KHAMENEI.ID – Di zaman ketika manusia tak pernah berhenti menatap layar, berpindah dari satu informasi ke informasi lain, ada satu penyakit batin yang justru semakin tumbuh diam-diam: lupa. Bukan lupa terhadap jadwal atau pekerjaan, melainkan lupa terhadap makna hidup, lupa terhadap Allah swt, bahkan lupa terhadap dirinya sendiri. Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei menyebut bahwa Al-Qur’an hadir justru untuk melawan penyakit itu.
Beliau memulai dengan satu kata kunci penting dalam Al-Qur’an: dzikr—zikir, ingatan atau pengingat. Menurut Imam Khamenei, salah satu nama Al-Qur’an sendiri adalah “dzikr”. Dalam beberapa ayat, Al-Qur’an secara langsung menyebut dirinya demikian.
Di antaranya firman Allah:
«وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ»
“Dan ini (Al-Qur’an) adalah peringatan yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan.” (QS. Al-Anbiya: 50)
Juga ayat terkenal dalam Surah Al-Hijr:
«إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ»
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Pertanyaannya kemudian: mengapa Al-Qur’an disebut dzikr?
Imam Khamenei menjelaskan bahwa dzikr berarti “pengingat”. Al-Qur’an bukan sekadar kitab hukum atau kumpulan bacaan ritual, melainkan sesuatu yang terus-menerus mengingatkan manusia tentang hakikat dirinya, tujuan hidupnya, dan hubungannya dengan Tuhan. Dalam bahasa Arab, katanya, penggunaan kata benda “dzikr” untuk Al-Qur’an menunjukkan penegasan yang sangat kuat: Al-Qur’an adalah pengingat dalam tingkat paling sempurna.
Penjelasan itu tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh problem paling mendasar manusia modern. Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi sering kehilangan kesadaran. Kita mengingat banyak hal, tetapi melupakan yang paling penting.
Menurut Imam Khamenei, ingatan adalah jembatan hubungan. Manusia hanya bisa terhubung dengan sesuatu jika ia mengingatnya. Ketika seseorang melupakan Allah swt, maka hubungan spiritualnya perlahan terputus. Ketika manusia melupakan akhirat, ia tenggelam dalam kehidupan material. Dan ketika manusia lupa pada martabat rohaninya sendiri, ia berubah menjadi makhluk yang hidup sekadar mengikuti naluri dan kesenangan sesaat.
Karena itu Al-Qur’an hadir untuk menjaga kesadaran manusia tetap hidup.
Imam Khamenei menegaskan bahwa lawan dari dzikr adalah ghaflah—kelalaian atau kelupaan spiritual. Dan menurut beliau, ghaflah adalah salah satu bencana terbesar manusia.
Al-Qur’an berkali-kali memperingatkan tentang bahaya kelalaian itu. Dalam Surah Qaf disebutkan:
«لَقَدْ كُنتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ»
“Sungguh, engkau dahulu lalai tentang ini, maka Kami singkapkan penutup yang menutupi matamu.” (QS. Qaf: 22)
Sementara dalam Surah Al-Anbiya digambarkan penyesalan orang-orang lalai di hari kiamat:
«يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا»
“Celakalah kami! Sungguh kami dahulu lalai tentang ini.” (QS. Al-Anbiya: 97)
Bagi Imam Khamenei, ayat-ayat ini bukan sekadar gambaran akhirat. Ia juga cermin kondisi manusia di dunia: manusia yang sibuk, aktif, bahkan tampak sukses, tetapi sebenarnya sedang hidup dalam kelalaian besar.
Karena itu beliau menghubungkan Al-Qur’an dengan konsep muraqabah—kesadaran mengawasi diri sendiri. Dalam tradisi spiritual Islam, muraqabah adalah keadaan ketika manusia terus menjaga hati dan perilakunya karena merasa berada di hadapan Allah swt.
Imam Khamenei menyebut bahwa para ahli suluk dan ulama akhlak sejak dulu sangat menekankan muraqabah sebagai tangga pendakian ruhani manusia. Ia bahkan mengutip pandangan ulama besar seperti Akhund Mulla Husainquli Hamadani yang mengatakan bahwa seseorang mungkin sesekali merasakan keadaan spiritual yang baik tanpa muraqabah, tetapi keadaan itu tidak akan bertahan lama. Tanpa kesadaran yang terus dijaga, cahaya batin mudah padam.
Di sinilah tilawah Al-Qur’an memperoleh makna yang lebih dalam. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas ibadah rutin, tetapi proses menjaga kesadaran. Semakin seseorang akrab dengan Al-Qur’an, kata Imam Khamenei, semakin kuat pula dzikr dalam dirinya.
Pandangan ini terasa sangat relevan di tengah budaya digital hari ini. Dunia modern mendorong manusia untuk terus sibuk, terus terdistraksi, terus terhubung secara virtual—tetapi justru semakin jauh dari dirinya sendiri. Banyak orang kehilangan kemampuan untuk diam, merenung, dan mengingat.
Dalam situasi seperti itu, Al-Qur’an hadir bukan hanya sebagai kitab agama, tetapi sebagai ruang pemulihan kesadaran. Ia mengembalikan manusia kepada pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar: siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan ke mana akhirnya ia akan kembali.
Mungkin karena itulah Imam Khamenei menekankan pentingnya uns—kedekatan batin dengan Al-Qur’an. Sebab hubungan dengan Al-Qur’an bukan hanya soal membaca teks suci, melainkan membiarkan ayat-ayat itu hidup di dalam kesadaran manusia.
Dan di tengah dunia yang semakin bising, mungkin manusia memang semakin membutuhkan sesuatu yang mampu mengingatkannya kembali pada dirinya sendiri.
Itulah Al-Qur’an: bukan sekadar bacaan, tetapi pengingat agar manusia tidak hilang di tengah hidupnya sendiri.







