Al-Qur’an sebagai Cahaya: Mengapa Manusia Modern Masih Membutuhkan Petunjuk Nabi?

KHAMENEI.ID– Ada anggapan bahwa semakin maju sebuah peradaban, semakin sedikit manusia membutuhkan agama. Teknologi dianggap cukup menggantikan kebijaksanaan, sementara kemajuan ekonomi diyakini mampu menghapus penderitaan. Namun, kenyataan justru memperlihatkan paradoks. Di tengah kemudahan yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya, dunia tetap dipenuhi perang, ketimpangan, krisis kemanusiaan, dan kegelisahan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah manusia berhasil menerangi kota-kotanya, tetapi gagal menerangi dirinya sendiri.

Barangkali itulah sebabnya kelahiran Nabi Muhammad saw selalu diperingati bukan sekadar sebagai peristiwa sejarah, melainkan sebagai momentum lahirnya cahaya yang mengubah arah perjalanan manusia. Beliau hadir pada masa ketika kebodohan, kesombongan, dan penindasan menjadi wajah dunia. Cahaya itu bukan hanya sosok beliau, melainkan juga wahyu yang dibawanya: Al-Qur’an.

Al-Qur’an menggambarkan misi Nabi saw dengan kalimat yang singkat namun mendalam:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar”

Yang menarik, ayat itu tidak hanya berbicara tentang kehadiran seorang nabi, tetapi tentang hadirnya petunjuk. Tubuh Nabi memang tidak lagi bersama umat manusia, tetapi jalan yang beliau tinggalkan tetap hidup. Petunjuk itu hadir dalam Al-Qur’an, kitab yang berkali-kali menyebut dirinya sebagai cahaya sekaligus penuntun kehidupan.

Al-Qur’an juga mengingatkan:

وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Mereka yang mengikuti cahaya yang diturunkan bersama Rasul, merekalah orang-orang yang beruntung”

Di sini, keberuntungan atau falah bukan sekadar keberhasilan materi. Ia adalah keadaan ketika manusia menemukan arah hidup, memperoleh keadilan, merasakan ketenteraman, dan mampu membangun hubungan yang benar dengan sesama maupun dengan Tuhan. Inilah kemenangan yang jauh lebih dalam daripada sekadar pencapaian duniawi.

Di titik ini, menarik merenungkan gambaran yang pernah disampaikan Imam Ali a.s tentang keadaan dunia sebelum Nabi Muhammad saw diutus. Beliau mengatakan bahwa dunia saat itu adalah “kāsifatu an-nūr, zhāhiratu al-ghurūr” dunia yang kehilangan cahaya dan dipenuhi tipuan. Cahaya pengetahuan meredup, sedangkan ilusi tampil begitu memikat.

Baca Juga  Membangkitkan Kembali Spirit Kenabian: Ketika Islam Menjadi Gerakan Perubahan

Ungkapan itu sering dibayangkan hanya menggambarkan Jazirah Arab sebelum Islam. Padahal, Imam Ali a.s berbicara tentang dunia secara keseluruhan. Peradaban besar ketika itu memang telah berdiri megah. Kekaisaran Persia memiliki kemajuan administrasi dan kebudayaan. Romawi menguasai wilayah luas dengan kekuatan militernya. Namun, di balik kemegahan itu, manusia tetap hidup dalam ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan kerusakan moral. Kemajuan peradaban ternyata tidak otomatis melahirkan kemanusiaan.

Namun jika ditarik lebih jauh, deskripsi itu terasa begitu akrab dengan zaman sekarang.

Hari ini manusia mampu mengirim wahana ke luar angkasa, memanfaatkan kecerdasan buatan, dan menghubungkan miliaran orang hanya melalui layar kecil di tangan. Akan tetapi, perang masih berkobar, kemiskinan belum sirna, kebencian mudah menyebar, sementara ketimpangan ekonomi justru semakin menganga. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan terasa semakin langka.

Inilah ironi dunia modern: terang secara teknologi, tetapi gelap secara moral.

Dalam konteks yang lebih luas, persoalan terbesar manusia sesungguhnya tidak banyak berubah sejak ribuan tahun lalu. Manusia tetap bergumul dengan ketidakadilan, kerakusan, kesombongan, dan tipu daya. Bentuknya mungkin berubah, tetapi akar masalahnya tetap sama. Karena itu, petunjuk yang dibutuhkan manusia pun tidak berubah. Yang diperlukan bukan hanya kecerdasan, melainkan hikmah; bukan hanya kekuatan, tetapi keadilan; bukan hanya kemajuan, melainkan arah.

Gagasan ini kemudian menyentuh makna terdalam dari risalah Nabi Muhammad saw. Islam tidak hadir semata-mata menawarkan seperangkat ritual, melainkan membawa visi tentang masyarakat yang dibangun di atas kasih sayang, kejujuran, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keadilan sosial. Itulah sebabnya Al-Qur’an terus disebut sebagai kitab petunjuk, bukan sekadar kitab bacaan.

Ketika manusia menjauh dari nilai-nilai itu, persoalan yang muncul bukan hanya krisis spiritual, melainkan juga krisis kemanusiaan. Kekuasaan berubah menjadi alat penindasan, ilmu kehilangan kebijaksanaan, dan kemajuan ekonomi melahirkan kesenjangan yang semakin tajam. Dunia tampak ramai, tetapi hati manusia semakin sunyi.

Baca Juga  Ekonomi, Pemuda, dan Perlawanan: Mengapa Musuh Menyerang dari Titik Terlemah Kita?

Tidak mengherankan jika banyak orang modern merasa kehilangan makna meski hidup dalam kemewahan. Mereka memiliki akses pada hampir semua hal, kecuali ketenangan batin. Di sinilah pesan Nabi saw menemukan relevansinya. Cahaya Al-Qur’an bukanlah cahaya yang bersaing dengan ilmu pengetahuan atau kemajuan teknologi. Sebaliknya, ia memberi arah agar semua kemajuan itu digunakan untuk memuliakan manusia, bukan menghancurkannya.

Kelahiran Nabi Muhammad saw karena itu bukan sekadar peristiwa yang dikenang setiap tahun. Ia adalah pengingat bahwa setiap zaman memiliki bentuk jahiliahnya sendiri. Dahulu jahiliah muncul dalam penyembahan berhala dan fanatisme kesukuan. Hari ini ia bisa hadir dalam penyembahan terhadap kekuasaan, uang, popularitas, bahkan teknologi yang kehilangan nilai kemanusiaan.

Selama manusia masih dikuasai keserakahan, kebohongan, dan ketidakadilan, selama itu pula dunia akan terus membutuhkan cahaya yang dibawa Nabi. Sebab, problem terbesar manusia bukanlah kurangnya informasi, melainkan hilangnya petunjuk.

Pada akhirnya, Al-Qur’an tidak sekadar mengajak manusia mengetahui kebenaran, tetapi berjalan menuju kebenaran itu. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh berbagai suara, kebutuhan paling mendesak bukanlah mendengar lebih banyak, melainkan kembali menemukan cahaya yang mampu membimbing langkah. Cahaya itulah yang dahulu menerangi dunia melalui Nabi Muhammad saw, dan hingga kini tetap terbuka bagi siapa saja yang bersedia mengikutinya.

Bagikan:
Terkait
Komentar