Imam Ridha, Di’bil al-Khuza’i, Puisi dalam Islam, Hadiah Imam Ridha, Kisah Ahlul Bait, khamenei, imam ali khamenei

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika puisi bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ia adalah media paling berpengaruh, jauh sebelum surat kabar, radio, televisi, atau media sosial lahir. Sebait syair dapat berpindah dari mulut ke mulut, menembus kota-kota, menggerakkan hati, membentuk opini, bahkan mengubah nasib seseorang. Di dunia Islam klasik, penyair bukan hanya seniman. Ia adalah penyampai gagasan, penjaga ingatan, sekaligus saksi zamannya.

Kisah penyair besar bernama Di’bil al-Khuza’i menjadi salah satu bukti paling menarik tentang kekuatan kata-kata. Bukan hanya karena syairnya dipuji oleh Imam Ridha a.s, tetapi juga karena puisi yang ia ciptakan suatu hari justru menjadi penyelamat dirinya dari tangan para perampok.

Di’bil dikenal sebagai penyair yang berani. Syair-syairnya tidak lahir untuk mencari pujian penguasa, melainkan untuk menyuarakan kecintaan kepada Ahlul Bait di tengah situasi politik yang tidak selalu bersahabat. Dalam salah satu perjalanannya, ia datang menemui Imam Ridha a.s di Khurasan dan membacakan qasidah panjang yang kemudian dikenal sebagai salah satu karya paling masyhur dalam sejarah sastra Islam.

Di tengah pembacaan itu, Di’bil bertanya kepada Imam Ridha a.s tentang sebuah makam di kota Thus. Sang Imam a.s menjawab dengan kalimat yang kelak terbukti menjadi kenyataan.

أَلَا فَمَنْ زَارَنِي فِي غُرْبَتِي بِطُوسَ كَانَ مَعِي فِي دَرَجَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَغْفُورًا لَهُ

“Ketahuilah, siapa yang menziarahiku di masa keterasinganku di Thus, ia akan bersamaku pada derajatku di hari kiamat dalam keadaan telah diampuni dosa-dosanya”

Ucapan itu bukan sekadar kabar tentang masa depan. Imam Ridha a.s sedang menggambarkan bahwa sebuah tempat yang saat itu masih sunyi suatu hari akan menjadi pusat kerinduan jutaan manusia. Kota Thus, yang kelak dikenal sebagai Mashhad, benar-benar menjadi tempat yang tak pernah sepi dari para peziarah.

Baca Juga  Ketika “Ya Allah” Sudah Menjadi Jawaban: Makna Tersembunyi di Balik Doa dan Tawakal

Setelah qasidah selesai dibacakan, Imam Ridha a.s meminta Di’bil tetap berada di tempatnya. Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawa seratus dinar sebagai hadiah. Namun Di’bil menolaknya dengan halus. Ia bersumpah bahwa dirinya tidak datang demi memperoleh harta dan tidak menyusun syair karena mengharap imbalan.

Sikap itu memperlihatkan sesuatu yang jarang ditemukan: seorang penyair yang menjaga kemerdekaan nuraninya. Kata-kata yang ia tulis bukan barang dagangan.

Di’bil hanya meminta satu hal: sehelai pakaian milik Imam Ridha a.s sebagai kenang-kenangan dan sumber keberkahan. Imam Ridha a.s mengabulkannya. Beliau menghadiahkan sebuah jubah sekaligus mengirimkan kembali kantong dinar yang tadi ditolak. Kali ini Imam berpesan agar hadiah itu diterima karena suatu hari nanti Di’bil akan membutuhkannya.

Di’bil akhirnya menerima keduanya tanpa benar-benar mengetahui mengapa Imam a.s begitu menekankan pesan tersebut.

Namun perjalanan pulang segera menjawabnya.

Di tengah padang yang sepi, rombongan kafilahnya dihadang para penyamun. Seluruh barang dirampas. Para musafir diikat. Tidak ada yang tersisa selain rasa pasrah menunggu nasib.

Di titik inilah kisah itu berubah menjadi sesuatu yang nyaris seperti adegan dalam sebuah novel.

Ketika para perampok mulai membagi hasil rampasan, pemimpin atau salah seorang dari mereka melantunkan sepotong bait syair:

أَرَى فَيْئَهُمْ فِي غَيْرِهِمْ مُتَقَسِّمًا
وَأَيْدِيهِمْ مِنْ فَيْئِهِمْ صِفْرَاتٍ

“Aku melihat hak milik mereka justru terbagi ke tangan orang lain, sementara tangan mereka sendiri kosong dari apa yang semestinya menjadi milik mereka”

Di’bil terkejut. Ia mengenali bait itu. Itu adalah syairnya sendiri.

Ia kemudian bertanya, “Milik siapakah syair yang baru saja engkau baca?”

Orang itu menjawab, “Itu syair Di’bil bin Ali al-Khuza’i”

Baca Juga  Qasem Soleimani: Ketika Kejujuran dan Keikhlasan Menjadi Sebuah Mazhab

Dengan tenang Di’bil berkata, “Akulah Di’bil”

Kabar itu segera disampaikan kepada pemimpin kelompok perampok yang saat itu sedang menunaikan salat di atas sebuah bukit. Ternyata ia adalah seorang pecinta Ahlul Bait yang mengenal baik qasidah Di’bil. Ia turun menghampiri penyair itu dan meminta agar seluruh qasidah dibacakan kembali.

Di tengah gurun yang sebelumnya dipenuhi ancaman, suara puisi kembali menggema.

Setelah qasidah selesai dibacakan, sesuatu yang tak pernah diduga terjadi. Seluruh ikatan para tawanan dilepaskan. Semua barang rampasan dikembalikan. Tidak hanya milik Di’bil, tetapi juga seluruh harta para anggota kafilah.

Puisi yang dahulu lahir dari keyakinan kini kembali kepada penciptanya sebagai penyelamat.

Kisah ini menyimpan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar keajaiban sebuah peristiwa. Ia menunjukkan bahwa kata-kata memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada tubuh penulisnya. Sebuah gagasan yang lahir dengan kejujuran akan menemukan jalannya sendiri melintasi ruang dan waktu.

Dalam dunia modern, kita hidup di tengah banjir informasi. Setiap hari jutaan kata diproduksi. Namun hanya sedikit yang benar-benar tinggal dalam ingatan. Sebagian besar menghilang secepat kemunculannya.

Syair Di’bil justru memperlihatkan kebalikannya. Ia tidak viral karena algoritma, melainkan karena makna. Ia tidak bertahan karena dipromosikan, melainkan karena mengandung kebenaran yang menyentuh hati.

Di sinilah letak perbedaan antara kata-kata yang sekadar menghibur dan kata-kata yang membentuk peradaban. Yang pertama berhenti di telinga. Yang kedua menetap di hati.

Hadiah Imam Ridha a.s kepada Di’bil pun memiliki makna yang lebih dalam daripada nilai materi. Jubah itu adalah penghormatan kepada ketulusan seorang penyair. Adapun dinar yang semula ditolak ternyata menjadi bekal yang benar-benar diperlukan, sebagaimana telah diketahui Imam a.s sebelumnya. Ada pelajaran tentang keikhlasan sekaligus tentang kebijaksanaan menerima karunia ketika ia datang dari jalan yang benar.

Baca Juga  Bahaya Infiltrasi dan Perang Hibrida: Mengapa Ketahanan Umat Lebih Penting daripada Kekuatan Senjata?

Pada akhirnya, kisah Di’bil mengingatkan bahwa karya yang lahir dari iman dan integritas tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin melintasi gurun, melewati generasi, bahkan singgah di bibir seorang yang tak pernah kita bayangkan. Dan ketika saatnya tiba, kata-kata itu dapat kembali kepada penulisnya, bukan hanya sebagai kenangan, tetapi sebagai penyelamat.

Barangkali itulah sebabnya sejarah tidak hanya mengingat para penguasa yang memegang pedang. Ia juga mengingat para penyair yang memegang pena. Sebab dalam banyak kesempatan, yang mengubah arah manusia bukanlah kekuatan senjata, melainkan kekuatan sebuah kalimat yang lahir dari hati yang tulus.

Bagikan:
Terkait
Komentar