Kebebasan dalam Al-Qur’an: Saat Manusia Hanya Tunduk kepada Tuhan

KHAMENEI.ID– Kebebasan sering dipahami sebagai kemampuan melakukan apa saja tanpa hambatan. Semakin sedikit aturan, semakin bebas seseorang. Namun dalam kenyataan, manusia modern yang mengaku paling merdeka justru sering terjebak dalam berbagai bentuk perbudakan yang tak kasat mata: tekanan sosial, kultus figur, obsesi terhadap kekayaan, gengsi, popularitas, hingga ketergantungan pada penilaian orang lain.

Di sinilah Al-Qur’an menawarkan pengertian kebebasan yang berbeda. Bukan kebebasan untuk menuruti segala keinginan, melainkan kebebasan dari segala bentuk penghambaan selain kepada Tuhan.

Pandangan ini berangkat dari konsep paling mendasar dalam Islam: tauhid. Tetapi tauhid bukan sekadar keyakinan bahwa Tuhan itu satu. Jika hanya berhenti pada pengakuan lisan, maknanya menjadi terlalu sempit. Tauhid adalah sikap hidup yang menempatkan Allah sebagai satu-satunya pusat ketaatan mutlak sekaligus menolak segala bentuk “tuhan-tuhan kecil” yang berusaha menguasai manusia.

Al-Qur’an mengungkapkannya dengan sangat tegas:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا

Katakanlah: Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun” (QS. Ali Imran: 64)

Menariknya, ayat ini tidak hanya melarang menyekutukan Tuhan dengan manusia atau berhala. Al-Qur’an menggunakan kata syai’an “sesuatu apa pun”. Artinya, apa pun yang mengambil posisi Tuhan dalam hidup seseorang dapat berubah menjadi bentuk kemusyrikan yang halus.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa sangat beragam. Ada orang yang hidup sepenuhnya mengikuti kebiasaan masyarakat tanpa pernah mempertanyakan benar atau salahnya. Ada yang begitu tunduk pada figur tertentu hingga kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Ada pula yang menjadikan sistem sosial, kekuasaan, uang, atau citra diri sebagai penentu mutlak arah hidupnya.

Baca Juga  Pernahkah kita menyadari bahwa sebagian besar nikmat baru terasa berharga setelah ia hilang?

Secara lahiriah mereka tampak bebas. Namun sesungguhnya mereka sedang dikendalikan.

Di titik ini, tauhid tampil bukan sebagai konsep teologis semata, melainkan sebagai gerakan pembebasan manusia. Seseorang yang hanya tunduk kepada Tuhan tidak akan mudah menjadi budak manusia lain. Ia tidak menjual prinsip demi pujian. Ia tidak menggadaikan nurani demi jabatan. Ia juga tidak kehilangan harga diri hanya karena tidak mendapat pengakuan.

Karena itu Al-Qur’an menyandingkan iman kepada Allah dengan penolakan terhadap thaghut.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ

Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Maka barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sungguh ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat” (QS. Al-Baqarah: 256)

Urutan ayat ini menarik untuk direnungkan. Al-Qur’an tidak langsung menyebut iman kepada Allah, tetapi terlebih dahulu berbicara tentang pengingkaran terhadap thaghut. Seolah manusia tidak akan benar-benar bebas sebelum melepaskan berbagai belenggu yang mengikat dirinya.

Thaghut bukan hanya berhala dalam pengertian klasik. Ia adalah segala sesuatu yang melampaui batas dan menuntut kepatuhan yang seharusnya hanya diberikan kepada Tuhan. Kadang ia hadir dalam bentuk kekuasaan. Kadang berupa hawa nafsu. Kadang menjelma menjadi ketakutan yang terus-menerus menghantui manusia.

Maka kebebasan menurut Al-Qur’an bukanlah hidup tanpa ikatan. Kebebasan adalah memilih satu-satunya ikatan yang justru membebaskan dari semua ikatan lain.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih dalam: martabat manusia.

Dalam salah satu hikmah yang diriwayatkan dari para Imam Ahlul Bait, terdapat ungkapan yang sangat menggugah:

Baca Juga  Kekuasaan dan Keadilan: Ketika Jabatan Hanya Bernilai karena Menegakkan Kebenaran

أَ وَ لَا حُرٌّ يَدَعُ هَذِهِ اللُّمَاظَةَ لِأَهْلِهَا فَلَيْسَ لِأَنْفُسِكُمْ ثَمَنٌ إِلَّا الْجَنَّةُ فَلَا تَبِيعُوهَا بِغَيْرِهَا

Tidakkah ada orang merdeka yang meninggalkan sisa-sisa hina ini untuk para pemiliknya? Sesungguhnya harga dirimu tidak lain kecuali surga, maka janganlah menjualnya dengan selain itu

Dunia dalam hadis ini digambarkan sebagai lumazhah; sesuatu yang remeh, sisa yang bahkan tidak layak diperebutkan. Namun yang lebih penting bukanlah kritik terhadap dunia itu sendiri, melainkan peringatan tentang transaksi yang diam-diam sering dilakukan manusia.

Sebab hampir setiap hari kita sedang berjual beli.

Ada yang menjual integritas demi keuntungan sesaat. Ada yang menjual keyakinan demi keamanan. Ada yang menjual harga diri demi popularitas. Ada pula yang menjual kebebasan berpikir demi kenyamanan mengikuti arus.

Transaksi semacam itu tampak menguntungkan dalam jangka pendek. Tetapi sesungguhnya yang hilang bukan sekadar kesempatan atau materi. Yang dipertaruhkan adalah diri kita sendiri.

Hadis tersebut mengingatkan bahwa manusia memiliki nilai yang terlalu tinggi untuk ditukar dengan hal-hal yang rendah. Jiwa manusia tidak memiliki harga selain kedekatan dengan Tuhan dan kehidupan yang bermakna. Ketika seseorang menjual dirinya demi sesuatu yang lebih rendah dari itu, ia sedang meremehkan kemuliaan yang telah dianugerahkan kepadanya.

Dalam konteks yang lebih luas, inilah inti hubungan antara tauhid, kebebasan, dan martabat manusia. Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah. Kebebasan itu melahirkan keberanian untuk hidup sesuai nurani. Dan keberanian tersebut menjaga kemuliaan manusia agar tidak jatuh menjadi komoditas yang bisa dibeli oleh kekuasaan, ketakutan, atau kepentingan sesaat.

Mungkin itulah sebabnya mengapa para nabi datang bukan hanya membawa ajaran ibadah, tetapi juga membebaskan manusia. Mereka mengajak manusia berdiri tegak sebagai makhluk yang merdeka, yang tidak tunduk kepada apa pun selain Tuhan.

Baca Juga  Warisan Para Nabi: Mengapa Melawan Thaghut Bukan Pilihan, Melainkan Tugas

Pada akhirnya, ukuran kebebasan bukanlah seberapa banyak yang bisa kita lakukan, melainkan seberapa sedikit hal yang mampu memperbudak kita. Dan manusia yang benar-benar merdeka adalah mereka yang telah menemukan satu-satunya tempat berserah, sehingga tidak perlu lagi berlutut di hadapan apa pun selain Allah.

Bagikan:
Terkait
Komentar