KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa, sebuah komunitas, bahkan seorang individu diuji bukan oleh kekurangan sumber daya, melainkan oleh ketakutan. Ketakutan terhadap ancaman, tekanan, propaganda, atau masa depan yang tampak tidak pasti. Dalam situasi seperti itu, yang menentukan bukan lagi seberapa besar kekuatan lahiriah yang dimiliki, melainkan seberapa kokoh hati yang menopangnya.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh gejolak, keteguhan hati menjadi barang langka. Banyak orang mudah terguncang oleh berita buruk, mudah terpancing oleh provokasi, dan mudah kehilangan harapan ketika keadaan tidak sesuai harapan. Namun sejarah menunjukkan bahwa ada kalanya manusia mampu berdiri tegak di tengah badai. Mereka tidak bergerak karena ancaman musuh, tidak gentar oleh wajah muram kekuasaan, dan tidak pula terlena oleh janji-janji yang meninabobokan.
Dalam perspektif spiritual Islam, keadaan seperti itu bukan semata-mata hasil latihan mental atau kecerdasan strategi. Ada dimensi yang lebih dalam: rahmat dan pertolongan Tuhan yang bekerja di balik berbagai sebab yang tampak.
Ketika seseorang mendapati dirinya tetap tenang saat orang lain panik, tetap optimistis saat banyak yang putus asa, atau tetap teguh saat tekanan datang bertubi-tubi, mungkin ada sesuatu yang sedang bekerja di balik layar kehidupan. Sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, tetapi terasa oleh hati. Tradisi Islam menyebutnya sebagai limpahan rahmat Ilahi.
Pandangan inilah yang tampak dalam Doa Kelima Sahifah Sajadiyah, kumpulan doa yang diwariskan oleh Imam Zainal Abidin; Imam Sajjad a.s. Karya spiritual ini tidak hanya berisi munajat, tetapi juga menyimpan pandangan hidup yang mendalam tentang hubungan manusia dengan kekuatan Tuhan.
Dalam salah satu bagian doanya, Imam Sajjad a.s memohon:
اللَّهُمَّ إِنَّمَا يَكْتَفِی الْمُكْتَفُونَ بِفَضْلِ قُوَّتِكَ … وَإِنَّمَا يَهْتَدِی الْمُهْتَدُونَ بِنُورِ وَجْهِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya mereka yang merasa cukup hanyalah karena karunia kekuatan-Mu. Mereka yang memberi hanyalah karena limpahan anugerah-Mu. Dan mereka yang memperoleh petunjuk hanyalah karena cahaya-Mu”
Kalimat ini menyentuh satu ilusi besar yang sering menyelimuti manusia modern: perasaan bahwa dirinya berdiri sendiri. Kita terbiasa mengagungkan kemampuan pribadi, kecerdasan, koneksi sosial, atau kekuatan ekonomi. Padahal doa ini mengingatkan bahwa semua kemampuan itu hanyalah cabang dari sumber yang lebih besar.
Orang yang merasa kuat, sebenarnya sedang menikmati setetes dari lautan kekuatan Allah Ta’ala. Orang yang mampu memberi kepada sesama, sejatinya sedang menyalurkan sebagian kecil dari karunia yang lebih dahulu diberikan kepadanya. Bahkan petunjuk dan kejernihan berpikir yang dimiliki seseorang bukan sepenuhnya hasil usaha intelektualnya, melainkan cahaya yang diizinkan Tuhan masuk ke dalam hatinya.
Kesadaran semacam ini melahirkan sebuah sikap yang unik. Ia membuat manusia percaya diri tanpa menjadi sombong. Ia membuat seseorang berani menghadapi tantangan tanpa merasa dirinya pusat dari segala sesuatu.
Karena itu, doa tersebut tidak berhenti pada pengakuan teologis semata. Imam Sajjad a.s melanjutkan dengan permohonan yang sangat relevan bagi kehidupan manusia sepanjang zaman:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ، وَ اكْفِنَا حَدَّ نَوَائِبِ الزَّمَانِ، وَ شَرَّ مَصَايِدِ الشَّيْطَانِ، وَ مَرَارَةَ صَوْلَةِ السُّلْطَانِ
“Ya Allah, lindungilah kami dari kerasnya bencana zaman, dari jebakan-jebakan setan, dan dari pahitnya penindasan kekuasaan”
Kalimat ini terasa sangat aktual. Bencana zaman hari ini mungkin berbentuk krisis ekonomi, banjir informasi, polarisasi sosial, atau kecemasan kolektif yang terus diproduksi oleh media dan teknologi. Jebakan setan tidak selalu hadir dalam bentuk godaan yang vulgar, tetapi juga dalam bentuk keputusasaan, kebencian, dan hilangnya arah hidup. Adapun kekuasaan yang menindas bisa muncul dalam berbagai wajah, mulai dari tekanan politik hingga sistem sosial yang membuat manusia kehilangan martabatnya.
Namun menariknya, doa ini tidak mengajarkan kepasrahan yang pasif. Sebaliknya, ia membangun fondasi psikologis yang kuat. Seseorang yang percaya bahwa sumber kecukupan, pemberian, dan petunjuk berasal dari Tuhan tidak akan mudah dihancurkan oleh situasi eksternal.
Inilah yang kemudian dijelaskan dalam bagian berikutnya:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ مَنْ وَالَيْتَ لَمْ يَضْرُرْهُ خِذْلَانُ الْخَاذِلِينَ
“Ya Allah, siapa yang Engkau lindungi tidak akan dirugikan oleh pengkhianatan orang-orang yang meninggalkannya”
Doa itu seakan ingin mengatakan bahwa kegagalan terbesar bukanlah kehilangan dukungan manusia, melainkan kehilangan hubungan dengan Tuhan. Sebaliknya, ketika hubungan itu tetap terjaga, berbagai kehilangan lain tidak lagi memiliki daya rusak yang sama.
Di sinilah letak rahasia keteguhan hati. Bukan karena ancaman menjadi lebih kecil, melainkan karena jiwa menjadi lebih besar daripada ancaman itu sendiri.
Manusia yang hanya bersandar pada kekuatan materi akan runtuh ketika materi itu hilang. Manusia yang hanya bertumpu pada pujian orang lain akan goyah ketika pujian berubah menjadi celaan. Tetapi manusia yang menemukan sandaran pada Tuhan memiliki pusat gravitasi yang lebih stabil. Ia tidak mudah terbang karena sanjungan, dan tidak mudah jatuh karena tekanan.
Dalam kehidupan sehari-hari, pelajaran ini terasa sangat relevan. Saat karier tidak berjalan sesuai rencana, ketika usaha menghadapi kesulitan, atau ketika keadaan sosial dipenuhi ketidakpastian, manusia membutuhkan sesuatu yang lebih kokoh daripada sekadar optimisme kosong. Ia membutuhkan keyakinan bahwa ada hikmah, bimbingan, dan kekuatan yang bekerja di balik segala peristiwa.
Mungkin itulah sebabnya doa-doa Sahifah Sajadiyah tetap hidup melintasi abad. Ia tidak hanya mengajarkan cara berbicara kepada Tuhan, tetapi juga cara memandang dunia. Dunia yang penuh gejolak, namun tidak perlu membuat manusia kehilangan harapan.
Sebab pada akhirnya, keteguhan hati bukanlah kemampuan untuk mengendalikan seluruh keadaan. Keteguhan hati adalah kemampuan untuk tetap berdiri ketika keadaan tidak dapat dikendalikan. Dan menurut Imam Sajjad a.s, kemampuan itu lahir ketika manusia menyadari satu hal sederhana: kekuatan terbesar yang menopang hidupnya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Tuhan yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.







