Membangun Akal Sehat: Misi Pertama Kenabian yang Sering Terlupakan

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang begitu mengakar bahwa agama terutama berbicara tentang ritual: shalat, puasa, doa, atau aturan halal dan haram. Padahal, jika menelusuri jejak para nabi, kita akan menemukan sesuatu yang jauh lebih mendasar. Sebelum manusia diajarkan cara beribadah, mereka lebih dahulu diajak belajar berpikir. Misi pertama kenabian bukan sekadar memperbanyak orang beriman, melainkan membangunkan akal yang lama tertidur.

Di tengah dunia yang penuh kebisingan informasi, kemampuan berpikir justru menjadi barang langka. Orang mudah percaya, cepat marah, dan ringan menghakimi tanpa memberi ruang bagi pertimbangan yang jernih. Ironisnya, kemajuan teknologi yang seharusnya memperluas wawasan justru sering mempercepat penyebaran kebodohan. Barangkali inilah sebabnya mengapa risalah para nabi tetap terasa relevan: mereka datang bukan hanya membawa hukum, tetapi juga menyalakan kembali cahaya nalar.

Pengutusan Nabi Muhammad saw bukan sekadar awal lahirnya sebuah agama, melainkan awal dari sebuah revolusi intelektual. Beliau mengundang manusia memasuki ruang pendidikan akal, pendidikan moral, dan pendidikan hukum. Ketiganya saling terkait, tetapi pendidikan akal menjadi fondasi yang menopang semuanya. Sebab, tanpa akal yang sehat, moral mudah berubah menjadi fanatisme, sementara hukum hanya menjadi kumpulan aturan yang kehilangan ruh.

Akal dalam pandangan Islam bukan sekadar kemampuan menghafal atau mengumpulkan informasi. Ia adalah daya yang membuat manusia mampu membedakan jalan yang benar dari yang keliru, menimbang sebelum bertindak, serta melihat akibat jangka panjang dari setiap pilihan. Akal ibarat pelita yang diberikan kepada manusia agar ia tidak berjalan dalam gelap. Tanpa cahaya itu, manusia mungkin tetap bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar tahu ke mana arah langkahnya.

Karena itulah Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan nalarnya. Bahkan penyesalan terbesar penghuni neraka dalam Al-Qur’an bukanlah karena mereka miskin ibadah, melainkan karena mereka mengabaikan kemampuan berpikir yang telah dianugerahkan Tuhan.

Baca Juga  Spiritualitas Adalah Fondasi: Ketika Ilmu Kehilangan Ruhnya

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya dahulu kami mau mendengarkan atau menggunakan akal kami, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka” (QS. Al-Mulk: 10)

Ayat ini menghadirkan sebuah renungan yang mengguncang. Ternyata, salah satu sebab terbesar kehancuran manusia bukanlah kekurangan informasi, melainkan kegagalan menggunakan akal. Mereka mendengar, tetapi tidak sungguh-sungguh menyimak. Mereka mengetahui, tetapi enggan berpikir. Akibatnya, kehidupan diarahkan oleh hawa nafsu, prasangka, dan emosi sesaat.

Dalam konteks yang lebih luas, seluruh sejarah kenabian sesungguhnya adalah sejarah pembebasan akal manusia. Tidak hanya Nabi Muhammad saw, para nabi sebelumnya juga datang untuk membangunkan potensi terbesar yang telah ditanamkan Tuhan dalam diri manusia. Imam Ali a.s menggambarkan misi itu dengan ungkapan yang sangat indah: para nabi diutus untuk membangkitkan kembali perjanjian fitrah manusia.

Ungkapan itu mengandung makna yang dalam. Setiap manusia sejatinya telah membawa modal yang luar biasa sejak lahir. Persoalannya bukan karena manusia tidak memiliki akal, melainkan karena akal itu tertimbun oleh kesombongan, hawa nafsu, kebiasaan buruk, dan berbagai kepentingan duniawi.

Bayangkan seseorang yang tertidur di atas timbunan emas, tetapi meninggal dalam keadaan kelaparan karena tidak pernah menyadari harta yang ada di bawah tubuhnya. Begitulah keadaan manusia ketika mengabaikan akalnya. Kekayaan terbesar sebenarnya telah dimiliki, tetapi tidak pernah dimanfaatkan. Akibatnya, kebodohan menjadi penguasa, sementara kehidupan dipenuhi persoalan yang sebenarnya dapat dihindari.

Di titik inilah agama tidak bertentangan dengan rasionalitas. Sebaliknya, agama justru menghidupkan rasionalitas. Iman yang lahir dari akal jauh lebih kokoh dibanding keyakinan yang hanya dibangun oleh kebiasaan atau tekanan lingkungan. Akal menjadi pintu yang mengantarkan manusia mengenal Tuhan secara sadar, bukan sekadar mewarisi kepercayaan dari generasi sebelumnya.

Baca Juga  Ketika Iman Tak Lagi Cukup: Menguatkan Fondasi Akidah di Tengah Gelombang Keraguan

Namun perjuangan terbesar ternyata bukan melawan orang lain, melainkan mengendalikan diri sendiri. Nabi Muhammad a.s pernah menggambarkan hubungan antara akal dan hawa nafsu dengan sebuah perumpamaan yang sangat sederhana. Beliau bersabda bahwa akal adalah ‘iqāl bagi kebodohan. Dalam tradisi Arab, ‘iqāl adalah tali yang diikatkan pada kaki unta agar tidak berlari liar.

Perumpamaan itu terasa sangat relevan hingga hari ini. Hawa nafsu manusia ibarat binatang yang kuat dan sulit dikendalikan. Jika tidak diikat oleh akal, ia akan berlari ke mana saja tanpa arah. Kadang mengejar kekuasaan, kadang mengejar popularitas, kadang diperbudak oleh kemarahan, keserakahan, atau kesenangan sesaat. Manusia modern mungkin memiliki kendaraan yang lebih cepat, teknologi yang lebih canggih, dan kecerdasan buatan yang semakin berkembang. Namun tanpa kendali akal, semua itu justru dapat mempercepat langkah menuju kehancuran.

Tidak sedikit konflik sosial, korupsi, perang, hingga kerusakan lingkungan berawal dari satu persoalan yang sama: akal dikalahkan oleh nafsu. Orang mengetahui bahwa tindakannya salah, tetapi tetap melakukannya karena dorongan kepentingan lebih kuat daripada pertimbangan nalar. Di sinilah letak pentingnya pendidikan akal yang menjadi inti risalah kenabian.

Membangun masyarakat yang maju ternyata tidak cukup hanya dengan memperbanyak sekolah, memperluas akses internet, atau meningkatkan kecanggihan teknologi. Yang lebih penting adalah membentuk budaya berpikir. Budaya yang menghargai dialog, menguji informasi sebelum mempercayainya, mempertimbangkan dampak sebelum bertindak, serta berani mengoreksi diri ketika keliru.

Pada akhirnya, tugas para nabi bukan mengambil alih cara berpikir manusia, melainkan membangunkannya. Mereka tidak mematikan akal, justru menyuburkannya. Sebab hanya akal yang hidup yang mampu mengantarkan manusia kepada iman yang matang, akhlak yang luhur, dan kehidupan yang lebih beradab.

Baca Juga  Istiqamah di Jalan Allah: Ketika Keteguhan Lebih Penting daripada Kecepatan

Mungkin karena itulah, misi pertama kenabian bukan membangun bangunan megah atau mendirikan kekuasaan besar. Misi pertamanya jauh lebih sunyi, tetapi juga jauh lebih menentukan: menyalakan kembali pelita akal di dalam diri manusia. Sebab ketika cahaya itu menyala, jalan menuju kebenaran akan terlihat dengan sendirinya.

Bagikan:
Terkait
Komentar