Palestina dan Kebangkitan Islam: MengapaSebuah Bangsa yang Terjajah Tak Pernah Benar-Benar Kalah?

KHAMENEI.ID– Ada ironi besar dalam sejarah modern. Sebuah bangsa bisa kehilangan tanahnya, rumahnya dihancurkan, anak-anaknya dibunuh, dan pemimpinnya dipenjara. Namun bangsa itu tetap hidup. Bahkan semakin kuat.

Itulah kisah Palestina. Selama puluhan tahun, banyak orang mengira persoalan Palestina telah selesai. Sejak berdirinya negara Israel pada 1948, dunia menyaksikan bagaimana rakyat Palestina terus terdesak dari tanah leluhur mereka. Dukungan politik, ekonomi, militer, dan diplomatik dari kekuatan-kekuatan besar dunia tampak membuat posisi Israel begitu kokoh dan nyaris tak tergoyahkan.

Tetapi sejarah sering berjalan dengan cara yang tidak diperkirakan oleh para perancangnya.

Enam dekade setelah pendudukan dimulai, yang muncul justru bukan lenyapnya identitas Palestina, melainkan kebangkitan kesadaran yang lebih kuat. Sebuah generasi baru lahir dari puing-puing pengungsian, dari reruntuhan rumah yang dibom, dari pengalaman hidup di bawah blokade, tembok pemisah, dan penjajahan yang berkepanjangan.

Palestina tidak hilang. Palestina justru menjadi simbol.

Di tengah gelombang yang banyak disebut sebagai kebangkitan Islam, Palestina menempati posisi yang unik. Ia bukan sekadar persoalan wilayah yang disengketakan atau konflik politik yang belum selesai. Palestina telah berubah menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi, penjajahan, dan ketidakadilan yang dirasakan oleh banyak masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia.

Jika menengok ke dekade 1940-an, sulit membayangkan keadaan bisa berubah seperti sekarang. Saat itu Palestina adalah wilayah yang miskin, terpecah, dan dikelilingi negara-negara yang sebagian besar masih berada dalam pengaruh kolonialisme Barat. Di sisi lain, gerakan Zionis memperoleh dukungan besar dari kekuatan-kekuatan internasional.

Amerika Serikat, Inggris, dan banyak negara Barat berdiri di belakang proyek tersebut. Bahkan dalam banyak fase sejarah, persaingan ideologis antara Barat dan Timur seolah menghilang ketika menyangkut dukungan terhadap Israel.

Baca Juga  Di Ghadir Khum Nabi Memilih Keadilan, Dunia Modern Memilih Kekuasaan

Bagi rakyat Palestina, itu adalah pertarungan yang tampak mustahil dimenangkan.

Namun sejarah tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata. Ada faktor lain yang sering diabaikan: keyakinan, identitas, dan daya tahan sebuah bangsa.

Berbagai jalan pernah dicoba oleh bangsa Palestina. Mereka mendatangi forum-forum internasional. Mereka memasuki meja perundingan. Mereka mencoba berbagai ideologi politik yang populer pada masanya, mulai dari nasionalisme Arab hingga sosialisme dan Marxisme. Namun berbagai eksperimen itu tidak mampu memberikan jawaban yang benar-benar memuaskan.

Di tengah kebuntuan itulah identitas keagamaan kembali menemukan tempatnya.

Bagi banyak rakyat Palestina, agama bukan sekadar ritual pribadi. Ia menjadi sumber harapan ketika semua pintu lain tampak tertutup. Dari keyakinan itulah lahir generasi-generasi yang melihat perjuangan mereka bukan hanya sebagai konflik politik, tetapi juga sebagai perjuangan mempertahankan martabat dan hak hidup.

Momentum besar berikutnya datang dengan lahirnya Revolusi Islam Iran pada 1979. Sejak awal, isu Palestina ditempatkan sebagai salah satu simbol utama perlawanan terhadap dominasi kekuatan besar dunia. Sejak saat itu, dukungan terhadap perjuangan Palestina memperoleh energi baru yang melampaui batas-batas geografis Arab.

Perlahan, peta kekuatan mulai berubah.

Kelompok-kelompok perlawanan di Palestina dan Lebanon tumbuh. Generasi baru pejuang lahir. Intifada (gelombang perlawanan rakyat) muncul sebagai bentuk ekspresi kemarahan sekaligus harapan.

Banyak pengamat politik terkejut melihat bagaimana anak-anak muda yang hanya bersenjatakan batu mampu mengguncang citra negara yang selama puluhan tahun dianggap tak terkalahkan.

Di sinilah muncul sebuah paradoks yang berulang kali terjadi dalam sejarah. Kekuatan material yang sangat besar tidak selalu mampu mengalahkan tekad manusia.

Bahkan ketika menghadapi tank, pesawat tempur, penjara, dan pembunuhan, semangat perlawanan tidak lenyap. Sebaliknya, tekanan yang terus-menerus sering kali justru melahirkan ketangguhan baru.

Baca Juga  Mengapa Nabi Muhammad saw Ditakuti? Pelajaran Besar dari Sejarah yang Masih Menggetarkan Dunia 

Al-Qur’an menggambarkan harapan semacam ini dalam firman-Nya:

وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَذِهِ وَكَفَّ أَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْ

“Allah menjanjikan kepada kalian berbagai kemenangan yang akan kalian raih, dan Dia menyegerakan sebagian darinya serta menahan tangan manusia dari kalian.” (QS. Al-Fath: 20)

Bagi banyak pejuang Palestina, ayat seperti ini bukan sekadar teks keagamaan. Ia menjadi sumber daya psikologis yang membuat mereka mampu bertahan ketika situasi tampak paling gelap.

Sementara itu, dunia juga mengalami perubahan besar. Citra demokrasi liberal Barat yang selama bertahun-tahun dipromosikan sebagai model ideal mulai menghadapi berbagai pertanyaan. Perang Irak, Afghanistan, penjara Guantanamo, Abu Ghraib, dan berbagai tragedi kemanusiaan membuat banyak masyarakat Muslim mempertanyakan klaim moral yang selama ini dikampanyekan oleh negara-negara besar.

Dalam konteks itulah Palestina semakin memperoleh perhatian.

Bukan karena mereka paling kuat, tetapi karena mereka dianggap mewakili pengalaman kolektif banyak bangsa yang pernah merasakan dominasi dan campur tangan kekuatan asing.

Namun perjuangan Palestina sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang medan perang.

Ada pelajaran yang lebih luas bagi dunia Islam. Kebebasan dan kemerdekaan tidak lahir hanya dari keberanian fisik. Ia membutuhkan perjuangan intelektual, politik, moral, dan ilmiah. Sebuah masyarakat tidak akan mampu mempertahankan kemerdekaannya jika tertinggal dalam pendidikan, teknologi, tata kelola, dan pembangunan manusia.

Karena itu, jihad dalam pengertian yang lebih luas bukan hanya soal perlawanan bersenjata. Ia juga berarti membangun ilmu pengetahuan, memperkuat moralitas publik, menegakkan keadilan sosial, dan mengembangkan kemandirian bangsa.

Di titik inilah Palestina menjadi lebih dari sekadar sebuah wilayah di Timur Tengah. Ia berubah menjadi cermin yang memantulkan pertanyaan besar kepada dunia Islam: apakah umat mampu bangkit dari ketergantungan, perpecahan, dan keterbelakangan yang telah berlangsung selama berabad-abad?

Baca Juga  Doktrin “Allahu Akbar”: Membaca Ulang Tatanan Kekuasaan dan Prinsip Pertolongan Ilahi dalam Ranah Perlawanan

Pada akhirnya, mungkin yang paling mengagumkan dari kisah Palestina bukanlah konflik itu sendiri, melainkan kemampuan sebuah bangsa untuk terus bertahan ketika segala alasan untuk menyerah sebenarnya telah tersedia.

Puluhan tahun penderitaan tidak berhasil menghapus identitas mereka. Generasi demi generasi tetap lahir dengan keyakinan bahwa tanah air mereka masih layak diperjuangkan.

Dalam tradisi Islam terdapat ungkapan yang pernah diucapkan Imam Husain a.s ketika menghadapi puncak tragedi Karbala:

إِنَّمَا يَهُونُ الْخَطْبُ عَلَيَّ أَنَّهُ بِعَيْنِ اللَّهِ

“Semua musibah ini menjadi ringan karena berada dalam pengawasan Allah.”

Barangkali itulah kalimat yang menjelaskan mengapa Palestina tetap bertahan hingga hari ini. Ketika sebuah bangsa meyakini bahwa penderitaan mereka memiliki makna, bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia, dan bahwa keadilan pada akhirnya akan menemukan jalannya, maka kekalahan tidak lagi diukur oleh jumlah senjata atau luas wilayah yang hilang.

Sebab dalam sejarah, ada bangsa-bangsa yang menang secara militer tetapi kalah secara moral. Ada pula bangsa-bangsa yang terus ditekan, tetapi justru tumbuh menjadi simbol yang tak pernah bisa dihapus dari ingatan dunia.

Dan Palestina, hingga hari ini, tetap berada dalam kategori yang kedua.

Bagikan:
Terkait
Komentar