KHAMENEI.ID– Tidak ada kepemimpinan yang bertahan lama hanya karena kekuasaan. Ia membutuhkan sesuatu yang jauh lebih rapuh sekaligus lebih kuat: kepercayaan. Begitu kepercayaan itu hilang, hukum, pidato, bahkan kekuatan negara pun tak lagi mampu menyatukan manusia. Sebaliknya, ketika kepercayaan tumbuh, orang rela berjalan jauh, berdiri berjam-jam, bahkan berkorban tanpa diminta.
Hubungan antara pemimpin dan rakyat sejatinya bukan hubungan atasan dengan bawahan. Ia adalah ikatan timbal balik yang dibangun oleh keyakinan bahwa keduanya sedang berjalan menuju tujuan yang sama. Pemimpin mempercayai rakyatnya, sementara rakyat mempercayai bahwa pemimpinnya tidak mengkhianati amanat yang dipikulnya. Dari sinilah lahir energi sosial yang tidak dapat dibeli ataupun dipaksakan.
Kepercayaan semacam itu bukan sekadar optimisme kosong. Ia adalah keyakinan bahwa di balik gerak kolektif masyarakat, ada kehendak yang lebih besar sedang bekerja. Dalam sebuah hadis yang juga dikutip oleh Imam Ali a.s, disebutkan:
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Tangan Allah bersama kebersamaan”
Kalimat yang singkat itu mengandung makna yang sangat dalam. Pertolongan Tuhan tidak turun kepada orang yang sibuk memecah belah, melainkan kepada mereka yang menjaga persatuan di atas kebenaran. Kebersamaan bukan sekadar berkumpul dalam jumlah besar, tetapi kesatuan hati yang digerakkan oleh tujuan yang sama.
Dalam kehidupan sebuah bangsa, kita kerap menyaksikan momen-momen yang sulit dijelaskan hanya dengan hitungan politik atau ekonomi. Ada saat ketika ribuan bahkan jutaan orang datang memenuhi ruang publik tanpa imbalan apa pun. Mereka rela menghadapi panas, hujan, atau dingin. Tidak ada keuntungan materi yang menunggu mereka. Namun mereka tetap datang karena merasa sedang menjaga sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Di titik inilah kepercayaan menemukan bentuknya yang paling nyata. Seorang pemimpin yang melihat rakyat dengan sinisme hanya akan menemukan alasan untuk curiga. Sebaliknya, pemimpin yang percaya kepada ketulusan rakyat akan melihat adanya modal sosial yang luar biasa. Kepercayaan itu melahirkan dialog, bukan manipulasi; melahirkan penghormatan, bukan eksploitasi.
Namun jika ditarik lebih jauh, kepercayaan tidak boleh berubah menjadi kultus individu. Imam Ali a.s pernah mengingatkan bahaya mencintai atau membenci seseorang secara berlebihan. Dalam salah satu khutbahnya di Nahjul Balaghah, beliau mengatakan bahwa akan binasa dua golongan karena dirinya: mereka yang mencintainya secara berlebihan hingga keluar dari kebenaran, dan mereka yang membencinya secara berlebihan hingga juga meninggalkan kebenaran. Jalan terbaik adalah jalan pertengahan.
Dalam khutbah yang sama beliau menegaskan:
فَالْزَمُوا السَّوَادَ الْأَعْظَمَ فَإِنَّ يَدَ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ
“Berpeganglah kepada mayoritas umat, karena tangan Allah bersama kebersamaan. Jauhilah perpecahan”
Pesan ini sering disalahpahami sebagai ajakan mengikuti suara terbanyak tanpa kritik. Padahal konteksnya justru berbeda. Imam Ali a.s sedang mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh mudah dipecah oleh fanatisme, kebencian, ataupun propaganda yang menjadikan sesama muslim saling mengafirkan. Beliau mengecam keras kecenderungan menghukum seluruh masyarakat hanya karena kesalahan sebagian orang. Nabi Muhammad saw sendiri, kata Imam Ali a.s, tetap memperlakukan pelaku dosa sebagai bagian dari komunitas Islam setelah hukuman dijalankan. Hak-hak mereka sebagai anggota masyarakat tidak dihapus hanya karena dosa yang pernah dilakukan.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang sangat modern. Di era media sosial, manusia begitu mudah menghakimi secara kolektif. Kesalahan satu orang sering diperluas menjadi vonis terhadap seluruh kelompok. Perbedaan pandangan politik berubah menjadi kebencian yang diwariskan. Satu kesalahan dianggap cukup untuk menghapus seluruh kebaikan seseorang.
Padahal masyarakat yang sehat dibangun bukan di atas budaya saling menyingkirkan, melainkan kemampuan membedakan antara kritik terhadap kesalahan dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Di sinilah kepemimpinan diuji. Pemimpin bukan orang yang memperbesar jurang perbedaan demi memperoleh dukungan sesaat. Ia justru menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai kelompok yang berbeda. Ia mengingatkan bahwa tujuan bersama jauh lebih penting daripada kemenangan kelompok tertentu.
Begitu pula rakyat. Kepercayaan kepada pemimpin bukan berarti menutup mata terhadap kekeliruan. Kepercayaan adalah kesediaan untuk membangun komunikasi yang jujur, mengingatkan ketika salah, dan mendukung ketika benar. Hubungan seperti ini membuat negara tidak mudah goyah oleh badai krisis.
Dalam konteks yang lebih luas, kepercayaan juga merupakan bentuk pengakuan terhadap campur tangan Tuhan dalam sejarah manusia. Ada peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan teori politik. Ketika masyarakat bergerak dengan keikhlasan, ketika kepentingan pribadi melebur menjadi kepentingan bersama, ketika orang-orang rela berkorban demi nilai yang diyakini benar, saat itulah manusia menyaksikan bahwa sejarah bukan hanya digerakkan oleh strategi, tetapi juga oleh iman.
Karena itu, kebersamaan bukan sekadar strategi sosial. Ia adalah nilai spiritual. Sebaliknya, perpecahan bukan hanya persoalan politik, tetapi juga kehilangan arah moral. Sebagaimana domba yang terpisah dari kawanan lebih mudah diterkam serigala, masyarakat yang tercerai-berai akan lebih mudah dikuasai oleh kepentingan, kebencian, dan tipu daya.
Pada akhirnya, kepercayaan adalah mata uang paling berharga dalam kehidupan berbangsa. Ia tidak lahir dari propaganda, tetapi dari ketulusan. Ia tidak dibangun oleh rasa takut, melainkan oleh penghormatan. Dan selama pemimpin masih mempercayai rakyatnya, sementara rakyat tetap menjaga kepercayaan kepada nilai-nilai yang benar, selalu ada harapan bahwa “tangan Allah bersama kebersamaan” bukan sekadar ungkapan, melainkan kenyataan yang hidup di tengah perjalanan sebuah bangsa.







