KHAMENEI.ID– Setiap zaman memiliki kebisingannya sendiri. Ada masa ketika kebenaran disembunyikan dengan pedang, ada masa ketika ia ditenggelamkan oleh propaganda. Di zaman kita, kebenaran sering kali dikaburkan oleh sesuatu yang lebih rumit: simbol-simbol yang tampak suci.
Di tengah situasi semacam itu, sebuah sabda Nabi Muhammad saw menjadi sangat relevan untuk direnungkan. Beliau bersabda:
عَلِيٌّ مَعَ الْحَقِّ وَالْحَقُّ مَعَ عَلِيٍّ يَدُورُ حَيْثُمَا دَارَ
“Ali bersama kebenaran, dan kebenaran bersama Ali; kebenaran berputar ke mana pun Ali berputar”
Kalimat ini bukan sekadar pujian kepada Ali bin Abi Thalib a.s. Ia adalah petunjuk tentang bagaimana mengenali kebenaran ketika suasana dipenuhi kabut kepentingan. Jika ingin mengetahui di mana kebenaran berada, lihatlah di mana Ali a.s berdiri, bagaimana ia bertindak, dan ke arah mana ia menunjuk.
Karena itu, kehidupan Ali a.s bukan hanya rangkaian peristiwa sejarah. Ia adalah kompas moral. Seluruh perjalanan hidupnya mengajarkan satu hal penting: keberanian saja tidak cukup; manusia juga membutuhkan kejernihan pandangan.
Di antara banyak keutamaan Ali a.s, ada satu sifat yang terasa sangat mendesak bagi masyarakat modern, yaitu kemampuannya membangkitkan kesadaran dan membuka mata orang-orang terhadap kenyataan yang tersembunyi. Dalam bahasa yang sering digunakan para ulama, kemampuan itu disebut bashirah atau kejernihan batin dalam melihat realitas.
Peristiwa Perang Shiffin menjadi contoh yang paling dramatis.
Ketika pasukan Muawiyah berada di ambang kekalahan, sebuah langkah tak terduga dilakukan. Mushaf-mushaf Al-Qur’an diangkat di ujung tombak. Pemandangan itu mengguncang medan perang. Banyak orang yang semula siap melanjutkan pertempuran mendadak ragu. Mereka menganggap seruan kembali kepada Al-Qur’an sebagai ajakan damai yang tulus.
Namun Ali a.s melihat sesuatu yang tidak dilihat banyak orang.
Ia memahami bahwa yang sedang dipertontonkan bukanlah penghormatan kepada Al-Qur’an, melainkan penggunaan Al-Qur’an sebagai alat politik. Dengan tegas ia memperingatkan pasukannya agar tidak tertipu oleh simbol.
Ali a.s berkata bahwa ia mengenal orang-orang itu sejak kecil hingga dewasa. Ia mengetahui watak dan perilaku mereka. Menurutnya, mereka bukanlah orang yang sungguh-sungguh tunduk kepada Al-Qur’an. Ketika terdesak, mereka menjadikan kitab suci sebagai tameng untuk menyelamatkan kepentingan mereka.
Tetapi sebagian besar pasukannya tidak mendengarkan.
Mereka terpesona oleh simbol yang tampak religius. Mereka mengira setiap orang yang membawa nama Al-Qur’an pasti berada di pihak kebenaran. Tekanan terhadap Ali a.s begitu besar hingga proses arbitrase akhirnya diterima. Sejarah kemudian mencatat bahwa keputusan itu melahirkan perpecahan panjang dan kerugian besar bagi dunia Islam.
Pelajaran dari peristiwa tersebut melampaui ruang dan waktu.
Ali a.s sesungguhnya sedang mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu dapat dikenali dari slogan yang dikibarkan. Nama agama tidak otomatis menjamin ketulusan. Ayat suci yang dikutip tidak selalu menunjukkan niat yang suci. Bahkan simbol paling sakral pun dapat dipinjam oleh mereka yang memiliki tujuan yang sama sekali berbeda.
Dalam salah satu penjelasannya, Ali a.s mengungkapkan gagasan yang sangat mendalam. Ia mengatakan bahwa Al-Qur’an yang tertulis di antara dua sampul kitab tidak berbicara dengan sendirinya. Manusialah yang berbicara atas namanya.
Pernyataan itu terasa sangat relevan di era media sosial. Setiap hari publik disuguhi kutipan ayat, hadis, slogan moral, jargon keadilan, dan berbagai narasi yang tampak mulia. Namun tidak semuanya lahir dari ketulusan. Tidak semuanya berangkat dari komitmen terhadap kebenaran.
Kadang-kadang agama digunakan untuk menutupi ambisi kekuasaan. Di lain waktu, bahasa hak asasi manusia dipakai untuk membenarkan kepentingan politik. Ada pula yang berbicara tentang demokrasi hanya ketika menguntungkan dirinya sendiri. Ketika kepentingannya terganggu, semua nilai itu ditinggalkan begitu saja.
Di sinilah warisan terbesar Ali a.s menemukan relevansinya.
Ia mengajarkan bahwa masyarakat harus memiliki kemampuan membedakan antara substansi dan simbol. Antara isi dan kemasan. Antara kebenaran dan mereka yang sekadar mengaku membela kebenaran.
Bashirah yang diajarkan Ali a.s bukanlah sikap curiga kepada segala sesuatu. Ia adalah kemampuan melihat lebih dalam daripada permukaan. Kemampuan bertanya: siapa yang berbicara, untuk tujuan apa, dan apakah perilakunya sejalan dengan ucapannya.
Dalam dunia yang semakin ramai oleh informasi, kemampuan semacam ini menjadi kebutuhan mendesak. Sebab kebohongan hari ini tidak selalu tampil dengan wajah buruk. Ia sering hadir dengan wajah yang sangat meyakinkan. Ia mengutip ayat, berbicara tentang moralitas, dan mengenakan pakaian yang tampak saleh.
Karena itu, mengenang Ali bin Abi Thalib a.s tidak cukup dengan mengagumi keberaniannya di medan perang atau kecerdasannya dalam memimpin. Yang lebih penting adalah meneladani kejernihan pandangannya dalam membaca kenyataan.
Barangkali itulah makna terdalam dari sabda Nabi bahwa Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali a.s. Kebenaran bukan sekadar apa yang terdengar paling lantang, bukan pula apa yang paling banyak didukung. Kebenaran menuntut ketajaman hati untuk mengenalinya.
Dan di tengah zaman yang penuh kebisingan ini, pelajaran itu terasa lebih berharga daripada sebelumnya.






