Renungan Imam Ali tentang Hidup, Kematian, dan Kesempatan yang Terbatas

KHAMENEI.ID– Ada satu ilusi yang hampir selalu berhasil memperdaya manusia: keyakinan bahwa masih ada banyak waktu. Kita menunda berbuat baik karena merasa esok masih panjang. Kita menumpuk ambisi seolah usia adalah milik sendiri. Padahal, yang paling pasti dalam hidup justru sesuatu yang paling sering kita abaikan: kematian.

Berabad-abad silam, Imam Ali bin Abi Thalib a.s menyampaikan sebuah khotbah yang kemudian dikenal sebagai Khutbah al-Gharrā’, salah satu pidato paling memukau dalam Nahjul Balaghah. Isinya bukan sekadar ajakan bertakwa, melainkan sebuah potret tentang manusia yang sibuk mengejar dunia, tetapi lupa bahwa setiap langkah sesungguhnya sedang membawanya menuju titik akhir.

Khotbah itu dibuka dengan pujian kepada Allah, Tuhan yang Mahatinggi sekaligus Mahadekat. Dia memberi tanpa diminta, melimpahkan nikmat tanpa batas, dan membuka jalan bagi siapa pun yang ingin kembali kepada-Nya. Dari sanalah Imam Ali a.s mengajak manusia melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda: bukan sekadar perjalanan mencari kenikmatan, melainkan sebuah ujian yang seluruh jawabannya akan dipertanggungjawabkan.

Manusia, kata beliau, telah diberi begitu banyak. Pendengaran untuk memahami, penglihatan untuk menangkap tanda-tanda kehidupan, hati untuk merenung, tubuh yang sempurna, serta kesempatan menjalani umur yang panjang, meski panjang itu tidak pernah diberitahukan batasnya. Justru karena ajal disembunyikan, manusia dituntut hidup dalam kesadaran, bukan dalam kelengahan.

Di sinilah dunia mulai memperlihatkan wajah gandanya. Dari kejauhan ia tampak memesona. Warnanya indah, peluangnya menggoda, dan janjinya terasa meyakinkan. Namun ketika didekati, dunia berubah menjadi sesuatu yang licin. Apa yang semula tampak kokoh ternyata rapuh. Apa yang dikira abadi ternyata segera lenyap.

Imam Ali a.s menggambarkan dunia sebagai minuman yang tampak jernih tetapi keruh di dalamnya. Ia seperti cahaya yang perlahan padam, bayangan yang sebentar lagi menghilang, atau penyangga yang diam-diam mulai miring. Begitu seseorang merasa telah menemukan kenyamanan dan mulai percaya bahwa semua akan berlangsung selamanya, dunia justru menjatuhkannya. Tanpa aba-aba, ia menarik kaki manusia ke dalam perangkap kematian.

Baca Juga  Diam di Tengah Fitnah: Ketika Netralitas Justru Menjadi Bagian dari Masalah

Di titik ini, khotbah itu tidak bermaksud menakut-nakuti, melainkan membongkar kesombongan yang sering lahir dari rasa aman yang palsu.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat ini bukan ancaman, melainkan pengingat bahwa kehidupan memang memiliki garis akhir. Yang menjadi persoalan bukan apakah kita akan mati, melainkan dalam keadaan seperti apa kita menghadapinya.

Karena itu Imam Ali a.s membawa pendengarnya melampaui kehidupan sehari-hari menuju hari kebangkitan. Beliau melukiskan manusia keluar dari kubur, dari dasar bumi, dari tempat-tempat yang telah lama melupakan nama mereka. Semua berdiri dalam barisan yang sama. Tidak ada lagi perbedaan status, kekayaan, kekuasaan, ataupun keturunan. Mata memandang lurus. Suara-suara mengecil. Hati dipenuhi kegelisahan. Tidak ada lagi ruang untuk kepura-puraan.

Yang berbicara hanyalah amal.

Gambaran itu terasa sangat hidup. Seakan seluruh kebanggaan manusia yang dibangun bertahun-tahun mendadak kehilangan arti hanya dalam satu panggilan Ilahi.

Namun jika ditarik lebih jauh, pesan Imam Ali a.s sesungguhnya tidak berhenti pada kematian. Yang beliau persoalkan adalah mengapa manusia selalu gagal belajar dari kematian orang lain.

Kita menghadiri pemakaman, mengantar kerabat ke liang lahat, menyaksikan tanah menutup tubuh seseorang, lalu beberapa hari kemudian kembali menjalani hidup dengan kesombongan yang sama. Seolah-olah kematian hanya berlaku bagi orang lain.

Padahal setiap generasi hanyalah pengulangan generasi sebelumnya. Orang tua pergi, anak-anak menyusul. Para pemimpin digantikan. Para hartawan meninggalkan seluruh kekayaannya. Semua berjalan menuju tujuan yang sama.

Imam Ali a.s mengingatkan bahwa jasad yang dahulu dipelihara dengan penuh kebanggaan akhirnya menjadi tanah. Kulit yang pernah dirawat mulai hancur. Tulang yang dahulu kuat berubah rapuh. Yang tersisa hanyalah catatan amal yang tidak lagi bisa ditambah ataupun dikurangi.

Baca Juga  Cinta yang Menghidupkan: Mengapa Ahlul Bait Tidak Hanya Dikenang, tetapi Dicintai

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang sangat modern. Hari ini manusia hidup di tengah budaya produktivitas tanpa henti. Ukuran keberhasilan adalah pencapaian, popularitas, dan kepemilikan. Kita diajak berlomba menjadi lebih kaya, lebih terkenal, lebih berpengaruh. Namun sangat sedikit yang bertanya: untuk apa semua itu jika akhirnya tidak ada satu pun yang ikut masuk ke dalam kubur?

Imam Ali a.s tidak pernah melarang manusia bekerja, memiliki harta, atau menikmati kehidupan. Yang beliau kecam adalah ketika dunia berpindah dari tangan ke dalam hati. Ketika manusia menjadikan dunia sebagai tujuan, bukan sebagai sarana.

Dalam khotbah itu beliau juga mengingatkan adanya musuh yang bekerja tanpa terlihat: bisikan yang memperindah dosa dan mengecilkan kesalahan. Keburukan mula-mula tampak ringan. Penundaan tobat terasa wajar. Kesombongan dibungkus sebagai rasa percaya diri. Sampai akhirnya manusia terjebak dalam kebiasaan yang sulit dilepaskan.

Ironisnya, ketika ajal benar-benar datang, seluruh ilusi itu runtuh sekaligus.

Imam Ali a.s menggambarkan detik-detik terakhir kehidupan dengan sangat manusiawi. Tubuh mulai melemah. Rasa sakit menjalar. Keluarga mengelilingi ranjang. Tangisan pecah. Saudara tidak mampu menghalangi maut. Anak-anak hanya bisa mengantar jenazah sampai liang kubur. Setelah itu semua pulang.

Yang tinggal hanyalah seseorang bersama amalnya.

Di situlah tidak ada lagi kesempatan memperbaiki kesalahan. Tidak ada lagi waktu meminta tambahan umur. Tidak ada lagi alasan bahwa seseorang terlalu sibuk atau belum sempat berubah.

Karena itu, sebelum menggambarkan hari akhir, Imam Ali a.s justru berkali-kali mengajak manusia memanfaatkan hari ini.

Hari ini masih ada kesempatan mendengar nasihat.

Hari ini masih ada ruang untuk bertobat.

Hari ini masih ada waktu memperbaiki hubungan dengan sesama.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 9): Makna "Mendirikan Salat" dalam Tafsir Al-Baqarah Ayat 3

Hari ini masih mungkin mengubah arah hidup.

Esok belum tentu.

Penutup khotbah itu terasa seperti sebuah bisikan yang lembut sekaligus mengguncang. Selama napas masih berembus, pintu kembali kepada Allah belum ditutup. Selama ruh masih berada di dalam tubuh, manusia masih memiliki peluang menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang yang tak mungkin dihindari.

Barangkali inilah inti dari seluruh renungan Imam Ali a.s: dunia bukan musuh, tetapi juga bukan rumah yang sesungguhnya. Ia hanyalah tempat singgah yang penuh ujian. Yang cerdas bukanlah mereka yang paling banyak mengumpulkan dunia, melainkan mereka yang mampu menjadikan setiap hari sebagai bekal menuju kehidupan yang benar-benar abadi.

Bagikan:
Terkait
Komentar