Mengapa Dakwah Membutuhkan Pengorbanan? Pelajaran dari Awal Kebangkitan Islam

KHAMENEI.ID– Setiap gagasan besar lahir dengan harapan mengubah dunia. Namun sejarah berulang kali menunjukkan bahwa gagasan yang paling benar pun tidak otomatis bertahan. Ia bisa memudar, disalahpahami, bahkan hilang dari kehidupan manusia apabila tidak dijaga oleh orang-orang yang berani membayar harganya. Di sinilah pengorbanan menemukan maknanya: bukan sekadar tindakan heroik sesaat, melainkan syarat agar sebuah kebenaran tetap hidup melintasi zaman.

Hakikat diutusnya Nabi Muhammad saw bukan hanya menghadirkan ajaran bagi masyarakat Arab abad ketujuh. Risalah beliau merupakan petunjuk yang relevan untuk setiap masa. Islam datang membawa “resep penyembuh” bagi penyakit manusia, apa pun zaman dan bentuk permasalahannya. Tetapi sebagaimana obat tidak akan menyembuhkan jika hanya disimpan di rak, ajaran Islam pun tidak akan menghadirkan perubahan apabila berhenti sebagai bacaan, slogan, atau simbol semata.

Sejarah umat Islam menjadi cermin yang jujur tentang kenyataan itu. Berabad-abad setelah Al-Qur’an diturunkan, tidak sedikit kaum Muslim yang perlahan menjauh dari nilai-nilai yang dikandungnya. Garis-garis terang yang dahulu menerangi kehidupan mulai memudar. Ada yang gagal memahami pesan Al-Qur’an, ada yang sengaja menyelewengkannya demi kepentingan tertentu. Sebagian lagi sebenarnya telah memahami kebenaran, tetapi kehilangan keberanian untuk mengamalkannya. Dan ada pula yang berhasil membangun perubahan, namun enggan berkorban demi mempertahankannya. Akibatnya, hasil yang telah diraih pun perlahan runtuh.

Di titik inilah kita menyadari bahwa tantangan terbesar sebuah dakwah bukan hanya menyampaikan kebenaran, tetapi menjaga agar kebenaran itu tetap hidup. Membangun jauh lebih mudah daripada mempertahankan. Sebab mempertahankan menuntut kesabaran, konsistensi, dan sering kali pengorbanan yang tidak kecil.

Al-Qur’an menggambarkan salah satu wajah manusia ketika dihadapkan pada risiko perjuangan. Dalam Perang Ahzab, sebagian orang mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab. Allah mengabadikan sikap mereka dalam firman-Nya:

Baca Juga  Ketika Peradaban Maju, tetapi Manusia Kembali Jahiliah

يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِن يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا

“Mereka berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak aman),’ padahal rumah-rumah itu tidaklah terbuka. Mereka tidak menghendaki selain melarikan diri” (QS. Al-Ahzab: 13)

Ayat ini bukan sekadar kisah tentang sebuah peperangan. Ia adalah potret psikologi manusia yang selalu relevan. Ketika sebuah perjuangan mulai menuntut harga, alasan-alasan pun bermunculan. Tanggung jawab disamarkan sebagai kehati-hatian, rasa takut dibungkus dengan berbagai dalih yang tampak masuk akal. Padahal, yang sesungguhnya bekerja adalah keinginan untuk menghindari risiko.

Dalam konteks yang lebih luas, sikap seperti ini tidak hanya muncul di medan perang. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kejujuran mengancam kenyamanan, ketika keadilan menuntut keberanian, atau ketika membela kebenaran berpotensi mengurangi keuntungan pribadi, manusia sering kali tergoda mencari jalan aman. Dakwah pun berhenti menjadi gerakan perubahan dan berubah menjadi sekadar retorika.

Karena itu, Imam Ali bin Abi Thalib a.s mengingatkan sebuah kenyataan yang sangat mendasar. Beliau berkata:

“Demi hidupku, seandainya kami dahulu bersama Rasulullah bertindak sebagaimana kalian bertindak sekarang, niscaya tiang agama tidak akan pernah tegak dan satu pun ranting keimanan tidak akan tumbuh hijau”

Ungkapan ini menghadirkan sebuah renungan yang tajam. Islam tidak bertahan hanya karena kemuliaan ajarannya, tetapi juga karena adanya generasi yang rela mengorbankan harta, tenaga, kenyamanan, bahkan nyawa demi menjaga risalah itu tetap berdiri. Tanpa keberanian mereka, sejarah mungkin akan mencatat Islam sebagai sebuah ajaran yang pernah muncul, lalu menghilang ditelan zaman.

Pengorbanan, dengan demikian, bukanlah tambahan dalam dakwah. Ia adalah bagian dari napas dakwah itu sendiri. Setiap pencapaian membutuhkan orang-orang yang bersedia memikul beban yang tidak ingin dipikul orang lain. Setiap perubahan memerlukan mereka yang tetap bertahan ketika kebanyakan memilih mundur.

Baca Juga  Amar Ma’ruf Bukan Sekadar Kata: Ketika Lidah dan Perbuatan Harus Sejalan

Namun pengorbanan tidak selalu berarti menghadapi medan perang atau kehilangan nyawa. Di era modern, bentuknya jauh lebih beragam. Ia bisa berupa keberanian mempertahankan integritas di tengah budaya korupsi, kesediaan menyampaikan kebenaran meski tidak populer, kesabaran mendidik generasi muda tanpa mengharap pujian, atau konsistensi menjaga nilai-nilai Islam di tengah derasnya arus pragmatisme. Semua itu adalah bentuk-bentuk pengorbanan yang mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah, tetapi menentukan arah sejarah itu sendiri.

Gagasan ini kemudian menyentuh pertanyaan yang lebih pribadi. Apakah kita hanya ingin menikmati hasil perjuangan generasi terdahulu, atau ikut menjadi mata rantai yang menjaga agar nilai-nilai itu tetap hidup? Sebab setiap generasi selalu mewarisi dua pilihan: menjadi penjaga warisan atau menjadi penyebab hilangnya warisan tersebut.

Pada akhirnya, keberlangsungan risalah Islam tidak hanya bergantung pada banyaknya ceramah, buku, atau media dakwah. Yang lebih menentukan adalah hadirnya manusia-manusia yang berani menghidupkan ajaran itu dalam tindakan nyata dan rela membayar harga yang menyertainya. Sebab kebenaran memang memiliki kekuatan untuk menerangi kehidupan, tetapi cahaya itu hanya akan terus menyala jika selalu ada tangan-tangan yang bersedia menjaganya dari padam.

Itulah sebabnya pengorbanan bukan sekadar kisah masa lalu para sahabat atau para pejuang Islam. Ia adalah syarat abadi agar tujuan diutusnya Nabi Muhammad saw tetap hidup di setiap zaman, menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Bagikan:
Terkait
Komentar