Tafsir Surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs (Part 2)

Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Ar-Rahman dan Ar-Rahim keduanya diambil dari akar kata “Rahmat”, namun dengan dua perhatian dan sudut pandang yang berbeda.

  • Ar-Rahman: Adalah sighah mubalaghah (bentuk hiperbolis). Dalam bahasa Arab, salah satu bentuk mubalaghah adalah fa’lan. Rahman menunjukkan banyaknya rahmat dan limpahan rahmat; menunjukkan luasnya lingkaran rahmat Ilahi.
  • Ar-Rahim: Berasal dari materi rahmat yang sama, namun merupakan sifat musyabbahah. Ia menunjukkan ketetapan dan keabadian. Ketika kita membawa sebuah akar kata ke bentuk fa’il (Rahim) dalam bahasa Arab, pada hakikatnya kita menunjukkan bahwa sifat ini memiliki ketetapan dan kesinambungan.

Jadi, jika kita melihat “Ar-Rahmanir Rahim” secara umum: dari kata Ar-Rahman kita memahami bahwa Tuhan memiliki rahmat yang sangat banyak dan cakupan rahmat-Nya sangat luas. Dari kata Ar-Rahim kita memahami bahwa rahmat Tuhan itu terus-menerus, abadi, dan tetap bagi-Nya; rahmat ini tidak akan pernah hilang.

Dalam konvensi Al-Qur’an, Rahman dan Rahim digunakan dalam dua makna:

  1. Ar-Rahman: Digunakan sebagai rahmat Tuhan di dunia terhadap seluruh maujud. Ketika kita memuji Tuhan dengan sifat Rahmaniyah, pada hakikatnya kita mengatakan bahwa rahmat Tuhan mencakup seluruh maujud di alam. Jadi Rahman bermakna pemilik rahmat kolektif. Apa itu rahmat kolektif? Rahmat menciptakan mereka, rahmat petunjuk umum bagi mereka.
    أَعْطى كُلَّ شَیْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدی “Yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaha: 50). Tuhan Yang Maha Tinggi membimbing segala sesuatu dalam sebuah jalur; pohon dibimbing menuju pertumbuhan و kesempurnaan, biji menuju pembuahan, hewan demikian pula, benda mati pun demikian. Penciptaan dan petunjuk alami seluruh maujud adalah rahmat Tuhan bagi semua maujud. Di dunia, Ia memberikan rahmat kepada manusia; rahmat kehidupan, pernapasan, keturunan, dan kelezatan dunia. Hewan dan benda mati pun diberi rahmat sesuai kebutuhan mereka. Jadi ini adalah rahmat umum Ilahi terhadap seluruh maujud. Tuhan disebut Rahman berdasarkan rahmat ini. Jadi Ar-Rahman berarti pemberi rahmat kolektif dan luas. Rahmat ini sangat besar namun bersifat sementara dan terbatas hanya di dunia ini saja.
  2. Ar-Rahim: Rahmat yang dipahami dari kata Rahim adalah jenis yang lain. Ini adalah rahmat khusus. Rahmat yang dikhususkan bagi sekelompok maujud, yaitu orang-orang mukmin dan hamba-hamba Allah yang saleh. Ketika kita memuji Tuhan dengan sifat Rahim, pada hakikatnya kita merujuk pada jenis rahmat khusus Sang Pencipta bagi orang-orang mukmin, yaitu: hidayah khusus, ampunan (maghfirah), balasan baik atas perbuatan, serta keridaan-Nya. Rahmat ini, meskipun jangkauannya terbatas (khusus mukmin), namun bersifat abadi/selamanya.
Baca Juga  Tafsir Surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamaenei qs (Part 1)

Jadi, Ar-Rahim berarti pemilik rahmat khusus namun abadi. Ar-Rahman berarti pemilik rahmat luas namun terbatas pada waktu tertentu (dunia).

Dalam bahasa Persia, Rahman bisa diterjemahkan sebagai Bakhshandeh (Maha Pemberi) karena pemberian Tuhan tidak terbatas pada siapa pun. Rahim lebih cocok diterjemahkan sebagai Bakhshayeshgar (Maha Pengampun/Penyayang) karena bakhshayesh lebih merujuk pada pengampunan dan keridaan. Maka kita bisa berkata: “Dengan nama Tuhan Yang Maha Pemberi lagi Maha Pengampun”.

Makna Al-Hamd

Hamd berarti memuji seorang manusia atau suatu maujud atas tindakan atau sifat yang muncul darinya atas dasar pilihan (ikhtiar). Jika suatu keistimewaan ada pada seseorang namun bukan atas pilihannya, itu tidak disebut Hamd, melainkan Madah. Misalnya, memuji kecantikan seseorang dalam bahasa Arab tidak disebut “menghamd” kecantikannya. Namun, keberanian atau kedermawanan seseorang bisa di-hamd.

Oleh karena itu, Hamd berbeda dengan Madah. Dalam bahasa Persia, saya tidak menemukan kata yang tepat menunjukkan makna Hamd. “Setayesh” (Pujian) bisa menjadi makna Hamd, namun “Setayesh” juga mencakup makna Madah. Kita terpaksa menggunakan “Setayesh”.

  • Al-Hamdu: Kata “Al” di sini adalah “Al” jenis atau “Al” istighraq (mencakup segalanya). Artinya, segala jenis pujian dan seluruh pujian adalah milik Allah. Kalimat ini memahamkan kita bahwa seluruh kebaikan dan seluruh keindahan adalah milik Tuhan و berasal dari Tuhan.

Makna Rabbul ‘Alamin

Kalimat Rabbul ‘Alamin berfungsi sebagai argumen bagi Alhamdulillah. Mengapa segala pujian milik Allah? Karena Allah adalah Rabbul ‘Alamin. Rabb memiliki berbagai makna:

  1. Pengatur dan Pengelola (Mudabbir): Sosok yang urusan sesuatu ada di tangannya. Dalam bahasa Persia sepadan dengan Kardegar.
  2. Pendidik/Penumbuh (Parvaresh-dahandeh): Dalam bahasa Persia adalah Parvardegar.
  3. Pemilik dan Tuan (Malik/Sahib): Dalam bahasa Persia adalah Khodavandgar. Jadi kata Rabb mencakup semua makna dalam ketiga kata tersebut: Pendidik, Pengatur, Pemilik, dan Tuan.
Baca Juga  Persatuan Bukanlah Sebuah Taktik

‘Alamin: Jamak dari ‘Alam. ‘Alam berarti “kumpulan yang harmonis dan memiliki arah yang satu”. Misalnya alam manusia, alam hewan, alam benda mati. Kumpulan dari semua ini disebut ‘Alamin.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمین “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Segala pujian dan syukur adalah milik Allah yang merupakan Rabb, Pengatur, dan Tuan dari seluruh alam. Karena seluruh alam milik-Nya, maka segala pujian milik-Nya. Ini adalah inti pemikiran seorang Muslim; mengeluarkan manusia dari penjara sempit individualitas dan materialisme. Dunia milik Tuhan. Sebagaimana kata Iqbal: “Setiap negeri adalah negeri kami, karena ia adalah negeri Tuhan kami.”

Kita adalah milik Tuhan dan kita ada untuk tujuan-tujuan Tuhan:

إِنَّا لِلَّهِ وَ إِنَّا إِلَیْهِ راجِعُونَ “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156) Inilah konsep Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, fondasi dari seluruh perasaan, pemikiran, dan cita-cita Islam.

Pengulangan Ar-Rahman Ar-Rahim

Sifat “Maha Pemberi lagi Maha Pengampun” diulang kembali di sini. Ini bisa berarti tidak masalah karena Bismillah adalah kalimat terpisah untuk semua surah. Namun, penyebutan Ar-Rahmanir Rahim setelah Rabbul ‘Alamin adalah untuk menjelaskan “Arah Rububiyah Ilahi”. Tuhan yang merupakan Rabbul ‘Alamin (Pendidik dan Pengatur), mendidik manusia dalam arah apa? Jawabannya: dalam arah Rahmat. Tuhan membimbing manusia menuju rahmat. Sebagaimana bait syair: “Makhluk datang dari rahmat dan pergi menuju rahmat. Inilah rahasia cinta yang membuat akal terheran-heran.”

Jadi, pengulangan Ar-Rahmanir Rahim adalah untuk menegaskan maksud tersebut.

Baca Juga:

Tafsir Surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamaenei qs (Part 1)

Shalat part 2: Batas Menutup Aurat Dalam Shalat

Haji sebagai Pesan Global: Membaca Ayat-Ayat Al-Qur’an dalam Seruan Haji Ayatollah Khamenei

Baca Juga  Membersihkan Hati dengan Istighfar: Ketika Dosa Tak Lagi Terlihat, Tapi Terasa

Mengenal Konsep Wilayat Faqih (2) Siapa yang Layak Menjalankan Hukum? Dari Kekuasaan hingga Amanah dalam Perspektif Islam

Bagikan:
Terkait
Komentar