an menggambarkan tujuan pengutusan para nabi dengan kalimat yang sangat singkat namun penuh makna:
لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“Agar Dia mengeluarkan kamu dari berbagai kegelapan menuju cahaya”
Yang dimaksud bukan semata perpindahan dari malam menuju siang. Kegelapan dalam ayat itu adalah segala keadaan yang membuat manusia kehilangan kemanusiaannya: kebodohan, kesewenang-wenangan, ketidakadilan, fanatisme, dan kesombongan. Sebaliknya, cahaya adalah ilmu, keadilan, kasih sayang, persaudaraan, serta kemampuan melihat manusia lain sebagai sesama makhluk Tuhan.
Di titik inilah makna Mab’ats menjadi begitu relevan. Peristiwa itu bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan sebuah program perubahan yang terus hidup sepanjang zaman. Selama masih ada manusia yang terjebak dalam kegelapan moral, pesan kenabian tetap memiliki daya untuk mengubah kehidupan.
Gambaran dunia sebelum Islam sering kali dipersempit hanya pada masyarakat Arab yang tenggelam dalam penyembahan berhala dan peperangan antarsuku. Padahal kenyataannya jauh lebih luas. Imam Ali a.s melukiskan keadaan dunia ketika Nabi saw diutus dengan ungkapan yang sangat kuat: dunia telah kehilangan cahayanya dan dipenuhi tipuan.
Ungkapan itu menunjukkan bahwa krisis bukan hanya terjadi di Jazirah Arab. Hampir seluruh pusat peradaban saat itu mengalami penyakit yang sama. Kekuasaan menjadi alat penindasan, sementara manusia diperlakukan sesuai kepentingan para penguasa.
Kekaisaran Persia, misalnya, sering dikenang melalui nama Anusyirwan yang dijuluki raja adil. Namun sejarah juga mencatat bagaimana ribuan orang dibunuh hanya karena keyakinan mereka dianggap berbeda. Di sisi lain, Kekaisaran Romawi pun tidak lebih terang. Kaisar Nero dikenang bukan karena kebijaksanaannya, melainkan karena kekejaman yang bahkan menimpa keluarganya sendiri. Kota dibakar, nyawa manusia kehilangan harga, dan kekuasaan berubah menjadi panggung keserakahan.
Semua itu memperlihatkan satu kenyataan sederhana: kemajuan politik atau ekonomi tidak selalu berarti kemajuan moral. Peradaban dapat tumbuh tinggi, tetapi tetap gelap jika kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Namun jika ditarik lebih jauh, kegelapan yang dimaksud Al-Qur’an ternyata bukan hanya fenomena sejarah. Ia adalah penyakit yang selalu dapat muncul dalam setiap zaman.
Hari ini manusia hidup di tengah teknologi yang belum pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Informasi bergerak dalam hitungan detik, kecerdasan buatan membantu pekerjaan, dan komunikasi melintasi benua tanpa hambatan. Akan tetapi, apakah semua itu otomatis membuat manusia lebih bijaksana?
Di banyak tempat, kebencian tetap dipelihara. Ketimpangan ekonomi semakin lebar. Hoaks menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Kekuasaan masih sering digunakan untuk melindungi kepentingan segelintir orang. Manusia semakin mudah terhubung secara digital, tetapi justru semakin sulit saling memahami.
Barangkali inilah bentuk baru dari “kegelapan” yang dahulu disebut Al-Qur’an. Bukan karena minimnya cahaya lampu atau rendahnya teknologi, melainkan karena hati kehilangan arah.
Gagasan ini kemudian menyentuh inti ajaran Islam. Cahaya yang dibawa Nabi saw bukanlah cahaya yang memaksa manusia, melainkan yang membebaskannya. Islam mengajak manusia berpikir, membaca, berdialog, dan menggunakan akal. Karena itu wahyu pertama yang turun bukanlah perintah berperang ataupun membangun kerajaan, melainkan satu kata yang sederhana: Iqra’, bacalah.
Membaca, dalam pengertian yang paling luas, berarti membuka diri terhadap kebenaran. Dari sanalah lahir ilmu. Dari ilmu tumbuh keadilan. Dari keadilan lahir kasih sayang. Dan dari kasih sayang terbentuk masyarakat yang damai.
Karena itu, dakwah Nabi saw sesungguhnya adalah dakwah menuju cahaya. Cahaya ilmu menggantikan kebodohan. Cahaya keadilan menggantikan penindasan. Cahaya persatuan menghapus permusuhan. Cahaya kasih sayang meruntuhkan tembok-tembok kebencian.
Semua nilai itu tetap menjadi kebutuhan manusia modern. Dunia boleh berubah, tetapi watak dasar manusia tidak banyak berubah. Kesombongan masih menggoda, kekuasaan masih memabukkan, dan kepentingan pribadi masih sering mengalahkan suara hati. Di sinilah risalah kenabian selalu menemukan relevansinya.
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan Mab’ats. Nabi Muhammad saw diutus setelah berabad-abad manusia tidak lagi menyaksikan hadirnya seorang rasul. Imam Ali a.s menggambarkan masa itu sebagai periode panjang ketika umat manusia kehilangan bimbingan ilahi. Kekosongan spiritual itu membuat manusia mencari pegangan pada kekuatan duniawi semata. Akibatnya, ukuran benar dan salah ditentukan oleh siapa yang paling kuat, bukan oleh siapa yang paling adil.
Pengutusan Nabi mengakhiri kekosongan itu. Ia hadir bukan sekadar membawa agama baru, melainkan menghidupkan kembali suara fitrah manusia. Sebuah suara yang mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari kekayaan, suku, warna kulit, ataupun kekuasaan, tetapi dari kualitas takwa dan akhlaknya.
Mungkin itulah sebabnya Mab’ats tidak pernah kehilangan maknanya. Ia bukan hanya peringatan atas sebuah peristiwa yang terjadi lebih dari empat belas abad lalu. Ia adalah pengingat bahwa setiap zaman memiliki kegelapannya sendiri, dan setiap manusia memiliki pilihan yang sama: tetap tinggal dalam gelap atau berjalan menuju cahaya.
Selama manusia masih mencari keadilan, merindukan kasih sayang, memperjuangkan ilmu, dan menjaga nuraninya tetap hidup, pesan Mab’ats akan terus menemukan rumahnya. Sebab cahaya kenabian tidak pernah padam; yang sering tertutup hanyalah mata manusia yang enggan menoleh ke arahnya.







