KHAMENEI.ID– Di tengah kehidupan yang semakin riuh, manusia modern terbiasa mengukur keberhasilan dari apa yang tampak di hadapan mata. Jabatan, kekayaan, pengakuan, hingga produktivitas menjadi ukuran utama. Padahal, dalam tradisi spiritual Islam, perubahan besar justru sering kali lahir dari amalan-amalan yang berlangsung dalam kesunyian, jauh dari sorotan manusia. Di antara amalan itu, shalat malam dan salat sunah sebelum Zuhur menempati posisi yang istimewa.
Ada sebuah wasiat yang diriwayatkan dari Rasulullah saw kepada Imam Ali a.s Di dalamnya, Nabi saw tidak hanya menyampaikan nasihat tentang kejujuran, amanah, rasa takut kepada Allah, dan akhlak mulia. Beliau juga mengulang satu pesan dengan penekanan yang tidak biasa.
وَعَلَيْكَ بِصَلَاةِ اللَّيْلِ، وَعَلَيْكَ بِصَلَاةِ اللَّيْلِ، وَعَلَيْكَ بِصَلَاةِ اللَّيْلِ
“Hendaklah engkau menjaga shalat malam, hendaklah engkau menjaga shalat malam, hendaklah engkau menjaga shalat malam”
Setelah itu, Nabi saw kembali mengulang tiga kali pesan yang lain:
وَعَلَيْكَ بِصَلَاةِ الزَّوَالِ، وَعَلَيْكَ بِصَلَاةِ الزَّوَالِ، وَعَلَيْكَ بِصَلَاةِ الزَّوَالِ
“Dan jagalah shalat pada waktu zawal (nafilah sebelum Zuhur), jagalah shalat pada waktu zawal, jagalah shalat pada waktu zawal”
Pengulangan itu bukan tanpa alasan. Dalam tradisi Arab, sesuatu yang diulang berkali-kali menunjukkan tingkat urgensi yang sangat tinggi. Seolah Nabi saw ingin mengatakan bahwa di balik dua ibadah sunah tersebut tersimpan rahasia pembentukan jiwa yang tidak dapat digantikan oleh amalan lain.
Shalat malam memang selalu memiliki tempat yang istimewa dalam perjalanan para pencari Tuhan. Ada sesuatu yang berbeda ketika seseorang bangun saat sebagian besar manusia masih terlelap. Kesunyian malam menghadirkan ruang yang nyaris bebas dari gangguan. Tidak ada hiruk-pikuk pekerjaan, tidak ada lalu lintas percakapan, tidak ada tuntutan dunia yang mendesak perhatian.
Pada saat itulah seorang hamba berdiri sendirian menghadap Tuhannya.
Mungkin itulah sebabnya mengapa banyak ulama besar memandang shalat malam bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan sekolah pembentukan karakter. Di sana seseorang belajar melawan rasa malas, mengalahkan kenyamanan, dan membangun disiplin yang lahir bukan karena pengawasan manusia, melainkan karena cinta kepada Allah.
Dalam konteks yang lebih luas, shalat malam juga mengajarkan sebuah paradoks yang menarik. Dunia modern menganggap tidur lebih lama sebagai bentuk kenyamanan, sementara agama justru mengajak manusia sesekali meninggalkan kenyamanan itu demi memperoleh ketenangan yang lebih dalam. Kehilangan beberapa menit tidur ternyata dapat menghadirkan kekuatan batin yang sulit dijelaskan oleh logika semata.
Tak mengherankan jika para guru ruhani sepanjang sejarah memberikan perhatian besar terhadap amalan ini.
Dikisahkan bahwa seorang arif besar, Mirza Ali Agha Qadhi, ketika pertama kali bertemu murid mudanya, Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i, tidak memulai nasihatnya dengan pembahasan filsafat, fikih, atau irfan. Ia justru menyampaikan kalimat yang sederhana tetapi menggugah:
“Jika engkau menginginkan dunia, lakukanlah shalat malam. Jika engkau menginginkan akhirat, lakukanlah shalat malam”
Ungkapan itu terdengar paradoksal. Lazimnya, orang mengira shalat malam hanya berkaitan dengan pahala akhirat. Namun pengalaman para ulama menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah justru melahirkan kejernihan berpikir, keteguhan hati, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan modal yang juga sangat menentukan keberhasilan seseorang di dunia.
Namun jika ditarik lebih jauh, wasiat Nabi saw tidak berhenti pada shalat malam. Beliau juga mengulang tiga kali tentang shalat zawal, yang oleh banyak ulama dipahami sebagai nafilah atau salat sunah sebelum Zuhur.
Amalan ini sering luput dari perhatian. Banyak orang berusaha menjaga shalat wajib, tetapi menganggap salat-salat sunah sebagai pelengkap yang boleh ditinggalkan kapan saja. Padahal para ulama memandang nafilah Zuhur sebagai salah satu ibadah yang memiliki nilai sangat tinggi.
Mirza Ali Agha Qadhi bahkan menyebutnya sebagai shalat al-awwabin, yakni shalat orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah. Sebutan ini mengandung makna yang mendalam. Manusia memang tidak pernah luput dari kekeliruan. Namun yang membedakan seorang mukmin bukanlah ketiadaan dosa, melainkan kesediaannya untuk terus kembali. Nafilah Zuhur menjadi jeda di tengah padatnya aktivitas siang hari, saat seseorang menghentikan urusan dunia untuk mengingat kembali tujuan hidupnya.
Di titik ini, tampak bahwa dua shalat sunah tersebut memiliki karakter yang saling melengkapi. Shalat malam membangun fondasi ruhani sebelum fajar menyingsing. Sementara nafilah Zuhur menjaga agar cahaya itu tidak padam ketika kesibukan dunia mulai menguasai hari.
Barangkali inilah hikmah mengapa Nabi saw memberikan penekanan yang begitu kuat kepada keduanya. Kehidupan spiritual tidak cukup dibangun oleh momen-momen besar, melainkan oleh kebiasaan kecil yang dilakukan dengan istiqamah. Sedikit demi sedikit, amalan-amalan sunyi itu membentuk hati yang lebih lembut, pikiran yang lebih jernih, dan jiwa yang lebih tenang.
Pada akhirnya, kualitas hidup seorang mukmin tidak hanya ditentukan oleh apa yang ia lakukan di hadapan manusia, tetapi juga oleh apa yang ia kerjakan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya. Di dalam gelapnya malam dan di sela kesibukan siang, Allah membuka dua pintu yang sering kali terabaikan. Siapa yang mengetuknya dengan istiqamah, mungkin tidak langsung melihat perubahan yang mencolok. Namun perlahan, tanpa disadari, ia sedang membangun kehidupan yang lebih kokoh di dunia sekaligus di akhirat.







