Imam Khamenei tentang Bahaya Netralitas Ulama dalam Menghadapi Ketidakadilan

KHAMENEI.ID – Banyak orang beranggapan bahwa lembaga keagamaan akan lebih dihormati jika menjauh dari persoalan politik, konflik sosial, dan isu-isu besar yang membelah masyarakat. Logikanya sederhana: semakin netral, semakin sedikit musuh; semakin sedikit musuh, semakin tinggi kehormatan.

Namun menurut Imam Ali Khamenei qs, cara berpikir semacam itu adalah sebuah kekeliruan mendasar.

Dalam salah satu ceramahnya, Pemimpin Revolusi Islam Iran itu menilai bahwa penghormatan sejati tidak pernah lahir dari sikap mengasingkan diri. Sebaliknya, sejarah justru menunjukkan bahwa setiap lembaga yang benar-benar hidup selalu hadir di tengah persoalan masyarakat, meski harus membayar harga berupa kritik, tekanan, bahkan permusuhan.

Hormat yang Hanya Tampak di Permukaan

Imam Khamenei membedakan antara penghormatan yang lahir karena pengaruh nyata dan penghormatan yang hanya bersifat simbolis. Menurut beliau, sebuah lembaga yang memilih diam terhadap persoalan-persoalan besar mungkin saja diperlakukan dengan sopan. Orang mungkin memujinya, menghormati para tokohnya, bahkan menjadikannya simbol moral. Namun penghormatan semacam itu tidak memiliki kedalaman.

Ia ibarat penghormatan kepada sebuah patung atau benda bersejarah: dipandang indah, tetapi tidak memiliki pengaruh terhadap kehidupan. Bahkan, dalam banyak kasus, penghormatan semacam itu justru menyimpan unsur penghinaan. Sebab lembaga tersebut dihormati bukan karena dianggap mampu mengubah keadaan, melainkan karena dipandang tidak lagi memiliki daya untuk mengganggu kepentingan siapa pun.

Sebaliknya, sesuatu yang hidup selalu menimbulkan reaksi. Ia dicintai oleh para pendukungnya dan ditentang oleh mereka yang merasa terganggu. Justru karena itulah ia benar-benar dihormati.

“Makhluk yang hidup, aktif, dan melahirkan pengaruh akan membangkitkan penghormatan, bahkan dari musuh-musuhnya,” demikian inti penjelasan Imam Khamenei.

Ketika Ulama Memilih Menjadi Penonton

Menurut Imam Khamenei, bahaya terbesar bagi hauzah atau lembaga pendidikan Islam bukanlah tekanan dari luar, melainkan ketika ia memilih hidup di pinggir sejarah Jika ulama tidak lagi hadir dalam dinamika masyarakat, lambat laun mereka akan kehilangan relevansi. Mereka mungkin tetap ada secara fisik, tetapi pengaruhnya memudar sedikit demi sedikit hingga akhirnya hanya menjadi bagian dari nostalgia.

Baca Juga  Hukum yang Pahit, Kekacauan yang Lebih Menyakitkan

Karena itulah, sepanjang sejarah, ulama Syiah hampir selalu hadir di titik-titik penting perjalanan masyarakat. Mereka bukan sekadar pengajar kitab, melainkan juga pembimbing sosial, moral, dan politik ketika umat menghadapi persoalan besar. Dalam pandangan Imam Khamenei, kedalaman pengaruh ulama Syiah yang bertahan hingga hari ini tidak lahir dari sikap menjauh dari masyarakat, tetapi karena keberanian mereka berada di tengah peristiwa-peristiwa penting.

Menjaga Agama Berarti Hadir di Tengah Persoalan

Imam Khamenei kemudian mengingatkan bahwa ruhaniyah tidak memiliki identitas yang terpisah dari agama. Ulama, menurut beliau, adalah pelayan agama, bukan institusi yang hidup demi dirinya sendiri. Karena itu, jika mereka memilih bersikap netral ketika agama menghadapi ancaman besar atau ketika masyarakat membutuhkan bimbingan, maka yang pertama kali dirugikan bukanlah lembaga keagamaan, melainkan agama itu sendiri.

Beliau mencontohkan Revolusi Islam sebagai salah satu peristiwa yang menuntut kehadiran ulama. Jika para ulama ketika itu memilih diam, menurut beliau, Islam akan kehilangan salah satu momentum terbesarnya dalam sejarah modern.

Salah satu bagian paling menarik dalam pemikiran Imam Khamenei adalah pandangannya mengenai permusuhan. Beliau tidak melihat setiap serangan sebagai bencana semata. Dalam banyak keadaan, tekanan justru memaksa umat melahirkan kreativitas baru. Imam Khamenei mengingatkan bagaimana buku-buku yang menyerang mazhab Syiah justru melahirkan karya-karya ilmiah besar sebagai jawaban.

Beliau mencontohkan terbitnya buku Asrar-e Hezar Saleh (Seribu Tahun Rahasia), yang menurutnya menjadi salah satu faktor yang mendorong Imam Khomeini menulis Kasyf al-Asrar. Dari karya itu kemudian mulai tampak embrio pemikiran tentang pemerintahan Islam dan Wilayah al-Faqih yang kelak berkembang lebih matang.

Beliau juga menyinggung munculnya gerakan Marxis dan Partai Tudeh di Iran pada dekade 1940-an. Tantangan intelektual itu, menurutnya, justru melahirkan karya monumental Ushul-e Falsafeh wa Ravesh-e Realism, yang memperkuat fondasi filsafat Islam kontemporer.

Baca Juga  Cinta Ahlul Bait: Jalan Menuju Persatuan Umat

Dengan kata lain, selama umat tetap sadar dan hidup, tekanan tidak selalu melemahkan. Ia justru bisa menjadi pemicu lahirnya pembaruan.

Netral Tidak Menghentikan Permusuhan

Sebagian orang beranggapan bahwa jika ulama berhenti berbicara mengenai persoalan politik dan ketidakadilan, maka permusuhan terhadap mereka akan berakhir. Imam Khamenei menolak anggapan tersebut. Beliau mengutip sebuah ungkapan Arab:

«وَمَنْ نَامَ لَمْ يُنَمْ عَنْهُ»

“Siapa yang tertidur bukan berarti musuhnya ikut tertidur.”

Menurut beliau, sejarah justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Setiap kali musuh melihat kelemahan atau sikap pasif, tekanan semakin ditingkatkan.

Karena itu, diam bukanlah strategi untuk memperoleh keamanan.

Dalam pandangan Imam Khamenei, kekuatan-kekuatan besar dunia telah lama memahami potensi besar pemikiran Islam, khususnya tradisi intelektual Syiah, dalam melawan penindasan global. Pengalaman Irak, Gerakan Tembakau di Iran, hingga berbagai kebangkitan masyarakat Muslim menjadi bukti bahwa agama mampu menggerakkan rakyat.

Itulah sebabnya, menurut beliau, mereka tidak akan menghentikan tekanan hanya karena para ulama memilih diam.

Hadir, Bukan Sekadar Bertahan

Bagi Imam Khamenei, tugas hauzah dan ulama bukan sekadar mempertahankan keberadaan lembaga keagamaan.

Yang jauh lebih penting adalah menjaga agar agama tetap hadir sebagai kekuatan moral yang membimbing masyarakat.

Sikap itu memang mengandung risiko. Kritik akan datang. Permusuhan mungkin bertambah. Namun sejarah menunjukkan bahwa semua perubahan besar hampir selalu lahir dari mereka yang berani hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan paling sulit.

Barangkali karena itulah, menurut Imam Khamenei, kehormatan sejati bukan diperoleh ketika semua orang memuji kita. Kehormatan sejati lahir ketika sebuah lembaga tetap berdiri di sisi kebenaran, meski konsekuensinya adalah kehilangan kenyamanan.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi sikap apatis, mungkin tantangan terbesar bukan lagi bagaimana menghindari musuh, melainkan bagaimana tetap memiliki keberanian untuk tidak menjadi penonton sejarah.

Baca Juga  Membaca Zaman, Menyaring Kebenaran: Ketika Ilmu Tak Lagi Cukup Tanpa Kesadaran
Bagikan:
Terkait
Komentar