KHAMENEI.ID– Ada kebiasaan yang terus berulang dalam kehidupan berbangsa: ketika masyarakat dianggap bermasalah, rakyatlah yang pertama kali disalahkan. Ketika korupsi merajalela, ketika etika publik merosot, ketika kejujuran terasa semakin langka, yang sering muncul adalah keluhan tentang moral masyarakat yang memburuk. Seolah-olah sumber persoalan selalu berada di bawah.
Padahal, sejarah menunjukkan sesuatu yang berbeda. Karakter sebuah bangsa tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari contoh yang terus-menerus dipertontonkan oleh orang-orang yang berada di puncak kekuasaan.
Karena itulah, salah satu pertanyaan paling penting yang jarang diajukan adalah: apakah para pemimpin sudah menjadi teladan yang mereka tuntut dari rakyatnya?
Dalam sebuah pandangan yang sangat menarik, perubahan sosial digambarkan sebagai proses bertingkat. Revolusi melahirkan sistem. Sistem melahirkan pemerintahan. Dan pemerintahan pada akhirnya membentuk wajah sebuah negara. Dengan kata lain, negara yang baik tidak muncul hanya karena memiliki konstitusi yang baik atau slogan yang indah. Negara yang baik lahir ketika orang-orang yang menjalankan sistem itu benar-benar hidup sesuai dengan nilai yang mereka perjuangkan.
Di sinilah letak persoalan besar yang sering diabaikan. Banyak orang berharap masyarakat menjadi jujur, sementara para pejabat menunjukkan kemewahan yang tidak transparan. Banyak yang menyerukan kesederhanaan, tetapi para pemegang jabatan mempertontonkan gaya hidup yang jauh dari kesederhanaan itu sendiri. Banyak yang berbicara tentang keadilan, namun keputusan-keputusan publik sering kali meninggalkan kesan bahwa hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Dalam situasi seperti itu, tuntutan moral kepada masyarakat menjadi kehilangan daya pengaruhnya.
Tidak adil jika seluruh beban perubahan dibebankan kepada rakyat. Seorang mahasiswa, pedagang kecil, pegawai rendahan, buruh, petani, atau warga biasa sesungguhnya belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Mereka memperhatikan bagaimana para pemimpin berbicara, menggunakan kekuasaan, memperlakukan lawan politik, mengelola uang publik, dan menjalankan amanah.
Jika contoh yang terlihat bertentangan dengan nilai yang diucapkan, masyarakat akan lebih percaya kepada tindakan daripada pidato.
Karena itu, kritik yang paling keras seharusnya pertama-tama diarahkan kepada diri sendiri, terutama bagi mereka yang memegang tanggung jawab publik.
Al-Qur’an menggambarkan sebuah adegan yang sangat menggugah pada hari ketika segala urusan telah selesai. Setan berkata kepada manusia:
فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ
“Janganlah kalian menyalahkanku, tetapi salahkanlah diri kalian sendiri.” (QS. Ibrahim: 22)
Pesan ayat ini begitu dalam. Manusia memiliki kecenderungan mencari kambing hitam atas kegagalannya. Kita menyalahkan keadaan, sistem, lingkungan, bahkan orang lain. Namun pada akhirnya, tanggung jawab terbesar tetap berada pada diri sendiri.
Prinsip inilah yang seharusnya menjadi fondasi kepemimpinan. Ketika ada kekurangan dalam masyarakat, seorang pemimpin tidak terburu-buru menunjuk kesalahan rakyat. Ia lebih dahulu bertanya: contoh apa yang sudah saya berikan? Nilai apa yang sudah saya tunjukkan? Amanah apa yang belum saya tunaikan?
Sikap semacam ini semakin langka di era modern yang penuh pencitraan. Kita hidup di zaman ketika kata-kata jauh lebih murah daripada keteladanan. Media sosial memungkinkan seseorang terlihat bijaksana hanya dengan satu unggahan. Seseorang dapat berbicara tentang integritas tanpa pernah diuji oleh godaan kekuasaan. Ia dapat menyerukan kejujuran tanpa pernah mempertanggungjawabkan tindakannya sendiri.
Akibatnya, publik dibanjiri nasihat, tetapi kekurangan teladan.
Padahal, dalam tradisi Islam, pengaruh terbesar bukanlah ucapan, melainkan perilaku. Imam Ja’far Shadiq a.s pernah berpesan:
كُونُوا دُعَاةً لِلنَّاسِ بِغَيْرِ أَلْسِنَتِكُمْ
“Jadilah pengajak kepada kebaikan bukan hanya dengan lisan kalian.”
Beliau kemudian menjelaskan agar manusia melihat kesungguhan, kejujuran, dan ketakwaan dalam diri kita.
Pesan ini terasa sangat relevan hari ini. Manusia modern sebenarnya tidak kekurangan teori tentang kebaikan. Buku motivasi memenuhi rak-rak toko. Seminar kepemimpinan digelar di mana-mana. Ceramah agama dapat diakses hanya dengan satu sentuhan layar.
Yang kurang adalah contoh nyata.
Seorang pemimpin yang jujur akan mengajarkan kejujuran lebih efektif daripada seribu pidato tentang integritas. Seorang pejabat yang hidup sederhana akan mengajarkan kesederhanaan lebih kuat daripada kampanye moral apa pun. Seorang guru yang disiplin akan mendidik murid-muridnya tanpa perlu banyak ancaman. Seorang ayah yang bertanggung jawab akan membentuk karakter anak-anaknya jauh lebih dalam daripada nasihat yang panjang.
Karena manusia belajar terutama melalui pengamatan.
Itulah sebabnya perubahan sebuah negara pada akhirnya selalu berawal dari perubahan orang-orang yang berada di pusat pengaruhnya. Ketika para pemimpin memperbaiki diri, dampaknya menjalar ke bawah seperti aliran air yang menghidupi seluruh kebun. Sebaliknya, ketika kerusakan muncul di tingkat atas, pengaruhnya juga menyebar ke seluruh lapisan masyarakat.
Tentu tidak berarti bahwa semua orang akan otomatis menjadi baik. Godaan, kesalahan, dan penyimpangan akan selalu ada. Selama manusia hidup, selalu ada orang yang memilih mengikuti hawa nafsu dan bisikan kejahatan. Tidak ada masyarakat yang sepenuhnya sempurna.
Namun suasana umum sebuah bangsa dapat berubah. Kejujuran bisa menjadi budaya. Amanah bisa menjadi kebiasaan. Etika bisa menjadi standar yang dihormati. Dan semua itu dimulai dari satu hal sederhana namun berat dilakukan: keteladanan.
Pada akhirnya, masa depan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh undang-undang, pembangunan fisik, atau pertumbuhan ekonomi. Masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas moral manusia yang mengelolanya.
Sebab rakyat biasanya tidak menjadi seperti yang diperintahkan oleh para pemimpinnya. Mereka cenderung menjadi seperti para pemimpinnya itu sendiri.
Dan mungkin di situlah letak pelajaran yang paling penting: sebelum mengubah masyarakat, seseorang harus berani mengubah dirinya terlebih dahulu.







