Ketika Kepemimpinan Tidak Diukur oleh Usia: Pelajaran Meritokrasi dari Penaklukan Makkah

KHAMENEI.ID– Ada satu kebiasaan lama yang masih bertahan hingga hari ini: menganggap usia sebagai ukuran utama kelayakan. Semakin tua seseorang, semakin besar haknya untuk memimpin. Sebaliknya, semakin muda seseorang, semakin kuat keraguan yang diarahkan kepadanya. Seolah-olah tahun yang lebih banyak otomatis menghadirkan kebijaksanaan yang lebih dalam.

Namun sejarah Islam menyimpan sebuah kisah yang justru menggugat cara pandang tersebut.

Peristiwa itu terjadi setelah Fathu Makkah, penaklukan Makkah yang menjadi salah satu titik balik paling penting dalam sejarah Islam. Kota yang selama bertahun-tahun menjadi pusat perlawanan terhadap dakwah Nabi Muhammad saw akhirnya berada di bawah kepemimpinan kaum Muslim. Setelah kemenangan besar itu, muncul kebutuhan mendesak untuk menata pemerintahan, menjaga stabilitas sosial, serta membimbing masyarakat yang sedang memasuki babak baru kehidupan mereka.

Dalam situasi sepenting itu, banyak tokoh senior hadir di sekitar Nabi. Mereka memiliki pengalaman panjang, kedudukan sosial yang kuat, dan usia yang jauh lebih matang. Secara logika politik, merekalah yang tampak paling layak mengemban jabatan sebagai gubernur atau penguasa Makkah.

Namun pilihan Nabi justru jatuh kepada seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun: Attab bin Asid.

Keputusan itu segera memunculkan pertanyaan. Sebagian orang merasa heran. Bagaimana mungkin seorang yang begitu muda memimpin kota sebesar Makkah? Bukankah masih banyak orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman?

Pertanyaan tersebut ternyata sudah diperkirakan oleh Nabi saw Karena itu, dalam surat penugasan yang beliau kirimkan kepada penduduk Makkah, terdapat pesan yang sangat tegas.

Beliau menulis:

وَلَا يَحْتَجَّ مُحْتَجٌّ مِنْكُمْ فِي مُخَالَفَتِهِ بِصِغَرِ سِنِّهِ فَلَيْسَ الْأَكْبَرُ هُوَ الْأَفْضَلَ بَلِ الْأَفْضَلُ هُوَ الْأَكْبَرُ

Janganlah seseorang di antara kalian menentang kepemimpinannya dengan alasan usianya yang masih muda. Sebab yang lebih tua belum tentu lebih utama, tetapi yang lebih utama itulah yang sesungguhnya lebih besar

Baca Juga  Kemuliaan Manusia dalam Islam: Mengembalikan Martabat yang Sering Terlupakan

Kalimat singkat ini menyimpan revolusi cara berpikir yang bahkan hingga kini masih terasa relevan.

Nabi saw tidak mengatakan bahwa usia tidak penting sama sekali. Pengalaman tetap memiliki nilai. Kematangan tetap dibutuhkan. Namun beliau menolak menjadikan usia sebagai satu-satunya ukuran. Yang harus didahulukan adalah keutamaan, kapasitas, integritas, dan kemampuan menjalankan amanah.

Dengan kata lain, yang menentukan seseorang layak memimpin bukanlah berapa lama ia hidup, melainkan seberapa baik ia mampu mengemban tanggung jawab.

Di titik ini, kita melihat salah satu fondasi penting dalam ajaran Islam: meritokrasi atau prinsip memilih berdasarkan kelayakan.

Attab bin Asid tidak dipilih karena hubungan keluarga. Ia tidak dipilih karena status sosial. Ia juga tidak dipilih sekadar untuk memberi kesempatan kepada generasi muda. Ia dipilih karena Nabi saw melihat kualitas yang membuatnya layak memikul amanah besar tersebut.

Dalam surat yang sama, Nabi saw menjelaskan tugas-tugas yang diemban Attab. Ia bertanggung jawab membimbing mereka yang lalai, mengajarkan mereka yang belum memahami agama, meluruskan berbagai penyimpangan, serta menjaga ketertiban masyarakat. Semua itu menunjukkan bahwa jabatan dalam pandangan Islam bukanlah simbol kehormatan semata, melainkan amanah pelayanan.

Menariknya, ketika memperkenalkan Attab kepada masyarakat Makkah, Nabi saw tidak menggambarkannya sebagai seorang penguasa yang harus dipuja. Beliau justru menyebutnya sebagai pelayan umat dan saudara seiman. Kepemimpinan, dalam perspektif Islam, bukan tentang berdiri di atas orang lain, melainkan tentang mengabdi kepada mereka.

Namun jika ditarik lebih jauh, kisah ini tidak hanya berbicara tentang seorang pemuda di abad ketujuh. Ia juga berbicara tentang persoalan yang terus berulang dalam setiap zaman.

Berapa banyak lembaga yang kehilangan orang-orang terbaik karena terlalu sibuk menghitung umur? Berapa banyak gagasan segar yang tidak pernah mendapat ruang karena datang dari mereka yang dianggap terlalu muda? Dan sebaliknya, berapa banyak posisi strategis diberikan kepada seseorang hanya karena senioritas, meskipun kompetensinya tidak lagi memadai?

Baca Juga  Menjaga Kesucian Ulama di Tengah Godaan Dunia: Mengapa Kesederhanaan Masih Penting?

Dalam banyak organisasi modern, baik pemerintahan, perusahaan, maupun komunitas sosial, perdebatan antara senioritas dan kompetensi masih terus berlangsung. Senioritas memang dapat menjadi sumber pengalaman yang berharga. Namun ketika senioritas berubah menjadi hak istimewa yang menutup jalan bagi orang-orang yang lebih layak, maka organisasi mulai kehilangan daya hidupnya.

Gagasan yang diajarkan Nabi saw melalui pengangkatan Attab bin Asid menawarkan jalan tengah yang elegan. Pengalaman dihormati, tetapi kompetensi tetap menjadi penentu. Usia dihargai, tetapi tidak disembah. Yang utama bukan siapa yang paling lama hadir, melainkan siapa yang paling mampu menjalankan amanah.

Dalam konteks yang lebih luas, prinsip ini juga mengandung pesan moral bagi generasi muda. Meritokrasi bukan berarti semua anak muda otomatis layak memimpin. Kelayakan tetap harus dibuktikan melalui kapasitas, integritas, ilmu, dan tanggung jawab. Kesempatan memang perlu dibuka, tetapi kualitas tetap harus menjadi fondasinya.

Karena itu, kisah Attab bin Asid bukanlah kisah tentang kemenangan anak muda atas orang tua. Ini adalah kisah tentang kemenangan kompetensi atas prasangka. Kisah tentang bagaimana amanah harus diberikan kepada yang paling mampu, bukan kepada yang paling tua, paling dekat, atau paling berpengaruh.

Pada akhirnya, sejarah Fathu Makkah mengajarkan sebuah pelajaran yang sederhana namun sering terlupakan. Kehormatan seseorang tidak lahir dari angka usia yang bertambah setiap tahun. Kehormatan lahir dari kualitas diri yang terus bertumbuh.

Sebab sebagaimana pesan Nabi saw yang melampaui zaman, yang lebih tua belum tentu lebih utama. Tetapi mereka yang lebih utama, karena kelayakan dan amanahnya, itulah yang sesungguhnya layak disebut besar.

Bagikan:
Terkait
Komentar