Gaya Hidup Mewah yang Merusak Pernikahan

Banyak pasangan muda gagal melangkah ke pelaminan hanya karena terhalang oleh tuntutan mahar selangit dan seserahan mewah. Padahal, menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mahar dan seserahan bukanlah sumber kebahagiaan, bahkan bisa menjadi beban yang menghalangi pernikahan. Justru kesederhanaan dan peneladanan kepada keluarga Nabi Muhammad Saw lah yang membawa keberkahan. Berikut adalah nasihat-nasihat beliau tentang masalah materi dalam pernikahan.

Mahar Murah dan Cara Nabi Melawan Tradisi Jahiliah

Mahar yang sedikit lebih dekat dengan fitrah pernikahan, karena pernikahan pada hakikatnya bukanlah transaksi dagang, jual beli, atau sewa-menyewa. Ini adalah kehidupan dua manusia yang tidak bergantung pada masalah materi. Syariat memang menetapkan adanya mahar, tetapi jangan sampai memberatkan. Mahar harus bersifat wajar dan bisa dilaksanakan oleh semua kalangan. Nabi Muhammad Saw sendiri yang mensyariatkan mahar, beliau adalah makhluk tertinggi di alam semesta. Putri sucinya, Fatimah, adalah wanita tertinggi sepanjang masa, dan menantunya, Ali, adalah manusia tertinggi setelah Nabi Saw. Mereka semua adalah orang nomor satu di Madinah, muda, tampan/cantik, memiliki status dan kehormatan. Lalu, berapa besar mahar yang ditetapkan Nabi untuk putrinya? Sangat sedikit. Nabi datang untuk mematahkan tradisi jahiliah yang memberatkan, karena mahar besar justru menghalangi pernikahan para pemuda. Mulailah pernikahan dengan cara yang mudah dari segi materi, karena yang terpenting adalah pemeliharaan nilai-nilai kemanusiaan dan akhlak.

Mengapa Ada Penekanan pada 14 Koin Emas Bukan Lebih?

Bukan berarti mahar lebih dari 14 koin emas dilarang atau merusak pernikahan. Empat belas ribu koin pun tidak masalah secara syariat. Tujuannya adalah agar aspek spiritual pernikahan lebih dominan daripada aspek materi. Jangan sampai pernikahan seperti transaksi bisnis atau jual beli. Dengan mengurangi ritual dan tuntutan materi, aspek spiritual akan menguat.

Baca Juga  Keluarga Tempat yang Dibenci Setan Tapi Dicari Setiap Jiwa yang Lelah

Mahar Bersifat Simbolis, Bukan Transaksi

Apa yang terjadi dalam pernikahan adalah peristiwa ikatan kemanusiaan, bukan transaksi uang atau harta. Meskipun ada harta di dalamnya, dalam syariat Islam harta itu bersifat simbolis dan kode (rambu), bukan jual beli atau utang-piutang. Karena itu, mahar tidak boleh menjadi beban.

Seserahan Bukanlah Sumber Kemuliaan bagi Mempelai

Kemuliaan seorang gadis terletak pada akhlak, perilaku, dan kepribadiannya, bukan pada banyaknya seserahan. Banyak keluarga pengantin wanita yang menyiksa diri sendiri, meminjam uang, atau mengeluarkan biaya berlebihan hanya untuk menyediakan seserahan yang gemerlap. Padahal, mahar dan seserahan yang berlebihan tidak akan membahagiakan seorang  pengantinpun, juga tidak akan membawa ketentraman dan kepercayaan bagi keluarga. Itu semua hanyalah sampah hidup yang tidak berguna selain mendatangkan masalah, kesulitan, dan kesusahan.

Jangan Berhutang untuk Seserahan, Jangan Merasa Terhina

Jangan sampai kalian pergi meminjam uang untuk menyiapkan seserahan. Jangan menyiksa diri dan keluarga. Jangan pernah mengira bahwa jika seserahan putri kalian lebih sedikit daripada seserahan tetangga atau kerabat, itu adalah suatu kehinaan. Sekali lagi, itu bukan kehinaan.

Persaingan dan Masalah Sosial Seserahan

Keluarga-keluarga sering menjadikan seserahan sebagai masalah besar karena adanya persaingan tidak sehat. Setelah mereka sendiri menderita karenanya, giliran keluarga lain yang ikut menderita. Ketika kalian menyiapkan begitu banyak barang untuk seserahan anak-anak kalian, bagaimana dengan orang lain yang melihatnya? Sampai kapan persaingan ini akan berakhir? Islam menginginkan hal-hal seperti ini tidak terjadi.

Teladan Seserahan Pengantin Wanita Terbaik di Dunia

Sekali lagi, lihatlah Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad Saw. Belum pernah ada gadis sebaik, semulia, dan seagung Fatimah az-Zahra. Semua wanita dari awal hingga akhir zaman dihadapannya bagaikan pelayan atau partikel debu di bawah sinar matahari. Suaminya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, adalah pria terbaik sepanjang masa. Mereka berdua menikah. Seserahan mereka hanyalah beberapa barang murah yang tercatat dalam sejarah: sepotong tikar anyaman, sepotong sabut kurma, satu set tempat tidur dan batu gilingan, satu kendi, satu mangkuk. Jika diuangkan pada zaman sekarang, mungkin tidak lebih dari beberapa ribu rupiah. Mahar dari Ali bin Ani Thalib as diambil, lalu uangnya dibelanjakan untuk seserahan itu, kemudian dibawa ke rumah suami.

Baca Juga  Peran Suami-Istri dalam Membangun Keluarga Islami

Tentu saja, Imam Ali Khamenei tidak mengatakan bahwa putri-putri kita seperti Fatimah, atau suami mereka seperti Ali. Perbedaan kita bagaikan bumi dan langit. Namun, jelas bahwa jalan yang benar adalah jalan itu, dan arahnya adalah arah itu. Ambillah seserahan dengan sederhana. Jangan pedulikan orang lain, jangan keluar biaya banyak, jangan persulit orang yang tidak mampu.

Seserahan Fatimah Begitu Sederhana hingga Mudah Dipindahkan

Seserahan Fatimah az-Zahra begitu sedikit sehingga mungkin dua orang bisa memindahkannya dari rumah ayah ke rumah suami dengan tangan kosong. Itulah kebanggaan dan nilai mereka. Apakah Nabi Muhammad Saw tidak mampu menyediakan seserahan lengkap dan mewah? Tentu saja bisa. Jika beliau memberi isyarat, para sahabat yang kaya raya akan berlomba-lomba memberi hadiah. Namun Nabi sengaja tidak melakukannya, agar kita semua belajar. Jika kita hanya duduk-duduk mengagumi tanpa mengamalkan, itu tidak berguna. Resep dokter tidak boleh hanya dipajang, harus diamalkan. Model asupan bagi jiwa dan pola makan kesehatan masyarakat serta keluarga ini harus diamalkan. Selenggarakan pernikahan dengan sederhana.

Peran Aktif Pengantin Wanita untuk Mencegah Pemborosan

Para calon pengantin wanita, jangan biarkan seserahan dibuat memberatkan. Para gadis, jangan biarkan hal itu terjadi. Para ayah dan ibu, jika keinginan muncul, jangan biarkan. Mau diapakan semua barang mahal itu? Para ibu dari pengantin wanita hendaknya menahan diri dalam menyiapkan seserahan, jangan berlebihan dan jangan boros. Jangan berkata, “Ini putri kami, kami menjaga hatinya.” Para gadis sebenarnya baik-baik saja, mereka tidak menginginkan itu semua. Kita jangan menarik hati mereka ke arah konsumerisme berlebihan.

Tidak Perlu Berbelanja di Tempat Mahal

Para gadis yang ingin menyiapkan seserahan, jangan menginjakkan kaki di toko-toko mahal di daerah elit tertentu. Jangan sampai mempelai pria yang malang itu dibawa-bawa untuk berbelanja barang-barang mewah. Sayang sekali, hal-hal seperti ini masih sering terjadi.

Baca Juga  Pernikahan sebagai Mesin Gerak Menuju Tuhan

Demikianlah nasihat-nasihat luhur dari Ayatullah Sayyid Ali Khamenei (semoga Allah meridhainya) –– yang mengajak umat Islam untuk mengembalikan pernikahan kepada fitrahnya yang sederhana, penuh cinta, dan jauh dari gaya hidup konsumtif.

Bagikan:
Terkait
Komentar