KHAMENEI.ID– Ada orang yang tampak tenang karena pandai menyembunyikan kegelisahan. Ada pula yang terlihat kokoh karena terbiasa menahan air mata di depan orang lain. Namun ada keteguhan yang lahir dari tempat yang lebih dalam: hati yang telah selesai berdamai dengan kehendak Tuhan. Ketenangan semacam ini tidak bergantung pada situasi, tidak pula runtuh oleh kehilangan. Ia tetap tegak, bahkan ketika badai menyentuh hal yang paling dicintainya.
Sebuah kisah dari awal Revolusi Islam Iran menggambarkan keteguhan semacam itu. Di Kota Qom, dalam sebuah pertemuan, Imam Khomeini qs pernah berbicara tentang putranya, Sayyid Ahmad Khomeini. Beliau mengatakan, seandainya Ahmad ditangkap, disiksa, bahkan dibunuh, sedikit pun hatinya tidak akan terguncang. Yang menarik, beliau segera menambahkan bahwa keteguhan itu bukanlah hasil usaha untuk berpura-pura tegar atau menahan emosi di hadapan orang lain. Bahkan di kedalaman batinnya, tidak akan ada kegoncangan.
Pernyataan itu terdengar nyaris mustahil bagi kebanyakan manusia. Bagaimana mungkin seorang ayah tidak terguncang ketika membayangkan anaknya mengalami penderitaan? Namun sesungguhnya, yang dimaksud bukanlah hilangnya kasih sayang atau matinya perasaan. Imam Khomeini qs justru dikenal sebagai pribadi yang penuh cinta kepada keluarga dan murid-muridnya. Yang berubah bukanlah cintanya, melainkan pusat sandaran hatinya. Cinta kepada manusia tidak lagi menggeser kepercayaan mutlak kepada Allah.
Dalam tradisi Islam, keteguhan seperti itu bukanlah sesuatu yang asing. Imam Ali a.s pernah menggambarkan dirinya dengan sebuah metafora yang sangat kuat:
كَالْجَبَلِ لَا تُحَرِّكُهُ الْقَوَاصِفُ، وَلَا تُزِيلُهُ الْعَوَاصِفُ
“Laksana gunung yang tidak digoyahkan angin yang menghantam dan tidak dipindahkan oleh badai yang menerjang”
Ungkapan itu bukan sekadar gambaran tentang keberanian menghadapi musuh. Gunung menjadi simbol jiwa yang telah menemukan pijakan. Angin boleh datang dari segala arah, tetapi ia tidak kehilangan tempat berpijak. Semakin besar badai, semakin tampak kekokohannya.
Di titik ini, keteguhan bukan berarti keras kepala. Ia bukan pula penolakan terhadap rasa sedih. Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk mematikan emosinya. Nabi Ya’qub a.s menangis karena kehilangan Yusuf a.s. Rasulullah saw meneteskan air mata ketika putranya, Ibrahim, wafat. Air mata tidak bertentangan dengan keimanan. Yang menjadi ukuran adalah apakah kesedihan itu menggeser kepercayaan kepada Allah atau justru semakin menguatkannya.
Karena itu, Imam Ja’far ash-Shadiq a.s memberikan gambaran yang sangat indah tentang karakter seorang mukmin. Beliau bersabda:
يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ فِيهِ ثَمَانُ خِصَالٍ، وَقُورٌ عِنْدَ الْهَزَاهِزِ، صَبُورٌ عِنْدَ الْبَلَاءِ، شَكُورٌ عِنْدَ الرَّخَاءِ
“Seorang mukmin sepatutnya memiliki delapan sifat: tetap tenang ketika menghadapi guncangan, sabar saat ditimpa musibah, bersyukur ketika memperoleh nikmat, (merasa cukup dengan rezeki Allah, tidak menzalimi musuh, tidak berbuat dosa demi membela teman, dirinya menanggung kelelahan agar orang lain memperoleh kenyamanan. Ilmu menjadi sahabatnya, kesabaran menjadi panglima, kelembutan menjadi saudaranya, dan kelapangan hati menjadi orang tua yang membimbingnya)”
Perhatikan kata yang digunakan dalam hadis itu: waqūr ‘inda al-hazāhiz, tetap berwibawa ketika guncangan datang. Yang diguncang bukan sekadar tubuh atau harta, melainkan seluruh sendi kehidupan. Kehilangan orang tercinta, fitnah, ancaman, kegagalan, hingga perubahan besar yang membuat banyak orang kehilangan arah. Justru pada saat seperti itulah kualitas keimanan seseorang terlihat.
Dalam konteks yang lebih luas, masyarakat modern hidup di tengah “gempa” yang nyaris tidak pernah berhenti. Informasi bergerak tanpa jeda. Krisis ekonomi datang silih berganti. Hubungan sosial menjadi rapuh. Opini publik berubah hanya dalam hitungan jam. Banyak orang kehilangan ketenangan bukan karena masalahnya terlalu besar, melainkan karena hatinya tidak memiliki tempat berlabuh.
Kita mudah panik ketika kehilangan pekerjaan, gelisah ketika nama baik dipertanyakan, bahkan merasa hidup runtuh hanya karena penilaian orang lain di media sosial. Padahal, yang sering kali roboh bukanlah keadaan di luar diri kita, melainkan fondasi di dalam hati.
Di sinilah teladan Imam Khomeini qs menemukan relevansinya. Keteguhan beliau bukan dibangun oleh kekuasaan, popularitas, atau keyakinan bahwa dirinya tidak akan menderita. Justru sepanjang hidupnya beliau berkali-kali mengalami pengasingan, ancaman pembunuhan, kehilangan sahabat, dan tekanan politik yang luar biasa. Namun semua itu tidak berhasil menggeser orientasi hidupnya. Selama tujuan tetap mengarah kepada Allah, badai hanya menjadi bagian dari perjalanan, bukan alasan untuk berhenti.
Gagasan ini kemudian menyentuh sesuatu yang sangat pribadi bagi setiap manusia. Kita mungkin tidak akan menghadapi revolusi, pengasingan, atau ancaman sebagaimana dialami para tokoh besar sejarah. Namun setiap orang memiliki badai masing-masing: kehilangan orang yang dicintai, penyakit, kegagalan, atau ketidakpastian masa depan. Pertanyaannya bukan apakah badai akan datang, melainkan apakah hati kita memiliki akar yang cukup dalam untuk tetap berdiri ketika semuanya berubah.
Keteguhan sejati ternyata bukanlah kemampuan mengendalikan dunia di sekitar kita. Ia adalah kemampuan menjaga arah hati ketika dunia kehilangan keseimbangannya. Seperti gunung yang tetap diam meski angin bertiup dari segala penjuru, seorang mukmin tidak kehilangan martabatnya hanya karena keadaan berubah.
Mungkin inilah makna terdalam dari kekuatan spiritual: bukan hidup tanpa air mata, melainkan memiliki hati yang tidak tercerabut dari Tuhan, bahkan ketika air mata itu mengalir. Sebab badai memang dapat mengguncang pepohonan, merobohkan bangunan, bahkan mengubah wajah sebuah negeri. Tetapi ia tidak akan mampu menggoyahkan hati yang seluruh sandarannya telah diserahkan kepada Allah.







