KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang sering berulang dalam kehidupan beragama: jika Tuhan memang menghendaki sesuatu tetap hidup, maka manusia tidak perlu bersusah payah menjaganya. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Para syuhada akan selalu dikenang. Nilai-nilai luhur tidak akan pernah hilang. Namun sejarah justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Banyak kebenaran terkubur bukan karena ia kehilangan cahaya, melainkan karena tak ada lagi manusia yang bersedia memeliharanya.
Di situlah letak hubungan yang unik antara kehendak Ilahi dan ikhtiar manusia. Tuhan berkuasa atas segala sesuatu, tetapi Dia juga menetapkan bahwa banyak kehendak-Nya diwujudkan melalui tangan-tangan manusia.
Prinsip inilah yang tampak ketika berbicara tentang para syuhada. Sosok seperti Syahid Qasem Soleimani, misalnya, tidak cukup hanya dikenang sebagai tokoh sejarah. Ia harus tetap hidup dalam ingatan kolektif, dalam cerita, tulisan, pendidikan, dan nilai-nilai yang diwariskannya. Sebab, jika debu kelupaan dibiarkan menutupi jejaknya, yang hilang bukan sekadar nama seseorang, melainkan semangat yang pernah menggerakkan banyak hati.
Namun jika ditarik lebih jauh, persoalan ini sesungguhnya bukan hanya tentang seorang syahid. Ini adalah hukum yang berlaku bagi seluruh nilai kemanusiaan. Keadilan, keberanian, pengorbanan, bahkan kebenaran itu sendiri tidak pernah bertahan hanya karena ia benar. Ia bertahan karena selalu ada orang yang memilih untuk merawatnya.
Kita sering mengatakan bahwa Allah menjaga agama-Nya. Pernyataan itu benar. Tetapi penjagaan tersebut tidak berlangsung secara ajaib tanpa melibatkan manusia. Sejarah Islam sendiri memberikan contoh yang paling nyata melalui Imam Husain a.s. Tragedi Karbala tetap hidup hingga hari ini bukan semata-mata karena ia merupakan peristiwa besar dalam sejarah, melainkan karena dari generasi ke generasi selalu ada orang yang mengisahkannya, menghadiri majelisnya, menyampaikan khutbahnya, melantunkan ratapan, dan menghidupkan pesan perjuangannya.
Seandainya semua itu berhenti dilakukan, maka kehendak Allah untuk menjaga pesan Karbala tentu tidak berubah. Namun kehendak itu memang sejak awal ditetapkan berjalan melalui sebab-sebab yang diciptakan-Nya. Dan salah satu sebab itu adalah manusia sendiri.
Di titik ini, doa yang diajarkan Imam Zainal Abidin a.s dalam Shahifah Sajjadiyah menghadirkan pemahaman yang sangat dalam:
ذَلَّتْ لِقُدْرَتِكَ الصِّعَابُ، وَتَسَبَّبَتْ بِلُطْفِكَ الْأَسْبَابُ، وَجَرَى بِقُدْرَتِكَ الْقَضَاءُ، وَمَضَتْ عَلَى إِرَادَتِكَ الْأَشْيَاءُ
“Segala kesulitan tunduk kepada kekuasaan-Mu. Berbagai sebab bekerja karena kelembutan rahmat-Mu. Ketetapan berjalan dengan kuasa-Mu, dan segala sesuatu berlangsung menurut kehendak-Mu”
Kalimat “berbagai sebab bekerja karena kelembutan rahmat-Mu” menyimpan pelajaran yang sering luput dari perhatian. Dalam pandangan tauhid, sebab bukanlah pesaing Tuhan. Sebab justru merupakan cara Tuhan bekerja di dunia. Matahari menghangatkan bumi karena Dia menghendakinya. Air menghilangkan dahaga karena Dia menjadikannya demikian. Seorang guru mencerdaskan muridnya, seorang ibu membesarkan anaknya, seorang penulis mengabadikan gagasan, semua itu adalah rangkaian sebab yang memperoleh daya kerjanya dari izin Allah.
Karena itulah Islam tidak pernah mengajarkan kepasrahan yang pasif. Tawakal bukan berarti menunggu tanpa bergerak. Justru orang yang paling yakin kepada kehendak Allah adalah mereka yang paling sungguh-sungguh menjalankan tanggung jawabnya.
Dalam konteks yang lebih luas, hukum sebab-akibat ini juga menjelaskan mengapa peradaban bisa bangkit sekaligus runtuh. Sebuah bangsa tidak menjadi kuat hanya karena memiliki cita-cita besar. Ia membutuhkan pendidikan, keteladanan, kerja keras, dan keberanian mengambil risiko. Semua itu adalah sebab-sebab yang disediakan Tuhan agar perubahan benar-benar terjadi.
Begitu pula dengan ingatan kolektif sebuah masyarakat. Lupa bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan ketika generasi berhenti membaca sejarahnya, berhenti mengenal tokoh-tokohnya, dan berhenti menceritakan nilai-nilai yang pernah menghidupkan mereka. Pada saat itulah debu kelupaan mulai menutupi wajah sejarah.
Karena itu, mengenang para syuhada sesungguhnya bukan sekadar mengenang masa lalu. Yang dijaga bukan makam mereka, melainkan pesan yang mereka tinggalkan. Sebab sejarah yang hidup bukanlah sejarah yang tersimpan di museum, melainkan sejarah yang terus melahirkan manusia-manusia baru dengan semangat yang sama.
Gagasan ini kemudian menyentuh kehidupan setiap orang. Kita mungkin bukan ulama besar, bukan pejuang, dan bukan tokoh yang namanya akan dicatat dalam buku sejarah. Tetapi setiap orang selalu menjadi bagian dari sebab-sebab yang Allah hadirkan di dunia. Ada yang menjadi sebab lahirnya ilmu, ada yang menjadi sebab hadirnya kedamaian dalam keluarga, ada yang menjadi sebab tumbuhnya harapan bagi orang lain, dan ada pula yang menjadi sebab lestarinya sebuah nilai.
Mungkin itulah pelajaran terpenting yang sering terlupakan. Kehendak Allah memang pasti terlaksana. Namun dalam kebijaksanaan-Nya, Dia memuliakan manusia dengan memberi ruang untuk ikut mengambil bagian dalam mewujudkannya. Kita bukan penguasa atas hasil, tetapi kita dipercaya menjadi perantara bagi hadirnya hasil itu.
Maka pertanyaan yang layak direnungkan bukan lagi apakah Tuhan akan menjaga kebenaran. Dia pasti menjaganya. Yang lebih penting adalah: ketika Allah memilih sebab-sebab bagi terlaksananya kehendak-Nya, apakah kita termasuk di antara sebab-sebab itu, atau justru menjadi bagian dari mereka yang membiarkan debu kelupaan menelan nilai-nilai yang seharusnya tetap hidup?







