KHAMENEI.ID– Ada satu godaan besar yang kerap menyelinap dalam kehidupan modern: mencampuradukkan prinsip dengan perasaan pribadi. Kita mudah memaafkan orang yang kita sukai meski ia salah, dan mudah membenci orang yang tidak kita sukai meski ia benar. Akibatnya, ukuran benar dan salah sering bergeser mengikuti kedekatan, kepentingan, atau sentimen sesaat.
Di tengah kecenderungan itu, sejarah menghadirkan sosok-sosok yang memiliki standar berbeda. Mereka tidak menjadikan ego sebagai kompas, melainkan nilai dan keyakinan. Salah satu contoh yang sering disebut adalah Imam Khomeini qs. Bukan semata karena pengaruh politiknya yang besar, melainkan karena cara beliau membangun hubungan dengan manusia: siapa yang dirangkul dan siapa yang ditolak, semuanya diukur dengan prinsip, bukan perasaan.
Di sinilah letak pelajaran penting tentang apa yang dalam tradisi Islam disebut sebagai jadzabah dan dafi’ah; daya tarik dan daya tolak.
Setiap manusia memiliki keduanya. Dengan perilaku tertentu, seseorang dapat menarik simpati orang lain. Pada saat yang sama, sikap yang sama bisa membuat orang lain menjauh. Namun pada tokoh-tokoh besar, lingkup pengaruh itu menjadi jauh lebih luas. Mereka dicintai oleh kelompok yang besar, sekaligus ditentang oleh kelompok yang tidak sedikit.
Imam Khomeini qs termasuk figur yang memiliki daya tarik dan daya tolak yang sangat kuat. Banyak orang mencintainya dengan penuh penghormatan, sementara sebagian lain menentangnya dengan keras. Tetapi yang menarik bukanlah besar-kecilnya pengaruh itu. Yang menarik adalah ukuran yang beliau gunakan.
Ukuran itu bukan kepentingan pribadi, bukan hubungan keluarga, bukan keuntungan politik, melainkan Islam sebagai prinsip hidup.
Pandangan ini memiliki akar yang dalam pada ajaran Islam. Salah satu rujukannya dapat ditemukan dalam Doa ke-44 Shahifah Sajjadiyah, doa yang dibaca Imam Sajjad a.s saat menyambut bulan Ramadan. Doa ini bukan sekadar rangkaian permohonan spiritual. Ia merupakan gudang pengetahuan moral dan sosial yang sangat kaya.
Dalam salah satu bagian doa tersebut, Imam Sajjad a.s memohon kepada Allah agar diberi kemampuan memperbaiki hubungan dengan sesama. Beliau berdoa:
وَ أَنْ نُرَاجِعَ مَنْ هَاجَرَنَا، وَ أَنْ نُنْصِفَ مَنْ ظَلَمَنَا، وَ أَنْ نُسَالِمَ مَنْ عَادَانَا
“Ya Allah, berilah kami kemampuan untuk kembali menyambung hubungan dengan orang yang memutus hubungan dengan kami, berlaku adil kepada orang yang menzalimi kami, dan berdamai dengan orang yang memusuhi kami”
Kalimat ini menggambarkan tingkat kedewasaan spiritual yang luar biasa. Hubungan yang putus harus disambung. Kezaliman tidak dibalas dengan kezaliman. Bahkan musuh sekalipun diajak menuju perdamaian.
Namun doa itu tidak berhenti di sana.
Imam Sajjad a.s melanjutkan:
حَاشَى مَنْ عُودِيَ فِيكَ وَ لَكَ، فَإِنَّهُ الْعَدُوُّ الَّذِي لَا نُوَالِيهِ، وَ الْحِزْبُ الَّذِي لَا نُصَافِيهِ
“Kecuali mereka yang dimusuhi karena-Mu dan demi-Mu. Terhadap musuh seperti itu kami tidak menjalin loyalitas dan tidak pula berdamai dalam prinsip.”
Di sinilah garis pembatas yang sering kabur dalam kehidupan sehari-hari.
Islam mengajarkan kasih sayang, tetapi bukan tanpa batas. Islam mendorong perdamaian, tetapi bukan dengan mengorbankan kebenaran. Islam mengajarkan toleransi, tetapi bukan berarti menghapus kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah.
Pesan doa ini sesungguhnya sangat relevan untuk zaman sekarang. Kita hidup di era ketika banyak orang merasa harus selalu bersikap netral terhadap segala hal. Semua dianggap relatif. Semua dianggap sekadar perbedaan sudut pandang.
Padahal ada nilai-nilai yang memang tidak boleh dinegosiasikan. Kejujuran, keadilan, kemanusiaan, dan kebenaran bukan sekadar preferensi pribadi. Ada saat ketika seseorang harus berdiri tegak membela prinsip meski berisiko kehilangan popularitas atau dukungan.
Dalam konteks itulah sikap Imam Khomeini qs menjadi menarik. Beliau tidak dikenal sebagai pribadi yang memelihara dendam personal. Jika ada persoalan pribadi, beliau dapat mengabaikannya. Namun ketika menyangkut prinsip dan keyakinan yang dianggap benar, sikapnya berubah sangat tegas.
Ini adalah pelajaran yang sering hilang dalam budaya digital saat ini.
Media sosial membuat banyak orang mencintai dan membenci berdasarkan identitas kelompok. Kawan selalu dianggap benar. Lawan selalu dianggap salah. Hubungan emosional menjadi ukuran utama dalam menilai realitas.
Akibatnya, kebenaran sering kalah oleh fanatisme.
Padahal ajaran yang ditunjukkan Imam Sajjad justru sebaliknya. Kita diminta berbuat baik kepada kerabat, memperhatikan tetangga, membersihkan harta dengan zakat, menyambung hubungan yang terputus, berlaku adil kepada orang yang menzalimi kita, bahkan membuka pintu damai kepada musuh. Semua itu menunjukkan betapa luasnya ruang kasih sayang dalam Islam.
Namun pada saat yang sama, Islam juga mengajarkan keteguhan prinsip. Cinta dan benci tidak boleh lahir dari ego. Keduanya harus lahir dari nilai yang diyakini benar.
Mungkin di sinilah ukuran kedewasaan seseorang sebenarnya diuji. Bukan ketika ia mampu mencintai orang yang mencintainya, tetapi ketika ia tetap adil kepada orang yang tidak disukainya. Bukan ketika ia mampu memaafkan teman dekatnya, tetapi ketika ia berani mengoreksi mereka demi kebenaran.
Dunia hari ini tidak kekurangan orang yang memiliki banyak teman atau banyak pengikut. Yang langka adalah mereka yang memiliki kompas moral yang jelas. Mereka yang mampu mencintai tanpa kehilangan prinsip, dan mampu bersikap tegas tanpa dikuasai kebencian.
Doa Imam Sajjad mengingatkan bahwa tujuan agama bukan menjadikan manusia keras hati, tetapi juga bukan menjadikannya tanpa pendirian. Agama mengajarkan keseimbangan yang sulit: hati yang lembut sekaligus prinsip yang kokoh.
Di antara dua kutub itulah manusia menjaga arah hidupnya. Sebab pada akhirnya, yang menentukan kualitas cinta dan kebencian kita bukanlah seberapa kuat perasaan itu, melainkan apa yang menjadi ukuran di baliknya.







