KHAMENEI.ID – Ketika sebuah bangsa berbicara tentang pembangunan, perhatian biasanya tertuju pada ekonomi, teknologi, infrastruktur, atau kekuatan militer. Jalan raya dibangun, pabrik didirikan, universitas diperluas, dan angka pertumbuhan diumumkan dengan bangga. Namun di balik semua itu, ada satu fondasi yang sering luput dari perhatian: budaya.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban tidak runtuh karena kekalahan militer atau kemiskinan ekonomi. Mereka melemah ketika kehilangan arah budaya. Ketika nilai-nilai yang selama ini menjadi perekat masyarakat mulai terkikis, keruntuhan sering kali datang dari dalam sebelum serangan dari luar benar-benar terjadi.
Imam Ali Khamenei qs menempatkan budaya sebagai salah satu prioritas paling penting bagi sebuah negara. Pandangan ini menarik karena beliau tidak memaknai budaya secara sempit sebagai seni atau hiburan. Budaya, menurut beliau, mencakup spektrum yang jauh lebih luas: sastra, seni, gaya hidup, budaya publik, akhlak, hingga perilaku sosial masyarakat.
Dengan kata lain, budaya adalah cara sebuah masyarakat berpikir, merasakan, dan menjalani kehidupannya sehari-hari.
Karena itulah, menurut Imam Khamenei, persoalan budaya tidak bisa dianggap sebagai urusan sampingan. Ia adalah inti yang menentukan arah seluruh pembangunan. Sebab teknologi dapat dipinjam, kekayaan dapat dicari, tetapi karakter sebuah bangsa dibentuk oleh budayanya.
Di era digital, relevansi gagasan ini terasa semakin kuat. Generasi muda saat ini hidup dalam arus informasi tanpa batas. Film, serial televisi, media sosial, musik, video pendek, hingga konten hiburan lintas negara hadir setiap saat melalui layar yang berada di genggaman tangan mereka.
Pertanyaannya bukan lagi apakah budaya memengaruhi masyarakat, melainkan budaya seperti apa yang sedang membentuk masyarakat itu.
Imam Khamenei tidak menolak kebebasan berpikir dalam ruang budaya. Sebaliknya, beliau secara tegas menyatakan dukungannya terhadap kebebasan berpikir dan keterbukaan intelektual. Namun beliau juga mengingatkan adanya perbedaan mendasar antara kebebasan dan kelalaian.
Menurut beliau, kebebasan berpikir bukan berarti membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa arah dan tanpa tanggung jawab. Sebab ruang kebebasan yang tidak dijaga dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin merusak fondasi keyakinan dan identitas masyarakat.
Pandangan ini lahir dari kesadaran bahwa produk budaya bukanlah sesuatu yang netral. Sebuah film, novel, pertunjukan teater, lagu, atau tayangan media tidak hanya menyampaikan hiburan. Ia juga membawa nilai, cara pandang, dan bahkan definisi tentang apa yang dianggap baik atau buruk.
Karena itu Imam Khamenei mengajukan sebuah pertanyaan yang tajam. Jika hari ini banyak pemuda beriman dan berkomitmen bekerja keras membangun bangsa melalui inovasi, ilmu pengetahuan, dan berbagai aktivitas produktif, bagaimana jika produk budaya yang beredar justru menghancurkan keyakinan yang menjadi sumber semangat mereka?
Apakah itu bukan ancaman yang patut diperhatikan?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika budaya populer sering kali lebih berpengaruh daripada ruang kelas. Banyak anak muda mengenal tokoh hiburan lebih dekat daripada tokoh ilmuwan. Mereka menghafal dialog film lebih cepat daripada pelajaran sejarah. Dalam situasi seperti itu, produk budaya memiliki kemampuan luar biasa untuk membentuk persepsi dan karakter.
Di sinilah Imam Khamenei memperkenalkan dua konsep penting dalam pengelolaan budaya: ofensif dan defensif.
Menurut beliau, bangsa yang sehat tidak cukup hanya bertahan dari pengaruh negatif. Ia juga harus aktif menciptakan karya-karya budaya yang positif dan inspiratif. Dalam istilah beliau, ada tugas “ofensif” melalui produksi budaya yang kuat, sekaligus tugas “defensif” dengan melindungi masyarakat dari pengaruh yang merusak.
Sayangnya, menurut pengamatan beliau, kedua aspek tersebut sering kali sama-sama lemah. Produksi budaya yang bermutu belum berkembang secara optimal, sementara perlindungan terhadap nilai-nilai dasar masyarakat juga belum dilakukan secara memadai.
Karena itu beliau menaruh perhatian besar pada para pelaku budaya. Tidak hanya karya budaya yang penting, tetapi juga sosok-sosok yang berada di belakangnya.
Imam Khamenei mengangkat sebuah persoalan yang jarang dibahas secara terbuka. Bagaimana seharusnya masyarakat dan lembaga negara memperlakukan para tokoh budaya?
Beliau memberikan dua contoh yang kontras. Di satu sisi ada figur budaya yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri kepada agama, masyarakat, dan cita-cita revolusi. Di sisi lain ada figur yang secara konsisten menunjukkan sikap permusuhan terhadap nilai-nilai yang sama, bahkan terkadang berusaha melemahkannya.
Apakah keduanya harus diperlakukan dengan cara yang sama?
Menurut Imam Khamenei, pertanyaan ini bukan soal suka atau tidak suka terhadap individu tertentu. Ini adalah persoalan arah kebijakan budaya. Sebuah masyarakat yang bijak harus mampu mengenali siapa yang memperkuat fondasinya dan siapa yang justru melemahkannya.
Beliau mengingatkan bahaya ketika pengelolaan budaya dilakukan hanya berdasarkan tren sesaat, popularitas, atau tekanan opini publik. Dalam situasi seperti itu, masyarakat bisa saja mengabaikan tokoh-tokoh yang telah berjasa besar, lalu justru mengangkat mereka yang secara terbuka menentang nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
Namun menariknya, Imam Khamenei juga menolak pendekatan ekstrem di sisi lain. Beliau tidak mendukung kekakuan budaya, pemaksaan ideologis, ataupun otoritarianisme intelektual. Menurutnya, kebudayaan tidak dapat tumbuh dalam suasana ketakutan dan pengekangan.
Karena itu beliau menawarkan jalan tengah yang menurutnya lebih rasional dan adil: kebebasan berpikir yang disertai perencanaan, pengarahan, dan tanggung jawab.
Bukan kebebasan yang berubah menjadi kekacauan.
Bukan pula kontrol yang berubah menjadi penindasan.
Melainkan sebuah ekosistem budaya yang memberi ruang bagi kreativitas, mendorong lahirnya karya-karya bermutu, mendukung pertumbuhan nilai-nilai positif, dan pada saat yang sama memiliki kesadaran untuk melindungi masyarakat dari serangan budaya yang merusak.
Pada akhirnya, perdebatan tentang budaya bukan sekadar perdebatan tentang film, sastra, atau seni pertunjukan. Ia adalah perdebatan tentang masa depan manusia. Sebab budaya menentukan cara kita memandang kehidupan, memahami identitas, dan membayangkan masa depan.
Mungkin karena itulah Imam Khamenei menempatkan budaya sebagai salah satu prioritas tertinggi dalam pembangunan bangsa. Sebab sebelum sebuah masyarakat membangun gedung-gedung yang tinggi, ia harus lebih dahulu membangun kesadaran yang kokoh. Dan kesadaran itu lahir dari budaya yang hidup, terarah, sekaligus tetap memberi ruang bagi kebebasan berpikir yang bertanggung jawab.







