KHAMENEI.ID– Di mata publik, seorang pemimpin sering dikenang karena pidato-pidatonya yang membakar semangat, keberaniannya menghadapi kekuasaan, atau keputusan-keputusan besar yang mengubah arah sejarah. Namun sejarah kerap menyembunyikan satu ruang sunyi yang justru menjadi sumber dari semua keberanian itu: ruang tempat seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan.
Barangkali di sanalah letak rahasia terbesar Imam Khomeini. Banyak orang melihatnya sebagai tokoh revolusi, pemimpin politik, pemikir besar, bahkan seorang fakih dan filsuf yang disegani. Tetapi semua identitas itu sesungguhnya berdiri di atas fondasi yang jauh lebih dalam: spiritualitas yang tidak pernah terputus.
Perjuangannya bukan hanya berlangsung di jalan-jalan revolusi, ruang kuliah, atau panggung politik. Ada jihad lain yang nyaris tak terlihat, tetapi justru menopang semuanya: jihad melawan hawa nafsu, menjaga hati tetap tunduk, dan memelihara hubungan yang terus hidup dengan Allah.
Dalam kehidupan modern, kita sering memisahkan antara aktivisme dan ibadah, antara kerja keras dan doa. Seolah-olah keduanya berjalan di rel yang berbeda. Padahal sejarah para tokoh besar menunjukkan kenyataan sebaliknya. Semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula kebutuhan jiwanya untuk kembali kepada Sang Pencipta.
Imam Khomaeni qs dikenal sebagai pribadi yang khusyuk. Air mata bukan sesuatu yang asing dalam ibadahnya. Doa bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang tempat ia menguatkan kembali tekadnya. Munajat bukan pelarian dari perjuangan, tetapi sumber tenaga untuk melanjutkan perjuangan itu.
Pada bulan Syaban, beliau berulang kali mengutip penggalan indah dari Munajat Sya’baniyah:
إِلَهِي هَبْ لِي كَمَالَ الانْقِطَاعِ إِلَيْكَ وَأَنِرْ أَبْصَارَ قُلُوبِنَا بِضِيَاءِ نَظَرِهَا إِلَيْكَ حَتَّى تَخْرِقَ أَبْصَارُ الْقُلُوبِ حُجُبَ النُّورِ فَتَصِلَ إِلَى مَعْدِنِ الْعَظَمَةِ
“Ya Allah, anugerahkan kepadaku kesempurnaan dalam melepaskan diri dari selain-Mu dan menghadap sepenuhnya kepada-Mu. Terangilah mata hati kami dengan cahaya yang membuatnya mampu memandang kepada-Mu, hingga mata hati menembus seluruh tabir cahaya dan mencapai sumber keagungan-Mu”
Doa itu tidak berbicara tentang kemenangan politik, kekuasaan, atau keberhasilan duniawi. Yang dimohon justru adalah hati yang mampu terlepas dari segala ketergantungan selain kepada Allah. Seolah-olah seluruh perubahan besar di dunia harus dimulai dari sebuah pembebasan yang paling sunyi: membebaskan hati dari ego.
Di titik ini, jihad memperoleh makna yang jauh lebih luas. Ia bukan sekadar menghadapi musuh di luar diri, melainkan terlebih dahulu menaklukkan musuh yang berdiam di dalam diri sendiri. Kesombongan, ambisi pribadi, cinta kekuasaan, dan ketakutan adalah lawan-lawan yang sering kali lebih sulit dikalahkan daripada tekanan dari luar.
Karena itulah, air mata di penghujung malam tidak pernah bertentangan dengan keberanian di siang hari. Justru dari sujud yang panjang lahir keberanian untuk berdiri tegak ketika tekanan datang dari berbagai arah.
Dalam konteks yang lebih luas, perjalanan Imam qs memperlihatkan bahwa ilmu setinggi apa pun belum cukup membentuk seorang pemimpin besar. Ia memang seorang ahli fikih, filsuf, sekaligus pengkaji irfan yang mendalam. Namun kepribadian utamanya tidak dibangun semata oleh keluasan ilmu. Yang menjadikannya sosok berpengaruh adalah kesediaannya menjadikan seluruh ilmu itu sebagai jalan pengabdian.
Al-Qur’an mengingatkan:
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ
“Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad” (QS. Al-Hajj: 78)
Ayat ini menghadirkan standar yang tinggi. Jihad bukan sekadar bekerja keras atau memperjuangkan sebuah cita-cita, melainkan memastikan bahwa seluruh perjuangan benar-benar dilakukan demi Allah, bukan demi ego, popularitas, ataupun kepentingan pribadi.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang sangat relevan bagi kehidupan hari ini. Kita hidup di zaman ketika banyak orang sibuk memperbaiki dunia, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri. Ada yang lantang menyerukan keadilan, tetapi mudah dikuasai amarah. Ada yang mengajak kepada moralitas, tetapi gagal mengendalikan kesombongan. Ada pula yang begitu aktif bekerja, namun kehilangan kedamaian batin.
Di sinilah keseimbangan menjadi pelajaran yang amat berharga. Aktivitas sosial membutuhkan spiritualitas. Keberanian memerlukan kerendahan hati. Perubahan besar membutuhkan kejernihan hati yang terus dirawat melalui doa dan munajat.
Sejarah juga mencatat bagaimana perjuangan Imam Khomaeni qs menghasilkan perubahan yang luar biasa. Ia ikut mengakhiri sistem monarki turun-temurun yang telah mengakar selama berabad-abad di Iran dan memperkenalkan sebuah tata pemerintahan yang berlandaskan Islam. Dampaknya tidak berhenti di negaranya sendiri, tetapi memengaruhi dinamika dunia Islam bahkan percaturan politik global.
Namun jika hanya berhenti pada pencapaian politik, kita mungkin kehilangan pelajaran yang paling penting. Revolusi terbesar bukanlah pergantian sebuah sistem pemerintahan. Revolusi terbesar adalah ketika hati manusia berubah, ketika seseorang mampu mengalahkan dirinya sendiri sebelum mengajak orang lain berubah.
Barangkali itulah sebabnya mengapa kekuatan seorang pemimpin tidak selalu lahir dari pidatonya, melainkan dari doa-doa yang tidak pernah didengar manusia. Keteguhan bukan semata hasil strategi, tetapi buah dari hubungan yang terus dipelihara dengan Allah.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki medan jihadnya masing-masing. Sebagian berjuang di ruang pendidikan, sebagian di dunia kerja, sebagian di tengah keluarga, dan sebagian lagi di tengah masyarakat. Apa pun bentuknya, semua perjuangan akan mudah kehilangan arah jika tidak disertai kejernihan hati.
Mungkin karena itu, doa dalam Munajat Sya’baniyah tetap terasa begitu hidup hingga hari ini. Ia mengingatkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya ketika dunia berubah oleh tangan kita, melainkan ketika hati kita terlebih dahulu berubah oleh cahaya-Nya. Dari hati yang bersujud itulah lahir keberanian yang tidak mudah goyah, keteguhan yang tidak mudah patah, dan perjuangan yang tetap hidup sekalipun zaman terus berganti.







