KHAMENEI.ID– Sebuah universitas dapat menjadi tempat lahirnya pengetahuan. Tapi ia juga bisa menjadi tempat lahirnya ketergantungan. Di balik ruang kuliah, laboratorium, perpustakaan, dan gelar akademik, selalu ada pertanyaan yang lebih besar: untuk siapa sebenarnya ilmu pengetahuan diproduksi?
Pertanyaan itu membawa kita pada cara melihat universitas yang berbeda. Dalam gagasan revolusi yang disampaikan kepada para mahasiswa, kampus tidak semestinya diperlakukan sekadar sebagai mesin pencetak tenaga kerja terdidik. Universitas seharusnya menjadi tempat mencetak manusia unggul untuk menyelesaikan persoalan bangsanya, mendorong kemajuan sekaligus mengejar ketertinggalan yang telah berlangsung berabad-abad.
Di titik ini, pendidikan tinggi memperoleh makna yang lebih luas daripada sekadar memperoleh ijazah. Mahasiswa bukan hanya calon profesional yang sedang menunggu masuk ke pasar kerja. Ia adalah bagian dari generasi yang kelak menentukan apakah sebuah bangsa mampu berdiri dengan kakinya sendiri.
Gagasan itu berangkat dari pengalaman sejarah yang panjang. Selama berabad-abad, kolonialisme bekerja dengan cara yang terang-terangan. Sejak sekitar abad ke-17, kekuatan Eropa memperluas kekuasaan ke berbagai wilayah dunia melalui penaklukan, kekerasan, dan penguasaan sumber daya. Negara yang lemah diduduki atau dikendalikan, sementara kekayaan dan kepentingannya diarahkan untuk menguntungkan penguasa dari luar.
Namun sejarah kolonialisme tidak berhenti ketika bendera penjajah diturunkan.
Setelah melewati beberapa abad, muncul kesadaran bahwa menguasai sebuah negeri secara langsung tidak selalu efisien. Dunia berubah. Masyarakat mulai mengenal nasionalisme. Biaya pendudukan semakin mahal. Perlawanan semakin besar. Maka bentuk kekuasaan pun berubah wajah.
Di sinilah gagasan neokolonialisme menemukan tempatnya.
Tidak selalu diperlukan tentara yang berdiri di jalan-jalan. Tidak selalu diperlukan pemerintahan asing yang secara resmi mengendalikan sebuah negara. Cukup membentuk lingkungan yang memungkinkan kepentingan dari luar dijalankan oleh orang-orang dari dalam.
Caranya bisa jauh lebih halus: membentuk elite, memengaruhi cara berpikir, menentukan standar keberhasilan, bahkan ikut menentukan siapa yang dianggap layak disebut modern, maju, dan terdidik.
Universitas, dalam pembacaan semacam ini, menjadi ruang yang sangat strategis.
Sebab siapa yang menguasai cara sebuah generasi berpikir, pada akhirnya memiliki pengaruh terhadap arah masa depan bangsa itu sendiri.
Karena itu, persoalan mencetak manusia unggul tidak pernah sepenuhnya netral. Pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak mahasiswa yang lulus, berapa banyak doktor yang dihasilkan, atau berapa banyak publikasi yang diterbitkan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: pengetahuan itu kelak digunakan untuk menyelesaikan persoalan siapa?
Jika universitas menghasilkan ribuan orang pintar yang hanya ingin meninggalkan negerinya, menghindari persoalan masyarakatnya, atau sekadar menjadi pelaksana kepentingan yang dirumuskan di tempat lain, maka kecerdasan itu belum tentu berubah menjadi kekuatan nasional.
Namun sebaliknya, universitas yang melahirkan ilmuwan, insinyur, dokter, ekonom, pemikir, dan pemimpin yang mampu membaca masalah bangsanya sendiri sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada pendidikan profesional. Ia sedang membangun kemandirian.
Di sinilah perbedaan antara dua cara memandang kampus menjadi jelas.
Universitas dapat dipahami sebagai pabrik tenaga ahli. Atau ia dapat dipandang sebagai ruang pembentukan generasi yang mampu memecahkan masalah bangsa.
Perbedaannya tampak kecil, tetapi akibatnya besar.
Dalam pandangan pertama, mahasiswa terutama bertanya: pekerjaan apa yang bisa saya dapatkan setelah lulus? Dalam pandangan kedua, pertanyaannya bergeser: masalah apa yang bisa saya selesaikan dengan ilmu yang saya miliki?
Pergeseran pertanyaan itu mungkin merupakan inti persoalannya.
Sebab bangsa yang tertinggal tidak hanya membutuhkan lebih banyak orang berpendidikan. Ia membutuhkan orang-orang berpendidikan yang memahami mengapa ketertinggalan itu terjadi dan bersedia bekerja untuk mengakhirinya.
Ketertinggalan yang dimaksud bukan semata-mata soal teknologi. Ia bisa berupa ketergantungan ekonomi, lemahnya industri, kesenjangan sosial, krisis pangan, rendahnya kualitas pendidikan, keterbatasan riset, hingga ketidakmampuan mengelola sumber daya sendiri. Semua itu membutuhkan pengetahuan. Tetapi pengetahuan baru menjadi kekuatan ketika ia berhubungan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Karena itu, membaca sejarah kolonialisme dan neokolonialisme bukan sekadar kegiatan nostalgia. Ia merupakan cara untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja ketika bentuknya tidak lagi terlihat.
Di dunia yang semakin terhubung, pengaruh tidak selalu datang melalui ancaman. Ia dapat hadir melalui teknologi yang kita gunakan, standar yang kita ikuti, pengetahuan yang kita konsumsi, bahkan melalui definisi tentang apa yang disebut sebagai kemajuan.
Namun di sinilah universitas seharusnya menjalankan fungsi kritisnya. Kampus bukan tempat untuk menerima semua gagasan sebagai kebenaran, tetapi juga bukan ruang untuk menolak segala sesuatu yang datang dari luar. Tugasnya adalah membangun kemampuan untuk membedakan, menguji, meneliti, dan memilih dengan kesadaran.
Universitas yang sehat tidak menciptakan manusia yang takut kepada dunia. Ia menciptakan manusia yang cukup berilmu untuk berhadapan dengan dunia tanpa kehilangan kemampuan menentukan arahnya sendiri.
Mungkin karena itu persoalan pendidikan tinggi pada akhirnya bukan hanya persoalan kampus. Ia adalah persoalan masa depan sebuah bangsa.
Sebab setiap generasi mahasiswa sedang membawa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Mereka membawa kemungkinan: menjadi manusia yang sekadar berhasil hidup di dalam sistem yang sudah tersedia, atau menjadi manusia yang mampu memperbaiki sistem ketika sistem itu tidak lagi berpihak kepada kepentingan bersama.
Kampus berada di persimpangan itu.
Di sana ilmu dapat berubah menjadi karier, tetapi juga dapat berubah menjadi pengabdian. Kecerdasan dapat menjadi tiket untuk pergi, tetapi juga dapat menjadi alasan untuk kembali. Dan gelar dapat berhenti sebagai tanda keberhasilan pribadi, atau menjelma menjadi alat untuk membuka jalan bagi masyarakat yang lebih luas.
Pada akhirnya, ukuran universitas mungkin bukan hanya seberapa tinggi menara ilmunya, melainkan seberapa jauh pengetahuan yang lahir di dalamnya mampu membuat sebuah bangsa berdiri lebih tegak.






