Pernikahan sering dipahami sekadar seremoni, pesta, atau bahkan transaksi sosial. Tapi, bagaimana jika pernikahan sejatinya adalah sayap untuk terbang, bukan jangkar yang membelenggu? Inilah pesan mendasar yang disampaikan oleh Imam Ali Khamenei dalam sebuah acara pembacaan akad nikah, dimana ia mengajak kita merefleksikan ulang makna pernikahan, keluarga, dan anak dalam perspektif Tauhid.
Ketika Upacara Kosong Menggerogoti Makna
Dalam sambutannya, beliau menyatakan bahwa tangan dan kaki kita “terbelenggu oleh upacara-upacara kosong dan hampa dari segala jenisnya.” Kebanyakan perayaan pernikahan hanya berisi formalitas tanpa ruh. Padahal, jika upacara itu diisi dengan pemahaman yang benar, ia dapat menjadi sarana kehidupan. Namun, realitas masyarakat menunjukkan adanya banyak titik pemahaman yang keliru mengenai pernikahan. Waktu, budaya, dan tekanan lingkungan telah membuat umat Islam terperosok dalam lapisan-lapisan tradisi yang dangkal, sehingga jauh dari wawasan Islam yang sejati.
Akibatnya, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai bagian dari perjalanan spiritual, melainkan sekadar pemenuhan kebutuhan biologis atau gengsi sosial. Padahal, pandangan Islam tentang pernikahan, keluarga, dan anak sangatlah dalam dan transformatif.
Doa: “Ya Allah, Anugerahkanlah Penyejuk Mata”
Beliau mengutip firman Allah dalam Surah Al-Furqan (ayat 63 dan 74) yang menggambarkan ciri ‘ibadurrahman (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih). Setelah disebutkan bahwa mereka berjalan dengan rendah hati dan menjawab kebodohan dengan salam, mereka juga berdoa: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari pasangan dan keturunan kami, penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Doa ini menunjukkan bahwa pasangan dan anak bukanlah beban atau sekadar pelengkap, melainkan sumber kebahagiaan mata dan hati. Namun, untuk memahami bagaimana mereka bisa menjadi ‘penyejuk mata’, kita harus memahami orientasi hidup dalam Islam.
Semua Gerak Hidup Harus untuk Allah
Landasan utama dalam Islam adalah bahwa seluruh kekuatan dan potensi manusia adalah sarana untuk perjalanan menuju Allah Swt. Beliau mengutip Surah Al-An’am (ayat 162): “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” Shalat yang benar adalah shalat yang membentuk manusia dan lingkungannya. Demikian pula semua tindakan seorang Muslim—termasuk menikah, memiliki anak, dan membesarkan mereka—harus diarahkan kepada Allah.
Jika seseorang hanya menjadikan sebagian hidupnya untuk Allah Swt, ia belum sempurna dalam ketauhidannya. Kesempurnaan hanya tercapai ketika seluruh manifestasi kehidupan, dari yang paling personal hingga sosial, dijalankan untuk Allah Swt.
Penyimpangan Zaman: Keluarga Menjadi Jangkar, Bukan Sayap
Menurut Imam Ali khamenei, sekarang ini, bahkan di kalangan masyarakat yang relijiuspun, anak dan istri tidak lagi menjadi sarana untuk terbang dan berkembang. Sebaliknya, mereka menjadi jangkar yang membuat manusia tenggelam ke tingkatan yang lebih rendah. Alih-alih mendorong gerakan menuju Allah Swt, keluarga justru menghalangi gerak sekecil apa pun. Ini terjadi karena kita gagal memahami makna sejati anak dan pasangan.
Manusia hanyalah partikel kecil dalam pergerakan alam semesta yang agung, dan alam semesta ini bergerak menuju Allah Swt, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ad-Dukhan: “langit dan bumi diciptakan dengan hak (kebenaran), bukan main-main”. Dalam arus besar ini, manusia diberi kehendak. Ia dapat menyelaraskan diri dengan kafilah kosmik yang menuju Allah Swt, atau terhenti. Pada titik di mana kehendak berperan, manusia bisa bergerak bersama kafilah itu, bahkan berperan efektif.
Pernikahan sebagai Sarana Ketenangan untuk Bergerak Lebih Cepat
Dalam surah Al-A’raf, ayat 189 Allah Swt berfirman: “Dan Dia menjadikan pasangannya (dari jenisnya) daripadanya agar ia merasa tenteram kepadanya.” Ketenangan (sakinah) yang dihasilkan dari pernikahan bukan tujuan akhir, melainkan modal untuk bergerak lebih cepat dan lebih baik di jalan Allah. Pasangan bukanlah ‘tandingan’ yang menyaingi Tuhan, melainkan penolong yang sama-sama mencari Tuhan.
Beliau memberikan contoh sempurna: pernikahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra as. Setelah menikah, Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib bukan menjadi sibuk dengan urusan duniawi yang melalaikan, melainkan menjadi prajurit yang lebih gagah perkasa dan manusia yang lebih dinamis. Mengapa? Karena kekuatannya ditambahi dengan kekuatan Siti Fatimah, seorang manusia dinamis yang juga mencurahkan seluruh energinya untuk Allah. Kekosongan-kekosongan individu tertutup, sehingga tidak ada energi yang terbuang, dan semuanya digunakan lebih baik, lebih banyak, dan lebih cepat di jalan Allah Swt.
Anak: Bukan Burung dalam Sangkar, Melainkan Amanah untuk Terbang Tinggi
Pandangan yang sama berlaku untuk anak. Anak bukanlah batu yang membebani kaki, bukan pula jangkar. Anak dalam perspektif Islam adalah amanah dari Allah Swt, burung yang belum bersayap. Tugas orangtua adalah membantu anak menumbuhkan sayap agar ia dapat terbang tinggi menjulang. Kasih sayang bukan berarti memotong sayapnya atau mengikat kakinya agar selamanya tinggal di rumah dan sangkar kita. Membantu anak berarti mendorongnya ke arah fitrahnya, ke jalan yang menjadi tujuannya. Memberi makan dan minum merupakan sarana untuk itu, bukan tujuan. Jika kita memandang pasangan dan anak dengan kaca mata ini, maka kesalahan-kesalahan cara pandang dangkal akan lenyap dengan sendirinya.
Ironi Zaman: Kegagalan Memahami Pemikiran Islam yang Sesuai Fitrah
Beliau menegaskan bahwa zaman sekarang telah menjadi zaman manifestasi budaya-budaya yang lahir dari wawasan manusiawi yang mendalam. Di pasar pemikiran global, tidak ada komoditas yang lebih laris daripada pemikiran yang benar, membimbing, dan lahir dari hakikat fitrah manusia. Anehnya, meskipun pemikiran Islam justru sesuai dengan fitrah itu, umat Islam belum berupaya sungguh-sungguh memahaminya. Banyak persoalan Islam masih tetap gelap bagi kita.
Kesempatan seperti majelis pernikahan ini harus digunakan untuk meyakinkan diri bahwa pernikahan, pembentukan keluarga, melahirkan anak, hidup bersama pasangan, dan mendidik anak adalah langkah-langkah penting dan wajib dalam perjalanan menuju tujuan akhir kehidupan. Sayangnya, di sebagian besar masyarakat kita, pernikahan masih berbentuk perdagangan, upacaranya berisi pamer-pamer rendah dan tak berharga. Pembentukan keluarga tidak lebih tinggi dari pemuasan naluri hewani. Ini adalah kenyataan pahit.
Penutup
Mekipun demikian, sebisa mungkin kita harus mengambil bantuan dari wawasan dan ajaran Islam di bidang-bidang ini. Di lingkungan-lingkungan kecil yang tampaknya tidak penting, komitmen seperti ini bisa sangat bermanfaat. Harapannya, hati kita semakin terang dengan ma’rifat Islam. Semoga doa ‘ibadurrahman—yang memohon pasangan dan anak sebagai penyejuk mata—terkabul untuk kita. Semoga anak-anak dan pasangan kita di dunia dan akhirat benar-benar menjadi kebahagiaan mata dan hati kita. Dan semoga ucapan-ucapan ini membekas secara konstruktif pada diri pendengar, sehingga kita benar-benar menjadi seperti apa yang kita katakan.







