Warisan Para Nabi: Mengapa Melawan Thaghut Bukan Pilihan, Melainkan Tugas

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang terus berulang dalam sejarah: agama sebaiknya mengurus urusan pribadi, sementara persoalan ketidakadilan, penindasan, dan kekuasaan biarlah menjadi urusan dunia. Agama cukup berbicara tentang ibadah, halal-haram, atau hubungan manusia dengan Tuhan. Namun, jika kita menengok perjalanan para nabi, gambaran itu segera runtuh.

Sebab para nabi tidak pernah hanya menjadi penyampai nasihat moral yang aman dan nyaman. Mereka hadir di tengah masyarakat yang penuh ketimpangan, lalu berdiri berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang menindas manusia. Mereka bukan sekadar pengajar, melainkan pembebas.

Karena itulah sebuah hadis terkenal menyebut:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi”

Hadis yang diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq a.s itu menjelaskan bahwa para nabi tidak mewariskan emas dan perak. Mereka meninggalkan ilmu, nilai, dan jalan perjuangan. Siapa yang mengambil bagian dari warisan itu, sesungguhnya telah memperoleh harta yang jauh lebih berharga daripada kekayaan materi.

Namun pertanyaannya: warisan seperti apa yang sebenarnya diwariskan para nabi?

Banyak orang membayangkan bahwa tugas kenabian hanya menyampaikan hukum-hukum agama. Padahal, jika misi mereka sebatas menjelaskan mana yang halal dan mana yang haram, mungkin sejarah tidak akan dipenuhi kisah pengusiran, penyiksaan, bahkan pembunuhan para nabi.

Al-Qur’an menggambarkan para pembawa risalah itu dengan kalimat yang sangat menarik:

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ

“Mereka menyampaikan risalah-risalah Allah, takut hanya kepada-Nya, dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah” (QS. Al-Ahzab: 39)

Ayat ini mengandung pertanyaan yang patut direnungkan. Jika tugas para nabi hanya menyampaikan beberapa aturan ibadah, mengapa Al-Qur’an perlu menekankan keberanian mereka? Mengapa mereka dipuji karena tidak takut kepada manusia?

Baca Juga  Kebangkitan Islam atau Perpecahan Umat? Pelajaran Besar dari Warisan Nabi untuk Dunia Modern

Keberanian hanya diperlukan ketika seseorang berhadapan dengan kekuasaan yang merasa terusik.

Para nabi datang membawa pesan yang mengguncang struktur ketidakadilan. Mereka menyerukan kesetaraan di tengah masyarakat yang membangun hierarki penindasan. Mereka membela kaum lemah ketika para penguasa menikmati privilese. Mereka mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang berhak menjadi tuhan bagi manusia lain.

Karena itu, jalan kenabian selalu beririsan dengan perlawanan.

Al-Qur’an bahkan mengingatkan:

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا

“Betapa banyak nabi yang berjuang bersama sejumlah besar orang-orang saleh. Mereka tidak menjadi lemah karena musibah yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak menyerah, dan tidak pula tunduk” (QS. Ali Imran: 146)

Ayat ini menunjukkan bahwa risalah bukan sekadar wacana. Ada perjuangan, pengorbanan, bahkan pertarungan panjang melawan kekuatan yang menghalangi tegaknya kebenaran.

Di sinilah muncul konsep yang sering disalahpahami: thaghut.

Banyak orang membayangkan thaghut hanya sebagai berhala batu yang disembah masyarakat kuno. Padahal Al-Qur’an dan tradisi Islam memandang thaghut jauh lebih luas. Thaghut adalah segala bentuk kekuatan yang melampaui batas, merasa berhak menguasai manusia, dan memaksa orang lain tunduk pada kesombongannya.

Berhala batu tidak pernah menindas siapa pun. Yang berbahaya adalah manusia yang menggunakan simbol, kekuasaan, ideologi, atau bahkan agama untuk menuhankan dirinya sendiri.

Karena itu, contoh paling nyata dari thaghut dalam Al-Qur’an adalah Fir’aun.

Tentang dirinya, Allah berfirman:

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِّنْهُمْ

“Sesungguhnya Fir’aun berlaku sewenang-wenang di bumi dan memecah belah penduduknya menjadi kelompok-kelompok, lalu menindas sebagian dari mereka” (QS. Al-Qashash: 4)

Baca Juga  Ali bin Abi Thalib dan Standar Kepemimpinan Islam: Ketika Semua Kriteria Berkumpul pada Satu Sosok

Perhatikan ciri-cirinya: kesombongan kekuasaan, politik pecah-belah, dan penindasan terhadap kelompok lemah. Gambaran itu terasa sangat akrab, bahkan di zaman modern.

Mungkin nama Fir’aun telah hilang dari panggung sejarah, tetapi wataknya terus muncul dalam berbagai bentuk. Kadang hadir dalam sistem yang menghisap rakyat kecil. Kadang dalam propaganda yang menyesatkan publik. Kadang dalam kekuasaan yang menganggap kritik sebagai ancaman. Bahkan kadang muncul dalam diri manusia ketika ego merasa paling benar dan menolak kebenaran.

Karena itulah perjuangan melawan thaghut tidak pernah berakhir.

Perlawanan itu bukan semata-mata perlawanan fisik. Ia bisa berupa keberanian mengatakan yang benar di tengah tekanan. Ia bisa berupa pembelaan terhadap orang yang diperlakukan tidak adil. Ia bisa berupa upaya menjaga akal sehat ketika kebohongan diproduksi secara massal. Ia juga bisa berupa perjuangan melawan keserakahan dan kesombongan yang bersemayam dalam diri sendiri.

Di titik ini, makna hadis “ulama adalah pewaris para nabi” menjadi jauh lebih berat daripada yang sering dibayangkan. Menjadi pewaris nabi bukan sekadar menghafal teks atau menguasai hukum-hukum agama. Warisan itu menuntut keberanian moral.

Baik laki-laki maupun perempuan, Sunni maupun Syiah, siapa pun yang mengaku mengikuti jalan para nabi sesungguhnya sedang memikul amanah besar: melanjutkan perjuangan mereka dalam menegakkan keadilan dan melawan segala bentuk penyimpangan yang merendahkan martabat manusia.

Tentu setiap zaman memiliki bentuk thaghutnya sendiri. Karena itu, setiap generasi harus mampu mengenalinya dengan jernih. Sebab musuh terbesar sering kali tidak tampil dengan wajah yang menakutkan. Ia datang dengan pakaian yang tampak sah, populer, bahkan terkadang religius.

Mungkin di situlah relevansi pesan para nabi bagi manusia modern. Agama bukan sekadar tempat berlindung dari kegelisahan hidup. Agama adalah sumber keberanian untuk menghadapi ketidakadilan.

Baca Juga  Pernyataan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran dalam menanggapi surat dari Sekretaris Jenderal dan para pejuang Hizbullah

Dan warisan para nabi bukanlah koleksi cerita masa lalu. Ia adalah panggilan yang terus hidup: agar manusia tidak pernah diam ketika kebenaran diinjak, dan tidak pernah tunduk kepada apa pun yang menjadikan dirinya lebih tinggi daripada Tuhan.

Bagikan:
Terkait
Komentar