KHAMENEI.ID– Tidak ada perubahan besar yang lahir dari jalan yang mudah. Setiap peradaban baru selalu dimulai oleh seseorang yang berani menantang kebiasaan lama, meski harus berdiri sendirian. Begitulah kisah Nabi Muhammad saw sejak detik pertama menerima wahyu. Kenabian bukanlah awal dari kemuliaan yang nyaman, melainkan awal dari perjuangan panjang yang menguras seluruh tenaga, pikiran, bahkan jiwa.
Selama dua puluh tiga tahun, Nabi Muhammad saw menjalani apa yang bisa disebut sebagai jihad dalam makna yang paling utuh: perjuangan menyeluruh untuk mengubah manusia, masyarakat, dan sejarah. Jihad itu bukan hanya menghadapi musuh di medan perang. Bahkan jauh sebelum peperangan terjadi, beliau telah lebih dahulu berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih berat: kebodohan, kemapanan yang menyesatkan, dan budaya yang telah lama kehilangan arah.
Ali bin Abi Thalib a.s dalam Nahj al-Balaghah melukiskan keadaan dunia sebelum risalah Islam datang dengan gambaran yang sangat kuat. Ia mengatakan:
فِي فِتَنٍ دَاسَتْهُمْ بِأَخْفَافِهَا وَوَطِئَتْهُمْ بِأَظْلَافِهَا وَقَامَتْ عَلَى سَنَابِكِهَا
“Manusia berada dalam pusaran fitnah yang menginjak mereka dengan telapak dan kukunya dari segala arah”
Ungkapan itu bukan sekadar metafora. Ia menggambarkan sebuah dunia yang nyaris kehilangan cahaya. Agama tidak lagi menjadi penuntun hidup, melainkan sekadar simbol. Keadilan diperdagangkan. Kekuasaan berdiri di atas penindasan. Yang kuat bebas memperlakukan yang lemah sesuka hati, sementara suara kebenaran tenggelam di tengah riuh kepentingan.
Di Jazirah Arab, kondisi itu tampak nyata melalui perang antarsuku yang tak berkesudahan, praktik perbudakan, penghinaan terhadap perempuan, hingga penguburan bayi perempuan hidup-hidup. Namun, jika ditarik lebih jauh, keadaan serupa juga berlangsung di pusat-pusat peradaban terbesar saat itu. Kekaisaran Romawi dan Persia, yang dikenal sebagai simbol kemajuan politik dan budaya, juga menyimpan wajah gelap berupa ketimpangan sosial, eksploitasi, serta kekuasaan absolut yang nyaris tanpa batas.
Di tengah lanskap dunia seperti itulah Nabi Muhammad saw diutus.
Perjuangan beliau sesungguhnya dimulai dari medan yang tidak terlihat: hati manusia. Orang-orang yang beliau hadapi bukanlah masyarakat yang sekadar belum mengenal Islam. Mereka bahkan kehilangan kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang keliru. Kebiasaan telah dianggap sebagai kebenaran. Tradisi diwarisi tanpa pernah dipertanyakan. Keserakahan dianggap kecerdikan. Kekuasaan dipandang sebagai hak untuk menindas.
Karena itu, jihad pertama Nabi saw bukanlah mengangkat senjata, melainkan membangunkan kesadaran.
Beliau mengajak manusia berpikir, mempertanyakan keyakinan yang diwariskan begitu saja, serta mengembalikan martabat manusia yang telah lama diinjak oleh sistem sosial yang tidak adil. Seruan tauhid bukan hanya ajakan menyembah Allah semata, tetapi juga deklarasi pembebasan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada sesama manusia, kepada harta, kekuasaan, maupun hawa nafsu.
Di titik inilah beratnya perjuangan Nabi saw menjadi semakin terasa. Mengubah bangunan batu jauh lebih mudah daripada mengubah cara berpikir manusia. Sebuah berhala dapat dihancurkan dalam hitungan menit, tetapi berhala yang bersemayam di dalam hati yang berupa kesombongan, kerakusan dan fanatisme, sering kali membutuhkan perjuangan bertahun-tahun.
Namun, Nabi saw tidak pernah berjalan sendirian. Kekuatan terbesar beliau bukan berasal dari jumlah pengikut atau kekayaan yang dimiliki. Sumber kekuatannya adalah wahyu yang terus turun membimbing langkah-langkahnya.
Setiap kali tekanan datang, setiap kali penolakan semakin keras, wahyu hadir membawa keteguhan. Ia laksana air jernih yang mengalir ke tanah subur, menghidupkan kembali harapan yang hampir layu. Wahyu bukan hanya memberi petunjuk bagi umat, tetapi juga menjadi energi spiritual yang mengokohkan hati Rasulullah saw agar terus melangkah, sekalipun jalan yang ditempuh dipenuhi penghinaan, boikot ekonomi, ancaman pembunuhan, hingga kehilangan orang-orang yang paling beliau cintai.
Dalam konteks yang lebih luas, jihad Nabi saw adalah perjuangan melawan struktur kezaliman yang telah mengakar. Beliau tidak sekadar mengoreksi perilaku individu, tetapi membangun masyarakat baru yang menjadikan keadilan sebagai fondasi. Orang miskin memperoleh haknya, budak diperlakukan sebagai manusia, perempuan mendapatkan kehormatan, dan hukum berlaku tanpa membedakan status sosial.
Inilah sebabnya mengapa risalah Islam tidak berhenti pada ibadah ritual. Ia hadir sebagai proyek besar peradaban. Tujuannya bukan sekadar menciptakan orang-orang saleh secara pribadi, tetapi membentuk masyarakat yang menjunjung keadilan, kasih sayang, ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab moral.
Jika sejarah kemudian mencatat keberhasilan Nabi Muhammad saw mengubah wajah dunia hanya dalam waktu dua puluh tiga tahun, itu bukan karena beliau mewarisi kekuasaan besar atau pasukan yang tak terkalahkan. Semua perubahan itu lahir dari keteguhan menjalankan jihad yang panjang, konsisten, dan tidak pernah kehilangan arah.
Menariknya, gambaran dunia yang dilukiskan Imam Ali a.s terasa tetap relevan hingga hari ini. Bentuknya memang berubah, tetapi esensinya sering kali sama. Ketamakan masih mengalahkan nurani. Kekuasaan masih kerap menjadi alat penindasan. Informasi yang melimpah justru melahirkan kebingungan baru. Manusia modern hidup di tengah kemajuan teknologi, tetapi tidak selalu lebih dekat kepada kebenaran.
Karena itu, kisah jihad Nabi saw tidak semestinya dipandang sebagai cerita masa lalu. Ia adalah cermin yang memantulkan pertanyaan kepada setiap generasi: terhadap apa sebenarnya kita sedang berjuang? Apakah kita ikut memperbaiki dunia, atau justru larut dalam arus yang menggelapkan nurani?
Perjuangan Nabi Muhammad saw menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian menyalakan cahaya di tengah kegelapan, betapapun kecil cahaya itu pada mulanya. Sejarah membuktikan, satu hati yang diterangi wahyu mampu mengubah arah sebuah peradaban. Dan mungkin, setiap zaman selalu menunggu lahirnya orang-orang yang bersedia melanjutkan semangat jihad itu: bukan untuk menaklukkan manusia, melainkan untuk membebaskan mereka dari segala bentuk kegelapan yang membelenggu kehidupan.







