KHAMENEI.ID– Ada masa ketika kebingungan bukan lagi akibat kurangnya informasi, melainkan karena terlalu banyak suara yang berebut menentukan apa yang dianggap benar. Fakta datang bersamaan dengan tuduhan, opini bercampur dengan kebohongan, dan emosi bergerak lebih cepat daripada akal sehat. Di tengah keadaan semacam itu, sebuah kata menjadi penting: tabyin menjelaskan, menerangkan, membuat sesuatu yang kabur kembali terlihat.
Gagasan tentang tabyin itu disampaikan dalam pidato penutup Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs pada sebuah acara duka Asyura dan Arba’in Husaini. Pesannya terutama diarahkan kepada kaum muda dan mahasiswa: jangan hanya menjadi penonton di tengah pertarungan gagasan. Mereka justru diminta menjadi cahaya bagi lingkungan di sekitarnya.
Anak muda, dalam pandangan itu, bukan sekadar kelompok yang akan mewarisi masa depan. Mereka adalah bagian dari harapan hari ini. Karena itu, ketika ruang publik dipenuhi informasi yang menyesatkan dan berbagai upaya untuk mempengaruhi pikiran masyarakat, tugas mereka bukan menambah kebisingan. Tugasnya adalah menerangkan.
Di sinilah tabyin memperoleh makna yang lebih luas daripada sekadar memberikan informasi. Menjelaskan berarti membantu orang melihat persoalan dengan lebih jernih. Ia menuntut keberanian untuk menghadapi keraguan, tetapi juga kesediaan untuk menggunakan akal sebelum menghakimi.
Dalam dunia digital, pekerjaan itu sebenarnya tidak pernah semudah sekarang. Setiap orang memiliki ruang untuk berbicara. Sebuah gagasan yang dahulu membutuhkan halaman surat kabar kini cukup diketik dalam beberapa detik. Sebuah penjelasan dapat menjangkau ribuan orang tanpa melewati pintu redaksi. Media sosial membuka jalan yang luas bagi siapa pun yang ingin menyampaikan pandangan.
Namun ruang yang terbuka selalu membawa dua kemungkinan. Ia dapat menjadi tempat pengetahuan tumbuh, sekaligus menjadi ladang subur bagi kebingungan.
Masalahnya bukan semata-mata pada teknologi. Masalahnya terletak pada manusia yang menggunakannya. Ketika kebebasan berbicara tidak disertai tanggung jawab, informasi berubah menjadi senjata. Kebohongan dapat beredar sebagai fakta. Tuduhan dapat menyamar sebagai kritik. Potongan informasi dapat dilepaskan dari konteks dan dipakai untuk membangun kesimpulan yang sama sekali berbeda.
Karena itu, tabyin bukan pekerjaan sederhana. Ia membutuhkan ketelitian. Ia meminta seseorang berhenti sejenak sebelum membagikan sesuatu. Apa sumbernya? Apa konteksnya? Benarkah persoalan itu sesederhana yang tampak dalam sebuah unggahan? Apakah kita sedang menyampaikan kebenaran atau sekadar memperkuat sesuatu yang memang ingin kita percayai?
Di titik ini, gagasan tentang menjelaskan bertemu dengan persoalan etika.
Menjernihkan pikiran publik tidak dapat dilakukan dengan cara apa pun yang kita sukai. Kebencian tidak menjadi benar hanya karena diarahkan kepada orang yang kita anggap salah. Kebohongan tidak berubah menjadi kebenaran hanya karena digunakan untuk membela tujuan yang kita yakini baik.
Ada batas yang tidak semestinya dilewati: penghinaan, fitnah, penipuan, dan kebohongan. Semua itu justru merusak tujuan tabyin. Sebab bagaimana mungkin seseorang mengajak orang lain melihat kebenaran dengan cara yang sejak awal mengaburkan kenyataan?
Maka kebenaran, dalam gagasan ini, harus disampaikan dengan logika yang kuat, bahasa yang matang, dan rasionalitas. Tetapi ada unsur lain yang tak kalah penting: perasaan manusia.
Akal tanpa empati dapat berubah menjadi kekerasan yang dingin. Sebaliknya, emosi tanpa akal mudah menjadi amarah yang membakar. Penjelasan yang baik membutuhkan keduanya. Ia harus mampu meyakinkan pikiran tanpa melukai martabat manusia.
Barangkali di situlah tantangan terbesar komunikasi publik hari ini. Kita hidup dalam zaman ketika orang sering lebih tertarik pada kemenangan daripada kebenaran. Debat dianggap selesai ketika lawan diam. Argumen dianggap kuat ketika mendapat banyak dukungan. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan.
Padahal menjelaskan bukan berarti menaklukkan.
Tabyin mengandaikan adanya orang lain yang perlu diajak melihat, bukan musuh yang harus dihancurkan. Karena itu, bahasa menjadi bagian dari perjuangan. Cara kita menyampaikan kebenaran ikut menentukan apakah kebenaran itu akan diterima atau justru ditolak.
Dalam konteks yang lebih luas, gagasan ini terasa relevan jauh melampaui peristiwa politik atau keagamaan. Setiap hari masyarakat berhadapan dengan banjir informasi: berita, video pendek, komentar, potongan pidato, statistik, dan klaim yang beredar tanpa pemeriksaan. Di tengah arus itu, kemampuan membedakan antara fakta dan manipulasi menjadi bentuk kecakapan hidup.
Kaum muda terutama menghadapi persoalan ini karena merekalah yang paling lama akan hidup dalam ekosistem informasi tersebut. Mereka bukan hanya konsumen informasi. Mereka juga produsen makna. Satu unggahan dapat mempengaruhi cara orang lain memahami sebuah peristiwa. Satu komentar dapat memperbesar prasangka. Sebaliknya, satu penjelasan yang jernih dapat menghentikan kesalahpahaman yang telanjur menyebar.
Karena itu, ajakan menjadi “cahaya” sesungguhnya bukan metafora yang berlebihan. Cahaya tidak berteriak agar kegelapan pergi. Ia hanya membuat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat menjadi tampak.
Mungkin demikian pula seharusnya tabyin bekerja. Tidak dengan kebisingan, tetapi dengan kejernihan. Tidak dengan penghinaan, tetapi dengan argumen. Tidak dengan kebohongan yang dibungkus tujuan mulia, tetapi dengan keberanian mengatakan sesuatu sebagaimana adanya.
Pada akhirnya, setiap orang memang memiliki bagian dalam ruang publik. Tidak semua harus menjadi pembicara. Tidak semua harus menulis panjang. Tetapi setiap orang dapat memilih: menjadi bagian dari kabut atau membantu menerangi.
Di zaman ketika informasi begitu mudah diproduksi dan begitu cepat dipercaya, menjelaskan kebenaran dengan akal dan akhlak mungkin merupakan salah satu bentuk keberanian yang paling sunyi. Ia tidak selalu menghasilkan sorak-sorai. Bahkan sering kali tidak segera terlihat hasilnya.
Namun seperti cahaya kecil yang membuat sebuah ruangan dapat dikenali, satu penjelasan yang jernih kadang cukup untuk membuat seseorang berhenti sejenak dan melihat dunia dengan mata yang sedikit lebih terang.






