Ketika Manusia Tidak Adil kepada Tuhan

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang jarang kita sadari. Hampir setiap hari kita mengeluh tentang ketidakadilan: diperlakukan tidak pantas, diabaikan, atau dikhianati. Kita berharap dunia berlaku adil kepada kita. Namun, pernahkah kita bertanya sebaliknya: sudahkah kita berlaku adil kepada Tuhan?

Pertanyaan itu terdengar ganjil. Sebab, bukankah Tuhan tidak membutuhkan apa pun dari manusia? Namun justru di situlah letak persoalannya. Ketidakadilan kepada Tuhan bukan berarti merugikan-Nya, melainkan mencerminkan betapa manusia gagal menyadari posisi dirinya sendiri.

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw melalui Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s, Allah berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ مَا تُنْصِفُنِي، أَتَحَبَّبُ إِلَيْكَ بِالنِّعَمِ وَتَتَمَقَّتُ إِلَيَّ بِالْمَعَاصِي

“Wahai anak Adam, engkau tidak berlaku adil kepada-Ku. Aku mendekat kepadamu dengan berbagai nikmat, tetapi engkau membalas-Ku dengan berbagai maksiat”

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan cermin yang jernih. Tuhan tidak memulai hubungan dengan ancaman. Ia memulainya dengan kasih sayang. Setiap detik kehidupan adalah bentuk kedekatan-Nya. Nafas yang keluar masuk tanpa kita pikirkan, jantung yang berdetak tanpa diperintah, mata yang masih mampu melihat cahaya pagi, akal yang membedakan benar dan salah, hingga orang-orang yang mengasihi kita, semuanya adalah bahasa cinta yang terus-menerus dikirimkan Tuhan.

Sering kali kita menganggap semua itu sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, tidak ada satu pun yang benar-benar kita miliki. Semua hanyalah titipan yang terus diperbarui dari waktu ke waktu.

Namun jika ditarik lebih jauh, persoalannya bukan sekadar lupa bersyukur. Yang lebih dalam adalah kecenderungan manusia menikmati pemberian Tuhan sambil mengabaikan kehendak-Nya. Kita menerima nikmat dengan tangan terbuka, tetapi menolak petunjuk dengan berbagai alasan. Di sinilah hadis itu menggunakan ungkapan yang begitu kuat: Allah mendekati manusia dengan nikmat, sedangkan manusia membalas-Nya dengan pembangkangan.

Baca Juga  Hari Ketika Kita Ditanya Bukan Hanya tentang Apa yang Diucapkan

Bentuk pembangkangan itu tidak selalu berupa dosa besar yang menggemparkan. Kadang ia hadir dalam percakapan yang melukai orang lain, pandangan yang tidak dijaga, telinga yang menikmati ghibah, hati yang dipenuhi iri, atau sikap diam ketika melihat kebenaran diinjak-injak. Ada pula ibadah yang secara lahir tampak indah, tetapi kehilangan ruh karena dikerjakan tanpa kehadiran hati atau demi mendapatkan pujian manusia.

Karena itu, dosa sering kali tidak berisik. Ia bekerja dalam kesunyian, tumbuh menjadi kebiasaan, lalu perlahan mengikis kepekaan hati.

Hadis itu kemudian menggambarkan sesuatu yang sangat menyentuh. Allah berfirman bahwa kebaikan-Nya terus turun kepada manusia, sementara keburukan manusia terus naik kepada-Nya. Setiap siang dan malam, para malaikat membawa catatan amal yang tidak selalu membanggakan.

Betapa kontras gambaran itu. Dari langit turun rahmat tanpa henti, sementara dari bumi naik kesalahan yang terus berulang. Yang satu tidak pernah lelah memberi. Yang lain tidak pernah benar-benar berhenti mengingkari.

Namun rahmat Tuhan tetap lebih besar daripada dosa manusia. Itulah sebabnya pintu taubat tidak pernah ditutup selama hayat masih dikandung badan.

Di titik ini, hadis tersebut menghadirkan sebuah ujian psikologis yang menggetarkan.

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ سَمِعْتَ وَصْفَكَ مِنْ غَيْرِكَ وَأَنْتَ لَا تَعْلَمُ مَنِ الْمَوْصُوفُ لَسَارَعْتَ إِلَى مَقْتِهِ

“Wahai anak Adam, seandainya engkau mendengar sifat-sifatmu diceritakan tentang orang lain tanpa mengetahui bahwa itu adalah dirimu sendiri, niscaya engkau akan segera membencinya”

Inilah paradoks manusia. Kita begitu mudah melihat cacat orang lain, tetapi hampir buta terhadap cacat sendiri. Kesalahan yang kita anggap besar ketika dilakukan orang lain berubah menjadi sesuatu yang “bisa dimaklumi” ketika dilakukan oleh diri sendiri.

Baca Juga  Iman, Kesejahteraan, dan Jalan Menuju Keberhasilan Sejati

Andai seseorang menceritakan sosok yang rajin beribadah tetapi suka riya, gemar menasihati tetapi tidak mengamalkan, mudah marah, pendendam, iri hati, dan sulit menerima kritik, mungkin kita akan segera berkata, “Orang seperti itu sungguh buruk.” Yang tidak kita sadari, bisa jadi gambaran itu sedang berbicara tentang diri kita sendiri.

Barangkali itulah sebabnya introspeksi jauh lebih sulit daripada menghakimi. Menilai orang lain hanya membutuhkan mata. Menilai diri sendiri membutuhkan kejujuran.

Lalu hadis itu ditutup dengan nasihat yang sangat praktis, seolah memberi jalan keluar dari seluruh persoalan tadi.

يَا ابْنَ آدَمَ اذْكُرْنِي حِينَ تَغْضَبْ أَذْكُرْكَ حِينَ أَغْضَبُ وَلَا أَمْحَقْكَ فِيمَنْ أَمْحَقُ

“Wahai anak Adam, ingatlah Aku ketika engkau marah, maka Aku akan mengingatmu ketika kemurkaan-Ku datang, dan Aku tidak akan membinasakanmu bersama orang-orang yang dibinasakan”

Marah adalah saat ketika manusia paling mudah kehilangan dirinya. Banyak dosa lahir bukan karena kebencian yang panjang, melainkan karena kemarahan yang hanya berlangsung beberapa menit. Sebuah kalimat yang diucapkan ketika emosi dapat menghancurkan persahabatan bertahun-tahun. Sebuah keputusan yang dibuat dalam kemarahan dapat meninggalkan penyesalan seumur hidup.

Karena itu, mengingat Tuhan saat marah bukan sekadar amalan spiritual. Ia adalah rem bagi ego yang sedang melaju tanpa kendali. Orang yang masih mampu menghadirkan kesadaran akan Allah ketika emosinya memuncak sedang menyelamatkan dirinya dari kerusakan yang lebih besar.

Al-Qur’an sendiri menggunakan kata maاq untuk menggambarkan sesuatu yang tampak ada tetapi kehilangan keberkahan. Allah berfirman:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa” (QS. Al-Baqarah: 276)

Baca Juga  Saat Bersandar kepada Tuhan, Ketergantungan kepada Manusia Memudar

Kehancuran yang paling mengerikan ternyata bukan selalu kehilangan harta atau jabatan, melainkan hilangnya keberkahan, ketenangan, dan cahaya dalam hati.

Pada akhirnya, hadis ini bukan sedang membuat manusia putus asa karena dosa-dosanya. Sebaliknya, ia mengajak kita melihat kenyataan dengan jujur. Tuhan tidak pernah berhenti mengirimkan kebaikan, meski manusia berkali-kali membalasnya dengan kelalaian. Kesadaran itulah yang semestinya melahirkan rasa malu, bukan rasa takut semata.

Mungkin keadilan paling mendasar yang dapat kita lakukan kepada Tuhan adalah menyadari bahwa setiap nikmat layak dijawab dengan syukur, setiap kesalahan layak diakui dengan taubat, dan setiap kemarahan layak diredam dengan mengingat-Nya. Sebab ketika manusia mulai jujur kepada dirinya sendiri, di situlah ia mulai belajar berlaku adil kepada Tuhan.

Bagikan:
Terkait
Komentar