KHAMENEI.ID– Ada paradoks yang kerap muncul dalam kehidupan modern. Semakin banyak manusia merasa mampu mengendalikan dunia dengan teknologi dan pengetahuan, semakin sering pula mereka mengalami kegelisahan, kehilangan arah, bahkan kelelahan spiritual. Kita hidup di zaman yang menghargai kerja keras, produktivitas, dan pencapaian. Namun sering kali kita lupa pada satu pertanyaan mendasar: dari mana sebenarnya kekuatan untuk menjalani semua itu berasal?
Dalam tradisi Islam, ada sebuah konsep yang sederhana tetapi sangat mendalam: istimdad, yakni memohon pertolongan dan kekuatan secara terus-menerus kepada Allah. Konsep ini bukan sekadar doa yang diucapkan saat menghadapi kesulitan, melainkan kesadaran batin bahwa manusia tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.
Karena itulah, kedekatan dengan Allah, kedekatan dengan Al-Qur’an, dan istimdad yang berkelanjutan dipandang sebagai fondasi penting dalam kehidupan seorang mukmin. Tanpa fondasi ini, aktivitas yang tampak mulia sekalipun berisiko kehilangan kemurniannya.
Bayangkan seseorang yang bekerja tanpa lelah untuk masyarakat, memimpin sebuah lembaga, mengurus kepentingan banyak orang, atau berjuang demi cita-cita besar. Semua itu bisa menjadi ibadah yang sangat tinggi nilainya. Namun nilai tersebut hanya akan bertahan selama hati tetap terhubung dengan sumber cahaya yang benar.
Ketika hubungan itu melemah, perlahan-lahan kepentingan pribadi, ambisi, kesombongan, dan hawa nafsu mulai menyusup. Sesuatu yang awalnya merupakan pelayanan tulus dapat berubah menjadi alat pencarian popularitas atau kekuasaan. Bahkan perjuangan yang paling heroik sekalipun dapat kehilangan maknanya jika terputus dari tujuan ilahi.
Sejarah Islam memberikan contoh yang menarik. Rasulullah tidak pernah berhenti memperkuat hubungan spiritualnya dengan Allah, meskipun beliau telah mencapai puncak kemuliaan manusia. Ketika bulan Sya’ban tiba, beliau meningkatkan ibadah, puasa, dan qiyamullail dengan penuh kesungguhan.
Dalam salah satu doa Sya’ban disebutkan:
وَهَذَا شَهْرُ نَبِيِّكَ سَيِّدِ رُسُلِكَ شَعْبَانُ الَّذِي حَفَفْتَهُ مِنْكَ بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ
“Inilah bulan Nabi-Mu, pemimpin para rasul, yaitu bulan Sya’ban yang Engkau limpahi dengan rahmat dan keridaan-Mu”
Doa itu kemudian menggambarkan bagaimana Rasulullah saw mengisi hari-hari dan malam-malam bulan tersebut dengan puasa, ibadah malam, kerendahan hati, dan penghambaan hingga akhir hayatnya.
Pesan yang tersimpan di dalamnya sangat kuat. Jika seorang Rasul yang telah mencapai derajat spiritual tertinggi masih terus menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala sampai menjelang wafatnya, bagaimana dengan manusia biasa yang penuh kelemahan dan keterbatasan?
Barangkali di sinilah letak kesalahpahaman yang sering terjadi. Banyak orang menganggap spiritualitas sebagai urusan tambahan setelah pekerjaan selesai. Padahal dalam pandangan Islam, spiritualitas justru merupakan sumber energi yang membuat pekerjaan itu tetap lurus dan bermakna.
Karena itu, praktik-praktik sederhana seperti shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an setiap hari, berdzikir, berdoa, dan memohon pertolongan Allah bukanlah ritual yang terpisah dari kehidupan nyata. Semua itu adalah sarana menjaga kejernihan hati agar tindakan-tindakan besar tidak kehilangan arah.
Namun Islam tidak berhenti pada spiritualitas semata. Menariknya, setelah menekankan hubungan dengan Allah Ta’ala, Islam juga memberikan perhatian yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan.
Sejak masa awal kemunculannya, Islam sudah menempatkan pencarian ilmu sejajar dengan kewajiban-kewajiban pokok lainnya. Rasulullah saw bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap laki-laki dan perempuan Muslim”
Pesan ini muncul pada masa ketika banyak peradaban masih membatasi akses ilmu bagi kelompok tertentu. Islam justru membuka pintu pengetahuan bagi semua orang tanpa memandang jenis kelamin maupun status sosial.
Bahkan dalam riwayat terkenal lainnya disebutkan:
اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ
“Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina”
Pada masa itu, Cina melambangkan tempat yang sangat jauh dari Jazirah Arab. Maknanya bukan semata-mata tentang lokasi geografis, tetapi tentang kesediaan menempuh perjalanan panjang, pengorbanan besar, dan kerja keras demi memperoleh pengetahuan.
Mengapa ilmu mendapat posisi yang begitu penting?
Karena cita-cita yang benar tidak akan mampu mengubah dunia tanpa kemampuan untuk mewujudkannya. Kebenaran membutuhkan bahasa. Nilai-nilai membutuhkan sarana. Ide-ide membutuhkan alat untuk diterjemahkan menjadi kenyataan.
Seseorang mungkin memiliki tujuan yang sangat mulia, tetapi tanpa ilmu ia kesulitan menjelaskan gagasannya, membangun sistem yang efektif, atau menawarkan solusi bagi persoalan masyarakat. Dalam konteks modern, ilmu menjadi kendaraan yang memungkinkan nilai-nilai luhur bergerak dan memberi manfaat nyata.
Di sinilah spiritualitas dan ilmu bertemu. Keduanya bukan dua kutub yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya saling melengkapi.
Spiritualitas tanpa ilmu berisiko melahirkan semangat yang besar tetapi kehilangan arah. Sebaliknya, ilmu tanpa spiritualitas dapat melahirkan kecerdasan yang hebat tetapi kehilangan nurani. Yang satu memberi tujuan, yang lain menyediakan sarana. Yang satu menuntun hati, yang lain menguatkan langkah.
Mungkin karena itulah sejarah peradaban Islam mencapai masa keemasannya ketika para ulama, ilmuwan, filsuf, dan pemimpin memadukan keduanya sekaligus. Mereka berdoa pada malam hari, tetapi juga meneliti pada siang hari. Mereka menangis dalam munajat, tetapi juga membangun perpustakaan, observatorium, dan pusat-pusat ilmu pengetahuan.
Di tengah dunia yang sering memisahkan agama dari kemajuan, pesan ini terasa semakin relevan. Kemajuan tidak cukup hanya dengan kecanggihan teknologi. Sebaliknya, ketulusan niat saja juga tidak cukup tanpa kemampuan dan pengetahuan.
Manusia membutuhkan keduanya: hati yang terhubung dengan langit dan pikiran yang terus berkembang di bumi.
Sebab pada akhirnya, perjalanan hidup bukan sekadar tentang seberapa tinggi kita berhasil naik, melainkan tentang kepada siapa kita bersandar saat mendaki, dan untuk tujuan apa seluruh kemampuan itu digunakan.






