Ali bin Abi Thalib: Titik Temu yang Terlupakan dalam Persatuan Umat Islam

KHAMENEI.ID– Di tengah dunia Islam yang sering dipenuhi perdebatan identitas, perbedaan mazhab, dan pertarungan klaim kebenaran, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: adakah sosok yang benar-benar dicintai dan dihormati oleh hampir seluruh umat Islam?

Jawabannya mungkin sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Sosok itu adalah Ali bin Abi Thalib a.s.

Nama Ali a.s selama ini lebih sering hadir dalam ruang-ruang perdebatan ketimbang ruang perjumpaan. Padahal, jika menengok sejarah Islam dengan jernih, Ali a.s justru merupakan salah satu titik temu terbesar yang dimiliki umat Islam. Hampir semua mazhab dan kelompok Islam mengakui keagungan pribadinya, keluasan ilmunya, keberaniannya, dan kesetiaannya yang tak tergoyahkan kepada Nabi Muhammad saw.

Sulit menemukan figur lain yang mendapatkan penghormatan sedemikian luas. Dalam literatur Sunni maupun Syiah, Ali a.s digambarkan sebagai sosok yang tumbuh bersama Islam sejak masa paling awal. Ia tidak sekadar menjadi pengikut Nabi saw, melainkan bagian dari perjalanan Islam itu sendiri. Sejak masa kanak-kanak, masa muda, hingga akhir hayatnya, hidup Ali a.s nyaris tak pernah terpisah dari perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai yang dibawa Rasulullah saw.

Karena itu, ketika umat Islam mencari fondasi persatuan, Ali a.s sebenarnya sudah berdiri di sana sejak berabad-abad lalu.

Persoalannya, dunia Islam hari ini justru sering terjebak dalam politik identitas yang membuat perbedaan tampak lebih besar daripada persamaan. Di berbagai belahan dunia, konflik sektarian terus dipelihara. Kadang satu kelompok didukung untuk melemahkan kelompok lain. Kadang sebaliknya. Akibatnya, energi umat habis untuk saling mencurigai, sementara tantangan yang lebih besar terus mengintai.

Dalam situasi seperti ini, sosok Ali a.s menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia adalah figur yang tidak bisa dimonopoli oleh siapa pun.

Baca Juga  Ahlul Bait dalam Islam: Mengapa Cinta Saja Tidak Cukup?

Kaum Syiah memang memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan Ali a.s dan keluarga Nabi. Dalam salah satu doa ziarah yang terkenal, dikenal sebagai Ziarah Jami’ah Kabirah, terdapat ungkapan yang sangat indah:

 “Kami dikenal karena membenarkan dan mengakui kedudukan kalian.” 

Kalimat itu menggambarkan kecintaan dan pengakuan terhadap Ahlul Bait sebagai bagian penting dari identitas spiritual.

Namun, kecintaan itu tidak berarti kepemilikan eksklusif.

Ali a.s bukan milik satu kelompok. Ia adalah warisan seluruh umat Islam.

Bahkan lebih dari itu, Ali a.s sesungguhnya adalah warisan kemanusiaan.

Dalam teks ziarah tersebut, keluarga Nabi saw digambarkan sebagai “keluarga kenabian, tempat bersemayam risalah, tempat turun wahyu, sumber rahmat, dan gudang ilmu.” Gambaran ini bukan sekadar pujian religius. Ia menunjukkan bahwa nilai-nilai yang mereka bawa melampaui batas kelompok dan zaman.

Ali a.s dikenal sebagai pemimpin yang berani tetapi lembut kepada rakyatnya. Ia tegas terhadap kezaliman, tetapi sangat sensitif terhadap penderitaan manusia. Dalam banyak riwayat, ia digambarkan berjalan malam hari untuk memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan. Ia menjadi simbol keadilan yang bahkan dihormati oleh mereka yang berbeda pandangan dengannya.

Barangkali di sinilah letak relevansinya bagi dunia modern.

Hari ini, masyarakat global sedang menghadapi krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan. Banyak pemimpin berhasil membangun citra, tetapi gagal membangun keteladanan. Banyak yang pandai berbicara tentang moralitas, tetapi tidak mampu menjadikannya sebagai cara hidup.

Ali a.s menawarkan model yang berbeda. Ia tidak membangun kekuasaan di atas kultus pribadi, melainkan di atas pengabdian. Ia tidak mengejar popularitas, melainkan kebenaran. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai kehormatan, tetapi sebagai amanah yang berat.

Baca Juga  Tawakal dan Keberanian Moral: Mengapa Pertolongan Tuhan Datang kepada Mereka yang Berani Berjalan

Karena itulah, mengingat Ali a.s hanya sebagai tokoh sejarah adalah kerugian besar. Yang lebih penting adalah memahami nilai yang ia wakili: keberanian tanpa kesombongan, ilmu tanpa keangkuhan, dan kekuasaan tanpa penindasan.

Persatuan umat Islam tidak selalu harus dimulai dari kesamaan pendapat dalam setiap persoalan teologis. Persatuan sering kali dimulai dari kesediaan menemukan tokoh, nilai, dan cita-cita yang sama-sama dihormati. Dan dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib a.s menawarkan ruang yang sangat luas.

Ia adalah sosok yang dihormati oleh berbagai mazhab. Ia adalah murid terdekat Nabi saw, pejuang Islam, hakim yang adil, ilmuwan yang bijaksana, dan manusia yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk Tuhan.

Mungkin sudah saatnya umat Islam melihat Ali a.s bukan sebagai batas yang memisahkan, melainkan jembatan yang mempertemukan.

Sebab sejarah menunjukkan bahwa perpecahan sering lahir ketika manusia lebih sibuk mempertahankan identitas kelompok daripada merawat nilai-nilai bersama. Sebaliknya, persatuan tumbuh ketika ada keberanian untuk menemukan titik temu.

Dan di antara sedikit titik temu yang masih kokoh berdiri di tengah beragam mazhab dan aliran Islam, nama Ali bin Abi Thalib a.s tetap bersinar sebagai salah satu yang paling terang.

Bukan milik satu golongan. Bukan milik satu mazhab.

Melainkan milik seluruh umat yang mencari keteladanan, keadilan, dan jalan menuju persaudaraan.

Bagikan:
Terkait
Komentar