KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang terus berulang dalam kehidupan modern: politik adalah dunia yang berbeda dari kehidupan pribadi. Di rumah, seseorang bisa jujur, santun, dan taat beragama. Namun ketika memasuki gelanggang kekuasaan, seolah berlaku aturan lain. Kebohongan dianggap strategi, fitnah dipandang senjata, dan tipu daya disebut kecerdikan. Di titik inilah politik kehilangan ruhnya, karena moral dipisahkan dari kekuasaan.
Padahal, dalam pandangan Islam, tidak ada ruang kehidupan yang bebas dari tuntutan takwa. Bukan hanya masjid, rumah, atau tempat ibadah yang harus dijaga kesuciannya, tetapi juga ruang rapat, panggung politik, bahkan arena perebutan kekuasaan. Justru di tempat-tempat itulah nilai ketaqwaan diuji dengan cara yang paling nyata.
Bulan Syaban mengajarkan pelajaran penting tentang hal itu. Ia dikenal sebagai bulan kabar gembira, bulan yang menghadirkan kegembiraan batin sekaligus kesempatan membersihkan hati. Melalui istigfar, doa, dan munajat, seorang mukmin diajak menyiapkan diri memasuki lautan rahmat Ramadan. Persiapan itu bukan sekadar memperbanyak ibadah, melainkan menata kembali orientasi hidup: kepada siapa hati ini sesungguhnya tertuju.
Dalam salah satu doa yang sangat masyhur di bulan Syaban terdapat permohonan yang begitu mendalam:
إِلَهِي هَبْ لِي كَمَالَ الْاِنْقِطَاعِ إِلَيْكَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keterputusan yang sempurna menuju-Mu”
Doa itu dilanjutkan dengan permohonan lain yang tak kalah indah:
هَبْ لِي قَلْبًا يُدْنِيهِ مِنْكَ شَوْقُهُ وَلِسَانًا يَرْفَعُهُ إِلَيْكَ صِدْقُهُ
“Anugerahkanlah kepadaku hati yang kerinduannya mendekatkannya kepada-Mu, dan lisan yang kejujurannya mengangkatnya kepada-Mu”
Kalimat-kalimat itu bukan sekadar rangkaian doa yang dibaca selepas shalat. Ia adalah peta perjalanan manusia. Hati diminta dipenuhi kerinduan kepada Tuhan, sementara lisan diminta selalu berpihak pada kejujuran. Dua hal inilah yang sering kali menghilang ketika manusia memasuki ruang kekuasaan.
Namun jika ditarik lebih jauh, doa-doa Syaban sesungguhnya sedang membangun karakter seorang pemimpin. Seorang yang benar-benar merindukan kedekatan dengan Allah tidak akan mudah menjual integritas demi jabatan. Lisan yang dibangun di atas kejujuran tidak akan ringan mengucapkan fitnah, menyebarkan kebencian, atau memutarbalikkan fakta demi keuntungan politik.
Karena itu, ketika hari-hari Syaban mulai berakhir, doa berikut terasa begitu menyentuh:
اَللّٰهُمَّ إِنْ لَمْ تَكُنْ غَفَرْتَ لَنَا فِيمَا مَضَى مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ فَاغْفِرْ لَنَا فِيمَا بَقِيَ مِنْهُ
“Ya Allah, jika Engkau belum mengampuni kami pada hari-hari Syaban yang telah berlalu, maka ampunilah kami pada hari-hari yang masih tersisa”
Doa ini mengandung kesadaran bahwa kesempatan selalu lebih sedikit daripada waktu yang telah hilang. Yang tersisa mungkin hanya beberapa hari, tetapi rahmat Allah tetap terbuka. Pesan itu tidak hanya berlaku dalam ibadah pribadi, melainkan juga dalam kehidupan sosial. Selalu ada kesempatan memperbaiki diri sebelum semuanya terlambat.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih luas: bagaimana seharusnya moral bekerja dalam politik?
Islam tidak mengenal pemisahan antara akhlak pribadi dan akhlak publik. Larangan berdusta, menggunjing, memfitnah, atau menzalimi orang lain tidak berubah hanya karena seseorang sedang berkampanye, berdebat, atau memegang jabatan. Yang haram di rumah tetap haram di parlemen. Yang tercela dalam kehidupan sehari-hari tetap tercela di panggung politik.
Sering kali masyarakat memaklumi perilaku yang sebenarnya merusak hanya karena dilakukan demi kepentingan politik. Kebohongan diberi nama “narasi”. Fitnah dibungkus sebagai “strategi komunikasi”. Adu domba dipoles menjadi “manuver”. Pergeseran istilah itu membuat orang lupa bahwa nilai moral tidak pernah berubah hanya karena konteksnya berubah.
Dalam tradisi Islam, ukuran keberhasilan politik bukan semata kemenangan, melainkan juga cara mencapainya. Sebab kemenangan yang lahir dari pelanggaran moral akan meninggalkan luka yang jauh lebih panjang daripada masa jabatan itu sendiri.
Di sinilah relevansi ucapan Imam Ali bin Abi Thalib a.s yang sangat terkenal:
لَوْلَا التُّقَى لَكُنْتُ أَدْهَى الْعَرَبِ
“Seandainya bukan karena takwa, niscaya aku menjadi orang Arab yang paling cerdik dan paling licik”
Kalimat itu mengandung paradoks yang menarik. Imam Ali a.s tidak mengatakan dirinya tidak mampu menggunakan kelicikan. Sebaliknya, beliau menegaskan bahwa kemampuan itu ada, tetapi takwa menjadi rem yang menghalanginya.
Artinya, kecerdasan tanpa takwa dapat berubah menjadi kelicikan. Kepandaian berbicara bisa berubah menjadi manipulasi. Kemampuan menyusun strategi bisa menjelma tipu daya. Yang membedakan seorang pemimpin bermoral dengan seorang oportunis bukanlah tingkat kecerdasannya, melainkan sejauh mana ia bersedia membatasi dirinya demi nilai yang lebih tinggi.
Dalam konteks yang lebih luas, masyarakat modern justru sangat membutuhkan pemimpin dengan kemampuan “menahan diri”. Dunia hari ini dipenuhi orang-orang yang mampu melakukan banyak hal, tetapi sedikit yang mau mengatakan, “Saya bisa melakukannya, tetapi saya memilih tidak melakukannya karena itu tidak benar.”
Di situlah takwa menunjukkan maknanya yang paling konkret. Ia bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan untuk menolak jalan pintas ketika jalan itu melanggar hati nurani.
Pada akhirnya, Syaban mengajarkan bahwa perjalanan menuju Ramadan bukan sekadar memperbanyak amal ibadah. Ia adalah latihan menyucikan hati agar manusia mampu membawa cahaya itu ke seluruh ruang kehidupannya, termasuk ruang kekuasaan. Sebab politik yang kehilangan takwa hanya akan melahirkan kemenangan yang rapuh. Sebaliknya, ketika kekuasaan dipandu oleh hati yang jujur dan lisan yang benar, politik kembali menjadi jalan pengabdian, bukan sekadar perebutan kepentingan.
Barangkali, di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin bising oleh propaganda dan persaingan, doa-doa Syaban mengingatkan kita pada satu hal yang paling mendasar: kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan lawan, melainkan menjaga hati agar tetap dekat dengan Tuhan.







