Masa Depan Anak-Anak Tak Bisa Disimpan dalam Laci 

KHAMENEI.ID– Ada kegagalan yang tidak selalu tampak sebagai kegagalan. Ia tidak menimbulkan keruntuhan gedung, tidak membuat sirene berbunyi, bahkan kadang tetap terlihat rapi di atas kertas. Salah satunya adalah ketika sebuah gagasan besar tentang transformasi pendidikan disimpan terlalu lama tanpa pernah benar-benar dijalankan.

Di situlah persoalan pendidikan sering bermula: bukan karena kita kekurangan dokumen, rumusan, atau cita-cita, melainkan karena kita gagal mengubah gagasan menjadi gerak.

Dalam sebuah pertemuan dengan para guru,  Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs menyoroti satu kata yang dianggapnya paling penting dalam pembicaraan tentang pendidikan: transformasi. Ia mengingatkan pengalaman ketika dokumen transformasi pendidikan pernah dibiarkan begitu saja, tersimpan di dalam laci, seolah tugas sebuah gagasan telah selesai hanya karena ia berhasil ditulis dan disahkan.

Padahal dokumen tidak mengubah sekolah. Yang mengubah sekolah adalah manusia yang menghidupkannya.

Pengalaman menyimpan dokumen tanpa tindakan itu, menurutnya, telah membawa kerugian. Beberapa tahun berlalu tanpa kemajuan berarti karena agenda perubahan tidak sungguh-sungguh dijalankan. Waktu, dalam pendidikan, bukan sekadar angka dalam kalender. Setiap tahun yang hilang berarti satu generasi melewati kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Di titik ini, persoalannya menjadi jauh lebih besar daripada sekadar administrasi.

Sebuah bangsa dapat memiliki kurikulum yang bagus, visi pendidikan yang terdengar meyakinkan, dan dokumen kebijakan yang disusun dengan cermat. Namun semua itu akan kehilangan makna jika berhenti sebagai arsip. Pendidikan memiliki sifat yang berbeda dari proyek pembangunan fisik. Jalan yang belum selesai dapat dilanjutkan beberapa tahun kemudian. Tetapi anak yang kehilangan masa belajarnya tidak dapat dikembalikan ke usia yang sama.

Karena itu, transformasi pendidikan menuntut lebih dari sekadar perubahan dokumen. Ia membutuhkan peta jalan.

Baca Juga  Dunia Islam dan Jalan Perlawanan: Mengapa Umat Harus Menentukan Masa Depannya Sendiri

Dalam pernyataannya, Imam Khamenei qs menyambut baik adanya revisi terhadap dokumen transformasi sekaligus penyusunan road map untuk melaksanakannya. Ini penting karena sebuah cita-cita, betapapun luhur, tetap membutuhkan jawaban atas pertanyaan sederhana: bagaimana ia dikerjakan?

Tanpa peta jalan, perubahan mudah berubah menjadi slogan. Semua orang dapat menyatakan setuju terhadap transformasi, tetapi masing-masing bergerak ke arah yang berbeda. Sebaliknya, peta jalan membuat gagasan memperoleh tubuh: siapa melakukan apa, pada tingkat mana, dengan cara bagaimana, dan bagaimana dampaknya dapat dirasakan di seluruh jenjang pendidikan.

Namun jika ditarik lebih jauh, ada satu persoalan lain yang tak kalah penting: perubahan tidak pernah selesai.

Dunia bergerak terlalu cepat untuk membiarkan sebuah dokumen pendidikan menjadi kitab yang tidak boleh disentuh. Apa yang dianggap relevan hari ini bisa saja tidak lagi memadai beberapa tahun mendatang. Teknologi berubah, pola komunikasi berubah, kebutuhan pekerjaan berubah, bahkan cara anak-anak memahami dunia ikut berubah. Karena itu, dokumen transformasi pun harus memiliki kemampuan untuk berubah.

Ini bukan kelemahan.

Justru kemampuan memperbarui diri adalah tanda bahwa sebuah sistem masih hidup.

Pendidikan yang tidak mau berubah pada akhirnya akan mengajarkan masa lalu kepada anak-anak yang hidup di masa depan. Di sinilah paradoksnya: sekolah dibangun untuk mempersiapkan masa depan, tetapi sistem pendidikan sering kali paling lambat beradaptasi terhadap perubahan.

Gagasan tersebut membawa kita pada pentingnya orang-orang yang berpikir di luar kebiasaan.  Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs meminta agar para ahli dan mereka yang memiliki gagasan dilibatkan dalam setiap tahap. Mereka tidak hanya harus dicari dari dalam institusi pendidikan, tetapi juga dari luar.

Ini adalah pengingat yang penting. Sebuah lembaga mudah terjebak dalam cara pandangnya sendiri. Orang yang terlalu lama berada di dalam sistem kadang justru sulit melihat kelemahan sistem itu. Karena itu, suara dari luar dapat berfungsi seperti jendela: membawa udara baru sekaligus memperlihatkan bagian-bagian ruangan yang selama ini tidak terlihat.

Baca Juga  Berdiri Tegak di Hadapan Kezaliman: Pelajaran Keteguhan dari Doa Imam Sajjad

Tetapi keterlibatan kaum cendekia dan pemikir bukan berarti pendidikan harus diserahkan kepada para ahli semata. Guru tetap menjadi pusat pengalaman pendidikan sehari-hari. Mereka yang berdiri di depan kelas mengetahui secara langsung bagaimana kebijakan bertemu dengan kenyataan. Sebuah aturan yang tampak sempurna di meja perumus bisa menjadi rumit ketika berhadapan dengan kelas yang penuh, fasilitas yang terbatas, atau kebutuhan murid yang beragam.

Karena itu, transformasi pendidikan seharusnya tidak berjalan dari atas ke bawah secara kaku. Ia perlu mendengar suara dari banyak arah.

Dalam konteks yang lebih luas, inilah barangkali makna terdalam dari perubahan: bukan mengganti sesuatu hanya karena ingin terlihat baru, melainkan terus bertanya apakah sistem yang ada masih mampu menjawab kebutuhan manusia.

Sebuah dokumen dapat diperbarui. Kurikulum dapat diganti. Teknologi dapat dibeli. Gedung sekolah dapat direnovasi. Namun transformasi pendidikan yang sesungguhnya jauh lebih dalam: ia terjadi ketika sebuah masyarakat bersedia mengoreksi dirinya sendiri.

Sebab pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana anak belajar membaca, menghitung, atau menghafal pengetahuan. Pendidikan adalah cara sebuah generasi mempersiapkan generasi berikutnya menghadapi dunia yang belum mereka kenal.

Maka kesalahan terbesar bukanlah memiliki sistem yang belum sempurna. Kesalahan yang lebih berbahaya adalah mengetahui bahwa sistem itu membutuhkan perubahan, tetapi memilih membiarkannya diam.

Dokumen yang disimpan dalam laci memang tidak akan merusak apa pun. Ia tetap utuh, tetap bersih, dan mungkin tetap indah ketika dibuka bertahun-tahun kemudian. Tetapi di luar laci itu, dunia sudah bergerak.

Dan anak-anak tidak pernah menunggu.

Mereka tumbuh bersama zaman. Pertanyaannya tinggal satu: apakah pendidikan akan bergerak bersama mereka, atau justru meminta mereka menunggu sistem yang tak kunjung berubah?

Baca Juga  Jihad di Jalan Allah: Pintu Surga yang Dibuka untuk Para Pejuang
Bagikan:
Terkait
Komentar