Muhasabah Para Pemimpin: Ketika Kekuatan Bertindak Lebih Penting daripada Sekadar Niat Baik

KHAMENEI.ID– Setiap akhir tahun, setiap pergantian jabatan, atau setiap kali sebuah program selesai dijalankan, kita sering mendengar laporan keberhasilan. Angka-angka dipamerkan, capaian dirinci, dan daftar prestasi disusun dengan rapi. Semua itu memang penting. Namun ada satu pertanyaan yang sering luput diajukan: apakah keberhasilan itu sudah cukup membuat kita puas?

Pertanyaan inilah yang sebenarnya berada di jantung tradisi muhasabah dalam Islam. Muhasabah bukan sekadar menghitung keberhasilan, melainkan keberanian untuk mengukur kekurangan diri sendiri secara jujur. Dan menariknya, muhasabah bukan hanya tugas individu. Sebuah kelompok, lembaga, pemerintahan, bahkan seluruh pemegang amanah publik juga dituntut melakukan hal yang sama.

Dalam sebuah nasihat yang mendalam, ditegaskan bahwa sebagaimana seseorang harus menghitung dirinya sendiri, sebuah majelis, pemerintah, dan para pejabat negara juga wajib melakukan perhitungan terhadap dirinya. Mereka boleh bersyukur atas berbagai capaian yang telah diraih. Syukur memang perlu. Tetapi syukur tidak boleh berubah menjadi rasa puas yang membutakan.

Di sinilah letak persoalannya. Manusia sering sangat teliti ketika menilai kesalahan orang lain, tetapi menjadi lunak ketika berhadapan dengan kesalahannya sendiri. Kita mudah menemukan kekurangan lawan, kolega, bahkan tetangga. Kita mengkritik dengan tajam, mengoreksi dengan rinci, dan menuntut standar yang tinggi. Namun saat giliran menilai diri sendiri, sering kali kita memberikan banyak dispensasi.

Padahal keadilan sejati dimulai dari keberanian menempatkan diri sendiri di bawah standar yang sama.

Muhasabah yang sehat tidak lahir dari rasa rendah diri, melainkan dari kesadaran bahwa selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik. Karena itu, keberhasilan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bertumbuh. Prestasi tidak boleh berubah menjadi selimut yang menutupi berbagai kelalaian dan kekurangan.

Baca Juga  Ketika Ali Menangisi Sahabat-Sahabatnya: Kesepian Seorang Pemimpin di Tengah Umat yang Lelah

Kesadaran semacam ini semakin relevan di era modern. Dunia hari ini dipenuhi budaya pencitraan. Media sosial mendorong orang untuk menampilkan keberhasilan dan menyembunyikan kegagalan. Institusi berlomba membangun reputasi. Para pemimpin sibuk menjaga citra. Akibatnya, evaluasi sering berubah menjadi pertunjukan, bukan proses perbaikan.

Muhasabah menawarkan jalan yang berbeda. Ia mengajak manusia melihat dirinya tanpa riasan. Bukan untuk menghukum diri, tetapi untuk mengenali titik-titik yang masih perlu diperbaiki.

Menariknya, dalam nasihat tersebut terdapat sebuah doa yang diambil dari Doa Kumail, salah satu doa yang sangat dikenal dalam tradisi Islam:

قَوِّ عَلَى خِدْمَتِكَ جَوَارِحِي وَاشْدُدْ عَلَى الْعَزِيمَةِ جَوَانِحِي

“Ya Allah, kuatkan anggota tubuhku untuk berkhidmat kepada-Mu dan teguhkan hatiku dalam tekad yang kuat.”

Kalimat ini tampak sederhana, tetapi menyimpan pelajaran besar tentang kepemimpinan dan kehidupan.

Biasanya manusia berdoa meminta hasil. Meminta kesuksesan, kemenangan, atau kemudahan. Namun doa ini justru meminta sesuatu yang lebih mendasar: kekuatan untuk bekerja dan keteguhan untuk bertekad.

Seolah-olah doa tersebut mengajarkan bahwa masalah terbesar manusia bukan selalu kurangnya kesempatan, melainkan kurangnya daya untuk menjalankan apa yang sudah diketahuinya benar.

Banyak orang tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya secara konsisten. Banyak pemimpin memahami solusi sebuah masalah, tetapi kehilangan keberanian untuk mengambil keputusan. Banyak masyarakat menginginkan perubahan, tetapi menyerah sebelum perjuangan dimulai.

Karena itulah doa ini tidak meminta jalan yang mudah. Ia meminta otot yang kuat untuk berjalan di jalan yang benar dan hati yang kokoh untuk tetap bertahan ketika jalan itu terasa berat.

Lebih jauh lagi, Doa Kumail menggambarkan manusia sebagai makhluk yang hidup dari harapan. Dalam salah satu bagian doanya disebutkan:

Baca Juga  Ratapan Langit di Kufah dan Hilangnya Wajah Keadilan 

“Wahai Dzat yang nama-Nya adalah obat, yang mengingat-Nya adalah kesembuhan, dan yang menaati-Nya adalah kekayaan sejati. Kasihanilah orang yang modalnya hanya harapan dan senjatanya hanya tangisan.”

Kalimat ini menghadirkan gambaran yang sangat manusiawi. Pada akhirnya, sehebat apa pun jabatan seseorang, sebanyak apa pun kekuasaannya, ia tetap seorang manusia yang memiliki keterbatasan. Ada saat ketika pengalaman tidak cukup, strategi tidak cukup, bahkan kekuatan tidak cukup. Pada titik itu, yang tersisa hanyalah harapan kepada Tuhan.

Kesadaran semacam ini justru melahirkan kerendahan hati. Seorang pemimpin yang menyadari keterbatasannya akan lebih terbuka terhadap kritik. Sebaliknya, pemimpin yang merasa dirinya sempurna biasanya berhenti belajar dan perlahan kehilangan arah.

Dalam kehidupan sehari-hari, pesan ini tidak hanya berlaku bagi pejabat atau pemegang kekuasaan. Setiap orang adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Setiap orang memiliki wilayah tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan. Keluarga, pekerjaan, organisasi, bahkan cara kita menggunakan waktu adalah amanah yang menuntut evaluasi terus-menerus.

Muhasabah bukanlah ritual tahunan. Ia adalah kebiasaan harian. Sebuah keberanian untuk bertanya sebelum tidur: apa yang sudah saya lakukan dengan benar hari ini? Apa yang masih harus diperbaiki? Siapa yang telah saya bantu? Siapa yang mungkin saya sakiti?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sering kali lebih berharga daripada seribu pujian.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa panjang daftar prestasi yang dapat kita tunjukkan kepada orang lain. Ukuran keberhasilan adalah seberapa jujur kita berhadapan dengan diri sendiri. Sebab manusia yang terus mengoreksi dirinya akan selalu menemukan jalan untuk bertumbuh. Sedangkan mereka yang merasa sudah cukup biasanya mulai berhenti bergerak.

Mungkin karena itulah doa yang paling penting bukanlah doa untuk menjadi besar, melainkan doa agar diberi kekuatan untuk terus memperbaiki diri. Kekuatan untuk bertindak. Kekuatan untuk bertekad. Dan keberanian untuk melihat kekurangan diri sendiri sebelum sibuk menghitung kesalahan orang lain.

Baca Juga  Diam di Hadapan Kezaliman: Mengapa Imam Husain Mengajarkan bahwa Netralitas Bisa Menjadi Dosa
Bagikan:
Terkait
Komentar