Imam Husain dan Tanggung Jawab Melawan Kezaliman

KHAMENEI.ID– Ada kalanya sejarah tidak sedang bercerita tentang masa lalu. Ia justru sedang berbicara kepada siapa pun yang hidup hari ini. Kisah Imam Husain a.s di Karbala adalah salah satunya. Peristiwa itu bukan sekadar tragedi berdarah yang dikenang setiap Muharam, melainkan sebuah pertanyaan yang terus bergema: apa yang harus dilakukan ketika kezaliman berdiri di hadapan kita?

Dalam perjalanan menuju Karbala, Imam Husain a.s berhenti di sebuah tempat. Di sana ia menyampaikan pidato yang kemudian menjadi salah satu pernyataan moral paling penting dalam sejarah Islam. Ia mengutip sabda Rasulullah saw:

مَنْ رَأَى سُلْطَانًا جَائِرًا مُسْتَحِلًّا لِحُرُمَاتِ اللَّهِ، نَاكِثًا لِعَهْدِ اللَّهِ، مُخَالِفًا لِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، يَعْمَلُ فِي عِبَادِ اللَّهِ بِالإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ، فَلَمْ يُغَيِّرْ عَلَيْهِ بِفِعْلٍ وَلَا قَوْلٍ، كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ مَدْخَلَهُ

“Barang siapa melihat penguasa yang zalim, menghalalkan apa yang diharamkan Allah, mengingkari perjanjian-Nya, menyalahi sunah Rasul-Nya, dan memperlakukan hamba-hamba Allah dengan dosa serta permusuhan, lalu ia tidak menentangnya dengan tindakan ataupun perkataan, maka Allah berhak menempatkannya bersama penguasa zalim itu”

Kalimat itu tidak diawali dengan seruan kepada orang-orang beriman saja. Imam Husain a.s berkata, “Wahai manusia” Sebuah panggilan yang melampaui batas agama, bangsa, dan zaman. Seolah-olah pidato itu memang ditujukan kepada siapa saja yang suatu hari akan berhadapan dengan kekuasaan yang menindas.

Di titik ini, Karbala berhenti menjadi kisah tentang satu keluarga Nabi saw yang dizalimi. Ia berubah menjadi sebuah filsafat perlawanan terhadap ketidakadilan.

Yang menarik, hadis tersebut juga tidak mengatakan bahwa kewajiban melawan muncul hanya ketika orang-orang beriman menjadi korban. Rasulullah saw menggunakan ungkapan “hamba-hamba Allah”. Artinya, siapa pun manusianya. Ketika sebuah kekuasaan menindas manusia, merampas hak mereka, menyebarkan ketakutan, mengobarkan peperangan, atau menjadikan penindasan sebagai cara mempertahankan kekuasaan, maka diam bukan lagi pilihan yang netral.

Baca Juga  Mereka yang Berdiri di Batas Rapuh Kehidupan 

Diam justru menjadi sikap yang memiliki konsekuensi moral.

Dalam konteks yang lebih luas, pesan ini terasa sangat relevan dengan dunia modern. Bentuk kezaliman hari ini mungkin tidak selalu hadir dalam sosok seorang raja seperti pada masa lampau. Ia bisa menjelma menjadi kekuatan politik yang mengobarkan perang demi kepentingan ekonomi, sistem yang mengeksploitasi bangsa-bangsa lemah, penjajahan yang berganti wajah, atau propaganda yang membenarkan penindasan atas nama keamanan.

Kezaliman selalu menemukan bentuk baru, tetapi hakikatnya tetap sama: merendahkan martabat manusia.

Karena itu, Imam Husain a.s tidak sedang mengajarkan kebencian terhadap kelompok tertentu. Yang ia lawan adalah logika kekuasaan yang menganggap dirinya boleh melanggar batas-batas moral demi mempertahankan dominasi.

Gagasan ini kemudian menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: sebenarnya apa tujuan Imam Husain a.s bergerak menuju Karbala?

Selama berabad-abad, pertanyaan itu melahirkan berbagai jawaban. Sebagian mengatakan beliau ingin merebut pemerintahan. Sebagian lain beranggapan beliau memang sengaja mencari kesyahidan.

Namun, jika pidato di tengah perjalanan itu dibaca dengan saksama, jawaban Imam Husain a.s justru jauh lebih sederhana sekaligus lebih mendalam. Ia bergerak karena menjalankan kewajiban.

Kewajiban itu adalah berdiri di hadapan kezaliman.

Apakah kemudian perjuangan itu berujung pada kemenangan politik atau justru syahadah, keduanya hanyalah kemungkinan. Yang menjadi tujuan utama bukanlah kekuasaan maupun kematian, melainkan kesetiaan kepada prinsip.

Di sinilah letak perbedaan antara perjuangan yang didorong ambisi dan perjuangan yang lahir dari tanggung jawab moral. Orang yang mengejar kekuasaan akan berhenti ketika peluang menang menghilang. Sebaliknya, orang yang menjalankan kewajiban tetap melangkah sekalipun hasil akhirnya tidak dapat dipastikan.

Itulah sebabnya Karbala dikenang bukan karena jumlah tentaranya, melainkan karena kualitas sikapnya.

Baca Juga  Amal Baik dan Rahmat Allah: Ketika Timbangan Akhir Tidak Sekadar Menghitung Dosa

Dalam kehidupan sehari-hari, pesan itu sesungguhnya tidak selalu menuntut seseorang turun ke medan perang. Hadis Nabi a.s menyebut dua bentuk perlawanan: dengan tindakan dan dengan perkataan.

Ada masa ketika tindakan nyata menjadi sebuah keharusan. Namun ada pula keadaan ketika seseorang belum mampu berbuat lebih jauh. Dalam situasi seperti itu, setidaknya ia tidak membiarkan kezaliman menjadi sesuatu yang tampak wajar. Ia tetap menjaga suara hati, menyatakan keberpihakan kepada keadilan, dan menolak ikut menyuburkan kebohongan.

Sikap inilah yang sering kali paling sulit dipertahankan. Sebab tekanan zaman bukan hanya memaksa orang melakukan kesalahan, tetapi juga membiasakan mereka menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang normal.

Karbala mengingatkan bahwa keruntuhan moral sebuah masyarakat tidak selalu dimulai oleh para pelaku kezaliman. Kadang ia justru dimulai ketika terlalu banyak orang baik memilih diam.

Itulah mengapa Imam Husain a.s menegaskan bahwa membiarkan kezaliman tanpa sikap bukan sekadar persoalan politik. Ia adalah persoalan tanggung jawab di hadapan Allah. Seorang manusia tidak hanya dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia lakukan, tetapi juga atas apa yang ia biarkan terjadi ketika ia memiliki kesempatan untuk menyatakan penolakannya.

Akhirnya, Karbala bukan sekadar tentang bagaimana Imam Husain a.s gugur. Yang jauh lebih penting adalah mengapa ia memilih berjalan menuju tempat itu. Jawabannya bukan demi kekuasaan, bukan pula demi kematian yang heroik, melainkan demi memenuhi panggilan nurani yang tidak bisa ditawar.

Sejarah memang mencatat Karbala sebagai sebuah tragedi. Namun di balik tragedi itu tersimpan pelajaran yang terus hidup: selama masih ada manusia yang ditindas, selama masih ada kekuasaan yang berdiri di atas ketidakadilan, pesan Imam Husain a.s belum pernah selesai diucapkan. Ia terus memanggil setiap generasi untuk menentukan satu sikap paling mendasar; apakah akan menjadi saksi yang diam, atau manusia yang memilih berpihak kepada keadilan.

Baca Juga  Saat Spiritualitas Bertemu Politik Dunia
Bagikan:
Terkait
Komentar