Kekuasaan dan Keadilan: Ketika Jabatan Hanya Bernilai karena Menegakkan Kebenaran

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang begitu mengakar dalam kehidupan modern: semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula nilainya. Kekuasaan diperlakukan seperti puncak keberhasilan, sesuatu yang layak diperebutkan dengan segala cara. Tak sedikit orang rela mengorbankan persahabatan, integritas, bahkan nurani, hanya demi memperoleh kursi yang lebih tinggi.

Padahal, sejarah justru berkali-kali memperlihatkan kenyataan sebaliknya. Kekuasaan tidak pernah memiliki nilai pada dirinya sendiri. Ia hanyalah alat. Nilainya baru muncul ketika digunakan untuk menghadirkan keadilan, melindungi yang lemah, dan menegakkan kebenaran. Jika dipakai untuk memuaskan ambisi pribadi atau mengumpulkan keuntungan duniawi, kekuasaan justru berubah menjadi bencana.

Dalam pandangan Islam, kekuasaan bukanlah anugerah hanya karena seseorang berhasil meraihnya. Ia menjadi nikmat ketika dipersembahkan untuk Allah dan diabdikan kepada manusia. Sebaliknya, ketika kekuasaan menjadi kendaraan hawa nafsu, ia berubah menjadi kutukan yang perlahan menghancurkan pemiliknya sebelum menghancurkan masyarakat.

Gagasan ini menemukan bentuknya yang paling kuat dalam kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Ada sebuah kisah yang terus hidup selama berabad-abad karena begitu telanjang memperlihatkan bagaimana beliau memandang jabatan.

Suatu hari, Abdullah bin Abbas mendapati Imam Ali a.s sedang menjahit sendiri sandal tuanya yang telah robek. Sang khalifah, yang memimpin wilayah Islam yang sangat luas, justru sibuk memperbaiki alas kaki yang nyaris tak bernilai. Beliau kemudian bertanya, “Berapa harga sandal ini?”

Ibnu Abbas menjawab, “Tidak ada nilainya”

Saat itulah Imam Ali a.s mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi salah satu prinsip kepemimpinan paling terkenal dalam Islam:

وَاللَّهِ لَهِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ إِمْرَتِكُمْ إِلَّا أَنْ أُقِيمَ حَقًّا أَوْ أَدْفَعَ بَاطِلًا

“Demi Allah, sandal yang usang ini lebih aku cintai daripada memimpin kalian, kecuali jika dengannya aku dapat menegakkan kebenaran atau mencegah kebatilan”

Baca Juga  Kekuasaan untuk Menegakkan Keadilan, Bukan Menguasai Manusia

Kalimat itu membalik cara kita memandang jabatan. Yang berharga bukanlah kursinya, melainkan kesempatan yang diberikan kursi itu untuk menghadirkan keadilan. Tanpa tujuan tersebut, kekuasaan bahkan kalah nilainya dibanding sepasang sandal yang telah lusuh.

Di titik ini, kita memahami mengapa Imam Ali a.s tidak pernah memisahkan kekuasaan dari tanggung jawab moral. Ketika muncul kelompok-kelompok yang memberontak dan mengancam keadilan, beliau tidak memilih diam demi mempertahankan stabilitas politik. Beliau justru berdiri di garis depan. Perang yang beliau jalani bukan demi mempertahankan singgasana, melainkan demi memastikan bahwa kebenaran tidak dikalahkan oleh kepentingan.

Bagi Imam Ali a.s, membela kebenaran bukanlah pilihan yang bergantung pada situasi politik. Ia adalah alasan mengapa kekuasaan layak dipertahankan. Karena itu beliau pernah menegaskan bahwa dahulu beliau memerangi kaum Quraisy ketika mereka menentang risalah Nabi saw, dan setelah Islam pun beliau tetap siap menghadapi mereka ketika penyimpangan mengancam nilai-nilai agama. Musuh boleh berganti wajah, tetapi tugas membela kebenaran tidak pernah berubah.

Dalam konteks yang lebih luas, kisah ini menyentuh persoalan yang masih sangat relevan hari ini. Dunia modern sering kali mengukur keberhasilan pemimpin dari besarnya anggaran yang dikelola, luasnya kewenangan, atau lamanya masa jabatan. Padahal ukuran-ukuran itu tidak otomatis melahirkan kemuliaan.

Seorang pejabat yang berhasil menggunakan kewenangannya untuk melindungi rakyat kecil mungkin jauh lebih bernilai daripada pemimpin yang meninggalkan gedung-gedung megah tetapi mengabaikan keadilan. Sebaliknya, jabatan yang tinggi tidak akan berarti apa-apa ketika hanya menjadi alat memperkaya diri, membangun dinasti politik, atau memelihara citra.

Karena itulah Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk mencintai kekuasaan. Yang diajarkan adalah mencintai amanah yang terkandung di dalamnya. Jabatan hanyalah ruang untuk bekerja, bukan identitas yang menentukan harga diri seseorang.

Baca Juga  Semakin Dihormati, Semakin Rendah Hati: Jalan Melawan Kesombongan

Pemahaman seperti ini juga berlaku bagi setiap bentuk tanggung jawab, sekecil apa pun. Tidak hanya presiden, menteri, gubernur, atau hakim yang memegang kekuasaan. Seorang guru memiliki kekuasaan atas ilmu yang diajarkan. Orang tua memiliki kekuasaan dalam mendidik anak. Seorang pemimpin perusahaan memiliki kewenangan terhadap nasib para pekerjanya. Bahkan setiap orang memiliki pengaruh dalam lingkaran kehidupannya masing-masing.

Artinya, pertanyaan yang diajukan Imam Ali a.s sesungguhnya juga ditujukan kepada kita: untuk apa kekuasaan yang ada di tangan kita digunakan? Untuk melayani atau dilayani? Untuk membela yang benar atau melindungi kepentingan sendiri?

Di sinilah jabatan kehilangan seluruh kemewahannya. Gelar, pangkat, dan kedudukan ternyata hanyalah kulit luar. Nilai sejatinya bergantung pada apakah melalui semua itu seseorang berhasil menghadirkan lebih banyak keadilan daripada sebelumnya.

Pesan serupa pernah disampaikan kepada para pejabat negara di Republik Islam Iran menjelang berakhirnya masa tugas mereka. Mereka diingatkan bahwa pengabdian kepada negara tidak berhenti ketika masa jabatan selesai. Setiap orang tetap memiliki kewajiban melayani masyarakat selama masih memiliki kemampuan. Sebab yang bernilai bukanlah kursi yang diduduki, melainkan manfaat yang terus diberikan.

Pada akhirnya, sejarah jarang mengingat seseorang hanya karena ia pernah berkuasa. Sejarah lebih lama mengenang mereka yang menggunakan kekuasaan untuk membela kebenaran ketika banyak orang memilih diam.

Barangkali itulah sebabnya sandal tua Imam Ali a.s masih dikenang hingga hari ini, sementara begitu banyak singgasana megah telah lama menjadi debu. Sebab nilai sebuah kekuasaan tidak pernah ditentukan oleh tingginya jabatan, melainkan oleh seberapa besar keberaniannya menegakkan hak dan menyingkirkan kebatilan.

Bagikan:
Terkait
Komentar