Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 1): Mengapa Al-Qur’an Memperkenalkan Diri sebagai Kitab Petunjuk?

KHAMENEI.ID –

Dalam pandangan Imam Khamenei, awal surah Al-Baqarah menjelaskan secara gamblang tentang kedudukan “hidayah” sebagai tema sentral Al-Qur’an

Setiap orang memiliki jawaban berbeda ketika ditanya, “Apa sebenarnya Al-Qur’an itu?” Sebagian melihatnya sebagai kitab suci yang dibaca saat Ramadan. Sebagian lain memandangnya sebagai kumpulan hukum, sumber pahala, atau bacaan ibadah. Namun ketika Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sendiri pada awal Surah Al-Baqarah, yang pertama kali ditonjolkan justru bukan hukum, kisah para nabi, ataupun mukjizatnya. Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai petunjuk.

Inilah tema yang mendapat perhatian besar dalam penjelasan Imam Ali Khamenei qs mengenai permulaan Surah Al-Baqarah. Menurut beliau, jika ingin memahami posisi Al-Qur’an, maka perhatian pertama harus diarahkan kepada fungsi utamanya sebagai pembimbing manusia menuju jalan hidup yang benar.

Allah SWT berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الم ۝ ذٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 1–2).

Menurut Imam Khamenei, bukan kebetulan jika kata “hudan” (petunjuk) muncul pada permulaan Surah Al-Baqarah. Bahkan, tema hidayah telah diperkenalkan lebih dahulu dalam Surah Al-Fatihah melalui doa yang setiap muslim ulangi berkali-kali setiap hari:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ۝ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
(QS. Al-Fatihah [1]: 6–7).

Beliau mengutip penjelasan Allamah Thabathabai bahwa Surah Al-Fatihah sejak awal hingga akhir merupakan pelajaran tentang adab berbicara kepada Allah swt. Setelah memuji-Nya, mengakui rububiyah-Nya, dan menyatakan penghambaan hanya kepada-Nya, puncak permohonan seorang hamba adalah meminta petunjuk menuju jalan yang lurus.

Baca Juga  Bertahan di Tengah Dunia yang Mengajarkan Ketamakan 

Permintaan itulah yang kemudian dijawab oleh Al-Qur’an pada awal Surah Al-Baqarah. Seolah-olah setelah seorang hamba berdoa, “Tunjukilah kami jalan yang lurus,” Allah menjawab dengan memperkenalkan kitab-Nya: “Inilah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”

Bagi Imam Khamenei, hubungan antara dua surah ini sangat erat. Al-Fatihah adalah permohonan hidayah, sedangkan Al-Baqarah adalah jawaban atas permohonan tersebut.

Beliau kemudian mengajak memperhatikan bahwa ketika Al-Qur’an menyebut keistimewaan bulan Ramadan, yang paling ditonjolkan bukanlah puasa itu sendiri, melainkan turunnya Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk.

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda antara yang benar dan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Ayat ini menunjukkan bahwa dari sekian banyak kemuliaan Al-Qur’an, Allah sendiri memilih menonjolkan fungsi hidayahnya. Padahal Al-Qur’an memiliki begitu banyak keagungan yang tidak mampu dijangkau sepenuhnya oleh akal manusia. Namun ketika memperkenalkan kitab suci-Nya, Allah swt tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab ilmu, kitab sejarah, atau kitab hukum, melainkan kitab petunjuk.

Karena itu, menurut Imam Ali Khamenei, kedudukan hidayah berada pada posisi yang sangat tinggi di antara seluruh pembahasan tentang Al-Qur’an.

Tema tersebut juga berulang di berbagai bagian Al-Qur’an. Hidayah bukan sekadar satu sifat di antara banyak sifat Al-Qur’an, melainkan salah satu benang merah yang menghubungkan keseluruhan kandungannya. Berulang kali Al-Qur’an berbicara tentang membimbing manusia, menunjukkan jalan yang benar, membedakan hak dan batil, serta mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Yang menarik, sasaran hidayah Al-Qur’an bukanlah kelompok tertentu. Al-Qur’an datang membawa pesan universal.

Baca Juga  Manfaat Haji; Rumah Tuhan untuk Semua, dan Ilusi Kekuatan Musuh

Allah SWT berfirman:

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ

“Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.”
(QS. Shad [38]: 87).

Imam Khamenei menegaskan bahwa Al-Qur’an mengklaim dirinya sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Tujuannya adalah mengantarkan manusia menuju ṣirāṭ al-mustaqīm, jalan kehidupan yang benar dan yang akan mengantarkan manusia kepada tujuan penciptaannya.

Dari sudut pandang ini, membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas spiritual untuk memperoleh pahala, tetapi sebuah proses mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar kehidupan. Ketika manusia memahami Al-Qur’an dengan benar, mentadabburinya, dan menjadikannya pedoman, ia akan menemukan jawaban atas persoalan hidup yang paling mendasar: bagaimana hidup harus dijalani, ke mana arah perjalanan manusia, dan nilai apa yang harus dijadikan ukuran dalam setiap keputusan.

Karena itu, menurut Imam Khamenei, hubungan seorang muslim dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada tilawah semata. Al-Qur’an diturunkan agar manusia mengambil petunjuk darinya. Semakin dalam seseorang memahami kandungannya, semakin jelas pula jalan yang terbentang di hadapannya.

Permulaan Surah Al-Baqarah mengingatkan bahwa kitab suci ini pertama-tama adalah kitab petunjuk. Siapa yang datang kepadanya dengan kesediaan untuk menerima bimbingan, akan menemukan arah. Sebaliknya, siapa yang hanya menjadikannya sebagai bacaan tanpa usaha memahami dan mengamalkannya, tidak akan memperoleh tujuan utama dari diturunkannya Al-Qur’an. Itulah sebabnya, setelah seorang hamba setiap hari memohon, “Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm,” Allah swt memperkenalkan Al-Qur’an sebagai jawaban atas doa tersebut: “ذٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ”—inilah kitab yang menjadi petunjuk bagi mereka yang siap menerima hidayah.

Bagikan:
Terkait
Komentar