KHAMENEI.ID – Ada sebuah narasi yang terus berulang: anak muda Iran disebut telah menjauh dari nilai-nilai agama, kehilangan harapan terhadap masa depan, dan tidak lagi memiliki rasa tanggung jawab terhadap negerinya.
Narasi itu, menurut Ayatollah Ali Khamenei qs, bukan sekadar kesimpulan yang keliru. Ia merupakan bagian dari arus propaganda yang sengaja dibangun untuk menggambarkan generasi muda Iran seolah-olah telah kehilangan arah.
Namun, benarkah demikian?
Khamenei justru melihat kenyataan yang berlawanan. Ia menunjuk pada berbagai ruang kehidupan tempat anak muda hadir, bekerja, berkorban, dan mengambil tanggung jawab. Dari pertahanan negara hingga ilmu pengetahuan. Dari kegiatan sosial hingga aktivitas keagamaan. Dari produksi dan inovasi hingga bantuan kepada korban bencana.
Jika semua itu dilihat secara utuh, gambaran tentang generasi muda yang putus asa menjadi sulit dipertahankan.
Sebab generasi yang benar-benar kehilangan harapan biasanya tidak akan berdiri di garis depan ketika negaranya membutuhkan mereka.
Anak muda yang hadir di tengah persoalan
Dalam pandangan Imam Khamenei, generasi muda Iran telah menunjukkan peran penting dalam berbagai fase kehidupan bangsa.
Mereka hadir dalam pertahanan negara dan keamanan. Mereka juga terlibat dalam berbagai bentuk dukungan terhadap apa yang disebutnya sebagai jabhah al-muqawamah atau front perlawanan di kawasan, termasuk dalam perjuangan yang berkaitan dengan pertahanan tempat-tempat suci.
Tetapi kontribusi anak muda, menurutnya, tidak berhenti pada medan konflik.
Di ruang sosial, mereka hadir dalam berbagai kegiatan pelayanan dan bantuan kepada masyarakat. Ketika terjadi bencana alam seperti banjir dan gempa bumi, anak-anak muda turun membantu. Ketika masyarakat menghadapi wabah, mereka ikut mengambil bagian dalam upaya penanganan dan pelayanan.
Di sana terdapat sebuah gambaran yang sering luput dari perhatian.
Anak muda tidak selalu menunjukkan kepeduliannya melalui pidato besar. Kadang-kadang kepedulian itu terlihat dari hal yang sederhana: seseorang yang datang membawa bantuan, ikut membersihkan rumah korban banjir, membantu tetangga yang kesulitan, atau bekerja tanpa banyak bicara ketika masyarakat membutuhkan.
Semua itu adalah bentuk tanggung jawab sosial.
Dan ketika tindakan semacam itu dilakukan secara luas oleh generasi muda, sulit untuk mengatakan bahwa mereka telah kehilangan rasa tanggung jawab.
Di laboratorium, pabrik, dan ruang inovasi
Khamenei juga menempatkan kemajuan ilmiah sebagai salah satu bukti penting tentang peran generasi muda.
Menurutnya, jika seseorang memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan di berbagai bidang, akan terlihat bahwa anak-anak muda menjadi salah satu penggerak utamanya.
Mereka melakukan penelitian, menciptakan inovasi, mengembangkan teknologi, dan mendorong berbagai sektor produksi.
Di sinilah masa depan sebuah bangsa sebenarnya sedang dipertaruhkan.
Sebab kemajuan tidak lahir hanya dari slogan. Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia belajar, meneliti, mencoba, gagal, kemudian mencoba kembali. Ia membutuhkan generasi yang percaya bahwa sesuatu yang belum ada hari ini mungkin dapat diciptakan besok.
Karena itu, keberadaan anak muda di bidang ilmu pengetahuan dan inovasi menjadi tanda bahwa masih terdapat energi besar untuk membangun masa depan.
Generasi yang benar-benar kehilangan harapan tidak akan memiliki dorongan untuk menciptakan sesuatu yang belum pernah ada.
Spiritualitas yang tetap hidup
Bagi Khamenei, kehadiran anak muda juga terlihat dalam kehidupan keagamaan.
Salah satu contoh yang ia soroti adalah tradisi ziarah dan perjalanan Arba’in. Jutaan orang melakukan perjalanan dari Najaf menuju Karbala, sementara jutaan lainnya mengikuti berbagai kegiatan Arba’in di dalam negeri.
Bagi sebagian orang, pemandangan semacam ini mungkin hanya dianggap sebagai ritual keagamaan.
Namun bagi Imam Khamenei, ada makna sosial dan spiritual yang lebih dalam. Kehadiran anak muda dalam kegiatan keagamaan menunjukkan bahwa hubungan mereka dengan nilai-nilai spiritual belum hilang sebagaimana yang digambarkan oleh sebagian propaganda.
Tentu saja, realitas generasi muda tidak pernah sesederhana satu warna.
Ada anak muda yang kecewa. Ada yang kritis. Ada yang mempertanyakan banyak hal. Ada pula yang memiliki pandangan berbeda terhadap pemerintah, masyarakat, atau masa depan negaranya.
Tetapi mengubah seluruh generasi menjadi satu gambaran tunggal—sebagai generasi yang putus asa dan terputus dari nilai-nilai—adalah penyederhanaan yang berbahaya.
Sebab anak muda bukanlah kelompok yang statis. Mereka adalah ruang tempat berbagai kemungkinan masa depan bertemu.
Pertarungan memperebutkan harapan
Di balik perdebatan tentang generasi muda, sebenarnya terdapat pertarungan yang lebih besar: pertarungan tentang narasi.
Siapa yang berhak mendefinisikan masa depan?
Jika sebuah generasi terus-menerus diberi tahu bahwa mereka tidak memiliki masa depan, bahwa negara mereka tidak memiliki harapan, dan bahwa semua yang mereka lakukan sia-sia, narasi itu pada akhirnya dapat memengaruhi cara mereka memandang dirinya sendiri.
Karena itu, menurut Imam Khamenei, upaya menggambarkan anak muda sebagai generasi tanpa harapan merupakan bagian dari perang propaganda.
Tetapi perang narasi tidak dapat dimenangkan hanya dengan propaganda tandingan. Ia harus dijawab dengan kenyataan.
Dan kenyataan itu, menurutnya, dapat ditemukan di berbagai tempat: di laboratorium penelitian, di pusat-pusat produksi, di tengah masyarakat yang terkena bencana, dalam kegiatan sosial, dalam kegiatan keagamaan, bahkan dalam berbagai bentuk pengabdian kepada negara.
Di sanalah generasi muda memperlihatkan dirinya.
Bukan sebagai generasi yang berdiri di luar kehidupan, melainkan sebagai generasi yang berada tepat di tengahnya.
Anak muda dan masa depan yang belum selesai
Pada akhirnya, persoalan anak muda bukan hanya tentang apakah mereka optimistis atau pesimistis. Yang lebih penting adalah apakah mereka diberi ruang untuk berkontribusi, dipercaya untuk mengambil tanggung jawab, dan memiliki alasan untuk berharap.
Imam Khamenei melihat bahwa energi itu masih ada.
Ia melihat anak muda sebagai kekuatan yang tidak mudah lelah—sebuah generasi yang terus bergerak dalam berbagai bidang kehidupan.
Dari pertahanan hingga penelitian. Dari produksi hingga pelayanan sosial. Dari kegiatan keagamaan hingga respons terhadap bencana.
Semua itu, dalam pandangannya, adalah bukti bahwa generasi muda Iran belum kehilangan harapan.
Barangkali memang ada persoalan yang harus diakui. Ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Ada kegelisahan yang tidak boleh diabaikan. Tetapi melihat kelemahan tidak berarti menutup mata terhadap kekuatan.
Sebab masa depan sebuah bangsa tidak pernah ditentukan hanya oleh masalah yang sedang dihadapinya. Ia juga ditentukan oleh manusia-manusia muda yang bersedia menghadapi masalah itu.
Dan jika generasi muda masih mau belajar, bekerja, berinovasi, membantu sesama, serta mengambil tanggung jawab ketika keadaan memanggil, maka satu hal masih jelas: harapan itu belum mati.
Ia mungkin tidak selalu terdengar dalam slogan.
Tetapi ia hidup dalam tindakan.







