Haji Bara’ah: Ketika Ibadah Menjadi Pernyataan Sikap terhadap Penindasan

KHAMENEI.ID – Setiap tahun jutaan Muslim berangkat ke Tanah Suci membawa doa, harapan, dan air mata. Namun, Imam Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa haji bukan hanya perjalanan spiritual. Ada dimensi lain yang sering terlupakan: dimensi sikap, salah satunya adalah Bara’ah—haji yang menegaskan pembebasan diri dari kezaliman.

Sejak awal Revolusi Islam, tradisi bara’ah—pernyataan berlepas diri dari penindasan—telah menjadi bagian dari praktik haji. Namun menurut Imam Khamenei, situasi dunia menjadikan makna itu semakin mendesak. Haji tidak boleh berhenti sebagai ritual sunyi; ia harus menjadi pernyataan moral yang jelas terhadap ketidakadilan global.

Untuk menjelaskan hal ini, beliau mengajak kembali kepada sosok Nabi Ibrahim, figur yang selalu diasosiasikan dengan kelembutan, doa, dan kasih sayang. Tetapi Al-Qur’an menunjukkan sisi lain Ibrahim: ketegasan moral.

«قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ…» (الممتحنة: 4)

“Sesungguhnya telah ada teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah swt…’”

Ayat ini sering dibaca sebagai kisah masa lalu, tetapi dalam ceramah ini ia ditarik ke masa kini. Ibrahim yang lembut ternyata juga mampu berdiri tegas di hadapan kelompok yang memusuhi kebenaran. Ia berdoa untuk kaum yang tersesat, tetapi ia tidak ragu menyatakan pemisahan tegas terhadap pihak yang agresif dan menindas.

Di sinilah letak keseimbangan yang ingin ditekankan: Islam tidak mengajarkan permusuhan tanpa sebab. Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa kebaikan dan keadilan tetap harus diberikan kepada non-Muslim yang tidak memusuhi. Namun sikap berubah ketika penindasan terjadi.

Baca Juga  Pesan Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei, Pemimpin Agung Revolusi Islam, dalam Rangka Peringatan 40 Hari Syahidnya Pemimpin Agung Revolusi

Kelanjutan ayat yang sama menegaskan batas itu:

«إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِن دِيَارِكُمْ…» (الممتحنة: 9)

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan teman setia orang-orang yang memerangimu karena agama, mengusirmu dari negerimu, atau membantu orang lain untuk mengusirmu.”

Ayat ini memberikan garis yang sangat jelas: persoalannya bukan perbedaan keyakinan, melainkan agresi dan penindasan. Menurut beliau, bara’ah adalah sikap terhadap penindasan—bukan terhadap perbedaan.

Lalu siapa yang dimaksud dalam konteks dunia hari ini? Imam Khamenei menyebut realitas yang, menurutnya, sulit dipungkiri: ada pihak yang membunuh, mengusir, dan menindas masyarakat Muslim, baik secara langsung maupun melalui dukungan politik dan militer.

Pernyataan ini tentu bukan sekadar slogan. Ia mengubah cara pandang terhadap haji itu sendiri. Selama ini, haji sering dipahami sebagai perjalanan personal menuju kesalehan. Padahal sejak awal sejarah Islam, haji juga memiliki dimensi sosial dan politik: pertemuan umat terbesar di dunia, ruang solidaritas global, dan panggung kesadaran kolektif.

Bayangkan jutaan orang berkumpul dalam pakaian yang sama, tanpa simbol status, tanpa perbedaan ras atau bangsa. Dalam momen itu, umat Islam sebenarnya sedang mempraktikkan visi kesetaraan global. Menurut ceramah ini, jika kesetaraan itu berhenti pada ritual, maka pesan haji belum sepenuhnya hidup.

Konsep bara’ah menghidupkan kembali dimensi keberpihakan dalam ibadah. Ia mengingatkan bahwa spiritualitas tidak boleh terpisah dari keadilan. Doa tidak boleh memisahkan diri dari realitas penderitaan manusia. Air mata di Arafah seharusnya juga menjadi kesadaran terhadap tangisan di tempat lain.

Namun menariknya, Imam Khamenei tidak menempatkan bara’ah sebagai ajakan kebencian. Justru sebaliknya: ia menegaskan bahwa sikap tegas terhadap penindasan adalah bagian dari keadilan moral. Ketika seseorang berdamai dengan penindasan, Al-Qur’an memperingatkan keras:

Baca Juga  Wajah Asli Peradaban Barat di Gaza: Membaca Kritik Imam Ali Khamenei atas Krisis Kemanusiaan

«وَمَن يَتَوَلَّهُم فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ»

“Barang siapa menjadikan mereka sebagai teman setia, maka mereka itulah orang-orang zalim.”

Kalimat ini terasa berat, tetapi dalam kerangka pemikiran Imam, ia adalah peringatan agar umat tidak kehilangan kepekaan moral. Dunia modern sering mengaburkan batas antara korban dan penindas, antara agresi dan diplomasi. Dalam situasi seperti itu, bara’ah menjadi kompas etika.

Haji Bara’ah, pada akhirnya, bukan sekadar tema tahunan. Ia adalah ajakan untuk mengingat kembali makna besar ibadah: bahwa hubungan dengan Allah swt tidak terpisah dari hubungan dengan manusia. Bahwa kesalehan tidak boleh membuat seseorang buta terhadap ketidakadilan.

Ketika jutaan orang bertalbiyah di Tanah Suci, pesan yang ingin ditegaskan beliau sederhana namun kuat: iman tidak hanya mengajarkan cinta, tetapi juga keberanian untuk menolak penindasan. Dan di situlah haji menemukan makna sosialnya yang paling dalam.

Bagikan:
Terkait
Komentar