Ketika Peradaban Maju, tetapi Manusia Kembali Jahiliah

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang nyaris tak terbantahkan di zaman modern: semakin tinggi ilmu pengetahuan, semakin maju pula peradaban manusia. Gedung-gedung menjulang, teknologi menembus batas imajinasi, dan kecerdasan buatan mulai mengambil alih berbagai pekerjaan. Namun sejarah berkali-kali memperlihatkan kenyataan yang lebih getir. Kemajuan material ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan moral.

Di titik inilah konsep jahiliah layak dibaca kembali. Jahiliah bukan sekadar nama sebuah masa sebelum Islam lahir di Jazirah Arab. Ia adalah keadaan ketika manusia kehilangan cahaya nurani. Sebuah zaman yang mungkin saja kembali hadir, meski dibungkus oleh kemewahan, kecanggihan, dan kemajuan yang memukau.

Misi kenabian Muhammad saw lahir justru untuk mengobati penyakit itu. Bukan hanya untuk masyarakat Arab abad ketujuh, melainkan sebagai resep yang tetap relevan sepanjang sejarah manusia.

Imam Ali bin Abi Thalib a.s dalam Nahjul Balaghah menggambarkan dunia menjelang diutusnya Nabi Muhammad dengan bahasa yang begitu puitis sekaligus mengguncang. Ia berkata:

وَالدُّنْيَا كَاسِفَةُ النُّورِ ظَاهِرَةُ الْغُرُورِ

“Dunia ketika itu kehilangan cahayanya dan dipenuhi oleh tipu daya”

Dalam bagian lain, ia melukiskan keadaan manusia yang terinjak oleh badai fitnah:

فِي فِتَنٍ دَاسَتْهُمْ بِأَخْفَافِهَا وَوَطِئَتْهُمْ بِأَظْلَافِهَا

“Mereka berada dalam berbagai fitnah yang menggilas dan menginjak mereka tanpa belas kasihan”

Gambaran itu bukan semata catatan sejarah. Ia adalah potret sebuah masyarakat yang kehilangan arah. Cahaya pengetahuan meredup, sementara tipu daya tampil sebagai wajah utama kehidupan. Yang kuat menindas yang lemah. Kebenaran dikalahkan oleh kepentingan. Perang menjadi bahasa sehari-hari, sedangkan rasa aman berubah menjadi kemewahan yang sulit ditemukan.

Namun jika ditarik lebih jauh, deskripsi itu terasa begitu akrab dengan kehidupan modern.

Baca Juga  Imam Mahdi dan Kebangkitan Akal: Saat Ilmu Menjadi Cahaya Peradaban

Hari ini, manusia memang mampu menciptakan teknologi yang belum pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Informasi bergerak dalam hitungan detik. Jarak geografis seakan lenyap. Produktivitas meningkat luar biasa. Tetapi bersamaan dengan itu, ketimpangan sosial melebar, perang terus berkobar di berbagai belahan dunia, eksploitasi ekonomi berlangsung semakin canggih, dan manipulasi informasi menjadi industri yang menguntungkan.

Kemajuan ternyata tidak otomatis melahirkan kemanusiaan.

Inilah yang ditegaskan dalam pesan tentang bi’tsah atau pengutusan Nabi Muhammad saw. Selama fondasi kehidupan masih dibangun di atas kezaliman, selama kekuasaan menjadi alat menekan kaum lemah, selama tipu daya lebih dihargai daripada kejujuran, maka manusia sesungguhnya masih hidup dalam jahiliah, betapapun modern wajah zamannya.

Jahiliah bukanlah lawan dari kecerdasan intelektual. Ia adalah lawan dari kebijaksanaan.

Seseorang dapat menguasai ilmu pengetahuan paling mutakhir, tetapi tetap menjadi bagian dari masyarakat jahiliah ketika ilmunya digunakan untuk menindas orang lain. Sebuah negara dapat memiliki ekonomi terbesar di dunia, tetapi tetap terjebak dalam jahiliah apabila kemakmurannya dibangun di atas penderitaan bangsa lain. Bahkan sebuah masyarakat religius pun bisa tergelincir ke dalam jahiliah ketika agama hanya menjadi simbol, sementara keadilan, kasih sayang, dan amanah ditinggalkan.

Di sinilah letak keunikan risalah Nabi Muhammad saw. Beliau tidak datang sekadar membawa ritual baru atau aturan ibadah. Misi beliau jauh lebih mendasar: mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk yang bermartabat.

Risalah Islam menghadirkan cahaya di tengah dunia yang kehilangan arah. Ia memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan, sekaligus memperbaiki hubungan antarmanusia. Karena itu, keberhasilan dakwah Nabi saw  tidak diukur dari banyaknya bangunan megah atau kemajuan ekonomi semata, melainkan dari lahirnya masyarakat yang menghormati martabat setiap manusia.

Baca Juga  Di Antara Iman dan Akal: Mengapa Syiah Memilih Jalan Dialog, Bukan Kepatuhan Buta 

Dalam konteks yang lebih luas, pesan ini juga menjadi kritik terhadap cara kita memahami kemajuan. Terlalu sering kemajuan hanya diukur dengan angka pertumbuhan ekonomi, kekuatan militer, atau inovasi teknologi. Padahal ukuran yang jauh lebih mendasar adalah apakah manusia semakin adil, semakin jujur, semakin peduli, dan semakin mampu menjaga sesamanya.

Tanpa itu semua, kemajuan hanya akan memperbesar dampak kerusakan.

Sejarah memberikan banyak contoh. Peradaban-peradaban besar runtuh bukan karena kekurangan ilmu, melainkan karena kehilangan moral. Mereka mampu membangun kota-kota megah, tetapi gagal membangun manusia yang bermoral. Mereka menguasai dunia, tetapi tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya sendiri.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang paling mendasar dalam kehidupan kita hari ini. Setiap zaman memiliki bentuk jahiliahnya sendiri. Dahulu ia hadir dalam penyembahan berhala, peperangan antarsuku, dan penindasan terang-terangan. Kini ia bisa menjelma dalam penyembahan terhadap kekuasaan, uang, popularitas, atau teknologi. Wujudnya berubah, tetapi penyakitnya tetap sama: manusia kehilangan orientasi kepada kebenaran.

Karena itulah resep yang dibawa Nabi Muhammad saw tidak pernah menjadi usang. Selama kezaliman masih ada, selama fitnah masih diperdagangkan, selama kebohongan lebih mudah diterima daripada kejujuran, selama manusia saling memangsa demi kepentingan sendiri, maka misi kenabian tetap menemukan relevansinya.

Imam Ali a.s mengingatkan bahwa manusia masa kini tidak memiliki alasan untuk merasa lebih unggul daripada generasi terdahulu. Mata yang kita miliki sama. Akal yang kita gunakan juga sama. Pelajaran sejarah pun telah tersedia di hadapan kita. Jika tetap mengulangi kesalahan yang sama, persoalannya bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada keengganan mengambil hikmah.

Barangkali itulah pesan terbesar dari peringatan tentang bi’tsah. Nabi Muhammad saw tidak sekadar datang mengubah sebuah masyarakat pada abad ketujuh, melainkan menawarkan sebuah paradigma peradaban. Sebuah peradaban yang menempatkan keadilan di atas kekuasaan, kebenaran di atas kepentingan, dan kemanusiaan di atas segala bentuk kesombongan.

Baca Juga  Membaca Zaman, Menjaga Arah: Ketika Ketahanan Bangsa Berawal dari Kesadaran

Selama manusia masih mencari dunia yang lebih adil dan lebih bermartabat, selama itu pula risalah kenabian akan tetap menjadi cahaya. Sebab yang sesungguhnya perlu disembuhkan bukan sekadar keterbelakangan ilmu, melainkan penyakit lama yang terus berganti wajah: jahiliah yang hidup di dalam hati manusia.

Bagikan:
Terkait
Komentar