Mab’ats Nabi Muhammad: Ketika Para Nabi Datang Membangunkan Nurani Manusia

KHAMENEI.ID– Setiap zaman memiliki wajah penderitaannya sendiri. Dahulu, manusia diperbudak oleh berhala dan penguasa yang menganggap dirinya tuhan. Hari ini, bentuknya mungkin berganti menjadi kerakusan, ketimpangan sosial, manipulasi informasi, atau penyembahan terhadap kekuasaan dan materi. Wajahnya berubah, tetapi akar masalahnya tetap sama: manusia kehilangan arah dan melupakan jati dirinya.

Di situlah makna Mab’ats Nabi Muhammad saw menemukan relevansinya. Peristiwa pengangkatan Muhammad saw sebagai rasul bukan sekadar penanda dimulainya risalah Islam, melainkan momentum ketika langit mengulurkan tangan untuk membangunkan kembali nurani manusia. Mab’ats bukan hanya kisah masa lalu, melainkan panggilan yang terus bergema di setiap zaman.

Ali bin Abi Thalib a.s menggambarkan misi para nabi dengan kalimat yang sangat padat makna dalam Nahjul Balaghah. Ia berkata:

لِيَسْتَأْدُوهُمْ مِيثَاقَ فِطْرَتِهِ وَيُذَكِّرُوهُمْ مَنْسِيَّ نِعْمَتِهِ … وَيُثِيرُوا لَهُمْ دَفَائِنَ الْعُقُولِ

“Agar mereka menunaikan kembali perjanjian fitrah, mengingatkan manusia terhadap nikmat-nikmat Allah yang telah mereka lupakan, dan membangkitkan harta karun akal yang terpendam dalam diri mereka”

Kalimat ini menghadirkan cara pandang yang berbeda tentang kenabian. Nabi saw tidak datang untuk menciptakan manusia baru. Mereka hadir untuk mengembalikan manusia kepada dirinya yang sejati.

Fitrah, dalam pengertian Islam, bukan sekadar naluri. Ia adalah kompas batin yang sejak awal ditanamkan Allah dalam diri setiap manusia. Di sanalah tersimpan kecenderungan kepada keadilan, kebebasan, kasih sayang, dan kebenaran. Karena itu, ketika seseorang melihat penindasan, nuraninya terusik. Ketika menyaksikan ketidakadilan, ada sesuatu dalam dirinya yang menolak. Penolakan itu bukan hasil pendidikan semata, melainkan suara fitrah yang belum sepenuhnya mati.

Namun sejarah memperlihatkan bahwa fitrah dapat tertutup. Kekuasaan, kepentingan, propaganda, bahkan kebiasaan yang diwariskan turun-temurun mampu membuat manusia menganggap kezaliman sebagai sesuatu yang normal. Orang dapat terbiasa melihat kemiskinan tanpa lagi merasa iba, menyaksikan ketidakadilan tanpa merasa marah, atau menikmati kemewahan di atas penderitaan orang lain tanpa sedikit pun merasa bersalah.

Baca Juga  Fatimah az-Zahra: Teladan Perempuan dalam Islam yang Melampaui Zaman

Di titik inilah para nabi menjalankan tugasnya. Mereka bukan sekadar membawa hukum, melainkan membangunkan kesadaran yang telah lama tertidur.

Ali a.s melanjutkan bahwa para nabi datang untuk mengingatkan manusia kepada nikmat yang telah dilupakan. Yang dimaksud bukan hanya nikmat berupa kesehatan, umur panjang, atau rezeki. Lebih dalam dari itu adalah nikmat keberadaan manusia itu sendiri: akal, hati, kemampuan memilih, serta potensi untuk menjadi pribadi yang bermoral.

Ironisnya, manusia sering kali lebih sibuk mengejar apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri potensi besar yang telah dianugerahkan kepadanya. Akal yang seharusnya menjadi alat mencari kebenaran justru dipakai untuk membenarkan kepentingan. Hati yang diciptakan untuk mencintai sesama berubah menjadi ruang bagi iri hati dan kebencian. Kebebasan yang semestinya mengantarkan manusia kepada kemuliaan malah digunakan untuk memperbudak manusia lain.

Karena itu, risalah kenabian pada hakikatnya adalah proses mengingatkan, bukan memaksa. Nabi mengajak manusia melihat kembali apa yang sebenarnya telah mereka ketahui jauh di dalam hati mereka.

Namun tugas kenabian tidak berhenti pada pengingat moral. Ali a.s menyebut tujuan yang sangat menarik: membangkitkan harta karun akal yang terpendam.

Ungkapan ini memberi pesan bahwa akal bukan sesuatu yang diberikan dalam keadaan selesai. Ia seperti tambang yang menyimpan kekayaan luar biasa, tetapi harus digali. Tanpa proses berpikir, bertanya, merenung, dan mencari kebenaran, kekayaan itu akan tetap terkubur.

Karena itulah Islam sejak awal tidak pernah memusuhi akal. Justru sebaliknya, wahyu datang untuk membimbing akal agar tidak tersesat oleh hawa nafsu dan kepentingan sesaat. Akal yang kehilangan petunjuk dapat menjadi alat yang sangat canggih untuk menghasilkan kerusakan. Sebaliknya, wahyu tanpa akal yang hidup hanya akan menjadi hafalan tanpa makna.

Baca Juga  Jihad Nabi Muhammad: Perjuangan Mengubah Dunia yang Tenggelam dalam Kegelapan

Hubungan keduanya bukan hubungan yang saling meniadakan, melainkan saling menyempurnakan.

Dalam dunia modern, pesan ini terasa semakin penting. Manusia hidup di tengah ledakan informasi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan. Pengetahuan bertambah, sementara kemampuan membedakan benar dan salah justru sering melemah. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi tidak selalu diiringi dengan pertumbuhan moral.

Akibatnya, peradaban dapat mencapai puncak kecanggihan sambil tetap menyisakan jurang ketimpangan, peperangan, eksploitasi, dan krisis kemanusiaan. Persoalannya ternyata bukan kekurangan ilmu, melainkan hilangnya arah bagi ilmu itu sendiri.

Mab’ats Nabi Muhammad saw mengingatkan bahwa kemajuan tidak cukup diukur dari seberapa jauh manusia mampu menguasai alam. Kemajuan sejati diukur dari kemampuan manusia mengendalikan dirinya sendiri. Sebab sejarah membuktikan bahwa banyak kejahatan besar justru dilakukan oleh orang-orang yang cerdas tetapi kehilangan nurani.

Di sinilah risalah para nabi tetap hidup. Mereka mengajarkan bahwa kecerdasan harus melahirkan keadilan, kekuatan harus melindungi yang lemah, dan kebebasan harus mengantarkan manusia kepada pengabdian hanya kepada Allah, bukan kepada sesama manusia ataupun kepada hawa nafsunya sendiri.

Pada akhirnya, Mab’ats bukan sekadar hari bersejarah dalam kalender Islam. Ia adalah undangan untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah fitrah kita masih berbicara? Apakah akal kita masih mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran? Apakah hati kita masih mampu terusik oleh penderitaan orang lain?

Barangkali itulah sebabnya peringatan Mab’ats selalu layak dirayakan. Bukan karena kita sedang mengenang sebuah peristiwa yang telah selesai, melainkan karena setiap manusia selalu membutuhkan satu hal yang sama: dibangunkan kembali. Sebab ketika nurani hidup, akal tercerahkan, dan fitrah menemukan jalannya, di sanalah misi kenabian sesungguhnya terus berlangsung.

Bagikan:
Terkait
Komentar