Ketika Umur Ditanya: Untuk Apa Kita Sebenarnya Bekerja?

KHAMENEI.ID– Ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar kita ajukan kepada diri sendiri di tengah kesibukan harian: untuk apa sebenarnya semua pekerjaan yang kita lakukan? Kita berangkat pagi, mengejar target, memenuhi tanggung jawab, mengumpulkan penghasilan, membangun reputasi, dan merancang masa depan. Namun di balik semua itu, adakah arah yang lebih dalam yang sedang kita tuju?

Di tengah budaya yang mengukur keberhasilan dari pencapaian yang terlihat, ada sebuah doa tua yang menawarkan cara pandang berbeda. Doa itu berasal dari Sahifah Sajadiyah, kumpulan munajat yang diwariskan oleh Imam Zainal Abidin a.s. Salah satu penggalannya berbunyi:

وَاسْتَعْمِلْنِي بِمَا تَسْأَلُنِي غَدًا عَنْهُ

“Ya Allah, gunakanlah aku untuk melakukan hal-hal yang kelak akan Engkau tanyakan kepadaku pada Hari Esok”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengguncang. Sebab ia mengubah cara kita memandang pekerjaan, waktu, dan kehidupan itu sendiri. Fokusnya bukan lagi pada apa yang kita sukai, melainkan pada apa yang suatu hari akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam doa yang sama, Imam Sajjad a.s memohon:

وَاسْتَفْرِغْ أَيَّامِي فِيمَا خَلَقْتَنِي لَهُ

“Penuhilah hari-hari usiaku dengan apa yang untuknya Engkau menciptakanku”

Ada kesadaran mendalam bahwa umur bukan sekadar rentang waktu yang harus dihabiskan. Ia adalah amanah yang memiliki tujuan. Karena itu, pertanyaan terbesar bukanlah berapa lama kita hidup, melainkan untuk apa hidup itu digunakan.

Bekerja untuk Dunia, atau Bekerja untuk Makna?

Sering kali manusia terjebak dalam rutinitas yang begitu padat hingga kehilangan kesempatan untuk bertanya tentang maknanya. Kesibukan menjadi tujuan. Produktivitas menjadi identitas. Kita merasa berhasil karena kalender penuh dan daftar tugas terus bertambah.

Padahal, tidak semua kesibukan bernilai. Tidak semua pekerjaan membawa manusia mendekati tujuan penciptaannya.

Baca Juga  Akhlak Mulia dan Cinta Masyarakat: Ketika Perilaku Menjadi Wajah Islam

Doa tersebut mengajarkan perspektif yang berbeda. Yang penting bukan hanya bekerja, melainkan bekerja pada hal-hal yang memiliki nilai abadi. Melakukan sesuatu yang kelak layak dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Dalam perspektif ini, seorang guru yang mendidik murid dengan tulus, seorang pedagang yang jujur, seorang pemimpin yang melayani rakyat, seorang pekerja yang menunaikan tugasnya dengan amanah, semuanya sedang melakukan pekerjaan yang melampaui sekadar aktivitas ekonomi. Mereka sedang membangun bekal untuk masa depan yang lebih panjang daripada usia dunia.

Karena itu, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada promosi jabatan atau pertumbuhan kekayaan. Ada ukuran lain yang lebih sunyi: seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan, seberapa banyak kebaikan yang mengalir melalui tangan kita, dan seberapa dekat pekerjaan kita dengan tujuan penciptaan manusia.

Bahaya yang Datang Bersama Kesuksesan

Menariknya, doa ini tidak hanya berbicara tentang amal dan tanggung jawab. Ia juga mengingatkan tentang jebakan yang sering menyertai keberhasilan.

Di dalamnya terdapat permohonan:

وَأَعِزَّنِي وَلَا تَبْتَلِيَنِّي بِالْكِبْرِ

“Muliakanlah aku, tetapi jangan Engkau uji aku dengan kesombongan”

Betapa sering manusia mampu menghadapi kesulitan, tetapi gagal menghadapi keberhasilan. Ketika posisi naik, penghargaan datang, dan nama mulai dikenal, perlahan muncul perasaan bahwa semua itu murni hasil usahanya sendiri.

Kesombongan adalah penyakit yang halus. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk kata-kata keras atau perilaku angkuh. Kadang ia hadir sebagai keyakinan tersembunyi bahwa kita lebih penting daripada orang lain.

Karena itulah doa tersebut melanjutkan permohonan yang sangat indah:

وَلَا تَرْفَعْنِي فِي النَّاسِ دَرَجَةً إِلَّا حَطَطْتَنِي عِنْدَ نَفْسِي مِثْلَهَا

“Janganlah Engkau tinggikan derajatku di hadapan manusia kecuali Engkau rendahkan diriku di hadapan diriku sendiri dengan kadar yang sama”

Baca Juga  Ilmu adalah Kekuatan: Mengapa Bangsa yang Tertinggal Akan Selalu Rentan?

Ini bukan ajaran untuk merendahkan diri secara berlebihan. Ini adalah upaya menjaga keseimbangan batin. Semakin tinggi seseorang di mata publik, semakin besar kebutuhannya untuk mengingat keterbatasan dirinya.

Dunia modern sering mendorong manusia untuk membangun citra. Media sosial menjadikan pengakuan sebagai komoditas. Popularitas seolah menjadi bukti keberhasilan. Namun doa ini mengingatkan bahwa yang paling berbahaya bukanlah rendahnya penilaian orang lain, melainkan tingginya penilaian kita terhadap diri sendiri.

Menjadi Jalan Mengalirnya Kebaikan

Bagian lain dari doa tersebut memuat harapan yang sangat menyentuh:

وَأَجْرِ لِلنَّاسِ عَلَى يَدَيَّ الْخَيْرَ

“Jadikanlah kebaikan mengalir kepada manusia melalui tanganku”

Perhatikan pilihan katanya. Bukan meminta menjadi pemilik kebaikan, melainkan menjadi jalan bagi kebaikan.

Di sinilah letak kerendahan hati yang sejati. Manusia tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat segala sesuatu. Ia hanya menjadi perantara. Jika ada manfaat yang lahir dari ilmunya, hartanya, tenaganya, atau kedudukannya, semua itu dipandang sebagai karunia yang dititipkan kepadanya.

Cara pandang seperti ini membuat hidup terasa lebih ringan. Kita tidak lagi sibuk mengejar pujian. Yang penting adalah apakah keberadaan kita membuat dunia sedikit lebih baik daripada sebelumnya.

Barangkali itulah makna terdalam dari bekerja untuk akhirat. Bukan meninggalkan dunia, bukan pula mengabaikan tanggung jawab sehari-hari. Justru sebaliknya. Kita tetap bekerja, berkarya, dan berkontribusi. Namun semuanya dilakukan dengan kesadaran bahwa setiap jam kehidupan memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar keuntungan sesaat.

Pada akhirnya, umur adalah modal yang terus berkurang. Setiap hari yang berlalu tidak pernah kembali. Dan mungkin pertanyaan terbesar yang akan menunggu setiap manusia bukanlah seberapa banyak yang ia miliki, melainkan apa yang telah ia lakukan dengan apa yang telah dipercayakan kepadanya.

Baca Juga  Berpikir dan Akhlak: Dua Krisis Besar Manusia Modern

Karena itu, doa Imam Sajjad a.s terasa relevan di setiap zaman: semoga kita diberi kesempatan untuk menghabiskan usia pada hal-hal yang benar-benar layak ditanyakan kelak, dan layak dipertanggungjawabkan dengan tenang ketika seluruh kesibukan dunia telah berakhir.

Bagikan:
Terkait
Komentar