KHAMENEI.ID– Setiap zaman melahirkan tantangannya sendiri. Ada masa ketika manusia kehilangan arah bukan karena kekurangan ilmu, melainkan karena ilmu tercerabut dari nilai. Ada pula masa ketika agama tetap dipelajari, tetapi hanya tinggal sebagai ritual yang sunyi dari denyut kehidupan. Dalam situasi seperti itulah, misi para nabi selalu menemukan relevansinya: membangunkan manusia dari kelalaian, menghidupkan kembali fitrah yang tertidur, dan mengembalikan agama sebagai kekuatan yang mengubah sejarah.
Di era modern, gagasan tentang kebangkitan Islam bukan sekadar dipahami sebagai meningkatnya semangat beribadah. Lebih dari itu, ia dipandang sebagai upaya menghidupkan kembali ruh bi’tsah misi kenabian yang sejak awal hadir untuk membebaskan manusia dari penindasan, kebodohan, dan ketidakadilan. Spirit inilah yang oleh banyak pemikir Islam disebut kembali menemukan bentuk nyatanya melalui Revolusi Islam Iran, sebuah peristiwa yang tidak hanya mengubah wajah politik sebuah negeri, tetapi juga menghidupkan kembali dimensi sosial Islam yang lama terpinggirkan.
Selama berabad-abad, Islam sering dipersempit menjadi urusan pribadi. Agama dipandang cukup hadir di masjid, di ruang ibadah, atau dalam hubungan individual antara manusia dengan Tuhan. Sementara itu, persoalan keadilan sosial, penindasan politik, kemiskinan, dan eksploitasi dianggap berada di luar wilayah agama. Padahal, jika menengok kembali perjalanan para nabi, justru persoalan-persoalan itulah yang menjadi inti perjuangan mereka.
Nabi Musa a.s berdiri melawan tirani Fir’aun. Nabi Ibrahim a.s menghancurkan simbol-simbol kekuasaan yang menyesatkan manusia. Nabi Muhammad saw membangun masyarakat yang menjunjung keadilan dan membebaskan kaum lemah dari belenggu sistem yang zalim. Sejak awal, kenabian bukanlah proyek pelarian dari dunia, melainkan gerakan untuk memperbaiki dunia.
Di titik inilah makna kebangkitan menjadi lebih luas. Kebangkitan bukan hanya bangkitnya seorang nabi yang menerima wahyu, melainkan bangkitnya masyarakat yang disentuh oleh risalah itu. Seorang nabi tidak datang untuk menggantikan manusia berpikir dan bertindak. Ia justru membangunkan potensi yang selama ini tertidur di dalam diri mereka.
Imam Ali bin Abi Thalib a.s menggambarkan misi itu dengan sangat indah dalam Nahjul Balaghah:
وَ وَاتَرَ فِيهِمْ رُسُلَهُ لِيَسْتَأْدُوهُمْ مِيثَاقَ فِطْرَتِهِ وَيُذَكِّرُوهُمْ مَنْسِيَّ نِعْمَتِهِ وَيُثِيرُوا لَهُمْ دَفَائِنَ الْعُقُولِ
“Allah mengutus para rasul-Nya secara berkesinambungan agar mereka mengingatkan manusia kepada perjanjian fitrahnya, mengingatkan nikmat Allah yang telah mereka lupakan, dan membangkitkan harta karun akal yang terpendam dalam diri mereka”
Kalimat terakhir itu terasa sangat kuat: membangkitkan harta karun akal yang terpendam. Seolah-olah manusia sejak lahir telah membawa kekayaan yang luar biasa, tetapi terkubur oleh ketakutan, hawa nafsu, propaganda, dan kebiasaan. Tugas kenabian bukan mengisi kepala yang kosong, melainkan menggali potensi yang telah ada.
Karena itulah, masyarakat yang disentuh risalah tidak menjadi pasif. Sebaliknya, mereka bergerak. Mereka mulai mempertanyakan ketidakadilan, menolak penindasan, dan berani memperjuangkan kebenaran. Kenabian melahirkan manusia-manusia yang hidup, bukan sekadar pengikut yang patuh tanpa kesadaran.
Dalam konteks yang lebih luas, Imam Ali a.s juga memberikan gambaran yang menarik tentang Nabi Muhammad saw. Ia menyebut beliau sebagai seorang tabib yang selalu berkeliling membawa obat.
طَبِيبٌ دَوَّارٌ بِطِبِّهِ قَدْ أَحْكَمَ مَرَاهِمَهُ وَأَحْمَى مَوَاسِمَهُ
“Beliau adalah seorang tabib yang selalu berkeliling dengan pengobatannya. Ia telah menyiapkan salep-salep penyembuh dan juga besi panas untuk pengobatan”
Perumpamaan ini mengandung pesan yang mendalam. Seorang dokter tidak selalu memberikan obat yang sama kepada semua pasien. Ada luka yang cukup disembuhkan dengan salep lembut. Ada pula penyakit yang sudah terlalu parah sehingga memerlukan tindakan yang lebih keras agar tidak semakin membahayakan.
Begitu pula agama. Islam mengenal kasih sayang, kelembutan, dialog, dan pengampunan. Namun, pada saat yang sama, ia juga mengenal hukum, disiplin, dan ketegasan demi menjaga kehidupan masyarakat. Ketegasan bukanlah lawan dari kasih sayang. Dalam banyak keadaan, justru ketegasan merupakan bentuk kasih sayang yang lebih dalam agar kerusakan tidak semakin meluas.
Sayangnya, manusia modern sering kali hanya menerima bagian agama yang terasa nyaman, sementara menolak dimensi yang menuntut tanggung jawab sosial. Agama dipeluk sebagai sumber ketenangan batin, tetapi enggan dijadikan kompas dalam menghadapi korupsi, ketimpangan ekonomi, eksploitasi manusia, atau dominasi kekuasaan yang sewenang-wenang.
Padahal, para nabi selalu hadir di tengah persoalan nyata masyarakat. Mereka tidak membangun komunitas yang hanya sibuk berzikir, tetapi diam melihat penindasan. Mereka juga tidak sekadar mengecam kezaliman dengan kata-kata, melainkan membangun sistem kehidupan yang lebih adil.
Di sinilah relevansi spirit kenabian bagi dunia hari ini. Krisis terbesar manusia modern mungkin bukan kekurangan teknologi atau informasi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah hilangnya keberanian moral. Banyak orang mengetahui kebenaran, tetapi takut membelanya. Banyak yang memahami keadilan, tetapi memilih diam karena merasa lebih aman.
Akibatnya, sebagaimana diingatkan Imam Ali a.s dalam salah satu khutbahnya, manusia dapat berubah menjadi sosok yang hidup secara fisik tetapi mati secara ruhani. Mata tetap terbuka, tetapi tidak mampu melihat kebenaran. Telinga berfungsi, tetapi enggan mendengar nasihat. Lidah fasih berbicara, tetapi kehilangan keberanian untuk mengucapkan yang benar. Agama masih dikenakan, namun hanya seperti pakaian yang dipakai terbalik; bentuknya tetap ada, tetapi hakikatnya telah berubah.
Peringatan itu terasa semakin dekat dengan kehidupan kita. Di tengah derasnya arus informasi, manusia justru mudah kehilangan orientasi. Kebohongan dipoles menjadi kebenaran. Popularitas lebih dihargai daripada integritas. Kekuasaan sering kali mengalahkan nurani.
Karena itu, membangkitkan kembali spirit kenabian bukan berarti menunggu hadirnya seorang pembaru besar. Kebangkitan selalu dimulai dari kesediaan setiap orang untuk membangunkan fitrahnya sendiri, menghidupkan akalnya, dan menghadirkan nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, risalah para nabi sejak awal bukan sekadar mengajarkan cara beribadah kepada Tuhan, melainkan juga cara memanusiakan manusia.
Ketika agama kembali menjadi cahaya yang menerangi kehidupan sosial, ketika keberpihakan kepada kaum tertindas menjadi bagian dari iman, dan ketika akal serta nurani dibangkitkan untuk melawan kezaliman, pada saat itulah spirit kenabian benar-benar hidup. Dan mungkin, itulah makna terdalam dari sebuah kebangkitan: bukan sekadar mengubah keadaan, tetapi menghidupkan kembali manusia.







