Misi Para Nabi: Membebaskan Akal dari Belenggu Khurafat

KHAMENEI.ID– Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan ketika berbicara tentang para nabi. Benarkah mereka datang hanya untuk mengajarkan tata cara ibadah, atau sebenarnya mereka membawa misi yang jauh lebih besar: membebaskan manusia dari penjara pikirannya sendiri?

Sejarah memperlihatkan bahwa setiap zaman memiliki bentuk kegelapannya masing-masing. Ada masa ketika manusia menyembah berhala dari batu. Ada masa ketika mereka tunduk pada mitos, takhayul, dan kekuasaan yang dianggap suci tanpa pernah dipertanyakan. Hari ini, berhalanya mungkin telah berubah rupa. Ia hadir dalam bentuk informasi palsu, fanatisme, teori konspirasi, kultus individu, hingga keyakinan yang lahir bukan dari penalaran, melainkan dari gema yang terus diulang.

Di tengah semua itu, risalah para nabi tetap terasa relevan. Mereka tidak sekadar mengajarkan apa yang harus dipercayai, tetapi juga menghidupkan kembali kemampuan manusia untuk berpikir.

Imam Ali bin Abi Thalib a.s pernah menggambarkan misi para nabi dengan kalimat yang sangat indah dalam Nahj al-Balaghah:

وَوَاتَرَ إِلَيْهِمْ أَنْبِيَاءَهُ لِيَسْتَأْدُوهُمْ مِيثَاقَ فِطْرَتِهِ وَيُذَكِّرُوهُمْ مَنْسِيَّ نِعْمَتِهِ… وَيُثِيرُوا لَهُمْ دَفَائِنَ الْعُقُولِ

“Allah mengutus para nabi secara bergantian agar mereka menagih kembali janji fitrah manusia, mengingatkan nikmat yang telah dilupakan, dan membangkitkan harta karun akal yang terpendam”

Ungkapan dafā’in al-‘uqūl “harta karun akal yang terpendam” mengandung makna yang sangat dalam. Ia menggambarkan bahwa akal manusia pada hakikatnya tidak pernah hilang. Yang terjadi adalah ia terkubur. Seperti emas yang tertimbun tanah selama berabad-abad, kemampuan berpikir jernih tetap ada, tetapi tertutup oleh lapisan-lapisan prasangka, hawa nafsu, tradisi yang membeku, dan berbagai khurafat yang diwariskan tanpa pernah diuji.

Di titik inilah para nabi menjalankan tugasnya. Mereka bukan sekadar pemberi jawaban, melainkan penggugah kesadaran. Mereka datang untuk menggali kembali kemampuan manusia membedakan yang benar dari yang salah.

Baca Juga  Jihad yang Terlupakan: Pelajaran Besar dari Perjuangan Menyeluruh Imam Ali

Namun jika ditarik lebih jauh, kebebasan berpikir yang dibawa para nabi bukanlah kebebasan tanpa arah. Akal dalam pandangan para nabi bukan penguasa yang berdiri sendiri, tetapi cahaya yang berjalan seiring dengan fitrah. Karena itu, Imam Ali a.s menyebut lebih dahulu tentang “perjanjian fitrah” sebelum berbicara mengenai akal. Seolah-olah beliau ingin mengatakan bahwa ketika fitrah tetap hidup, akal akan menemukan jalannya menuju kebenaran.

Sebaliknya, ketika fitrah tertutup, akal yang cemerlang sekalipun dapat berubah menjadi alat untuk membenarkan kesalahan. Sejarah penuh dengan contoh tentang masyarakat yang memiliki ilmu tinggi, tetapi kehilangan kompas moral. Mereka mampu membangun peradaban megah, tetapi gagal menjaga kemanusiaannya.

Dalam konteks yang lebih luas, perjalanan sejarah manusia dapat diibaratkan sebagai sebuah kafilah panjang yang melintasi padang waktu. Perjalanan itu tidak pernah berhenti. Setiap generasi mewarisi pengalaman, pengetahuan, dan tantangan baru. Namun sebuah kafilah memerlukan penunjuk arah. Tanpa itu, semakin cepat ia berjalan, semakin jauh pula ia tersesat.

Para nabi adalah para penunjuk arah itu.

Mereka menunjukkan jalan, tetapi tidak berhenti pada pemberian petunjuk. Yang lebih penting, mereka membangun kemampuan setiap manusia untuk membaca arah secara mandiri. Mereka mendidik, bukan mendikte. Mereka membangunkan kesadaran, bukan menciptakan ketergantungan.

Inilah yang membuat risalah kenabian berbeda dari sekadar sistem kekuasaan atau ideologi. Kekuasaan sering kali meminta manusia untuk patuh. Para nabi justru mengajak manusia berpikir. Kekuasaan sering merasa terancam oleh pertanyaan. Para nabi justru melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang membawa manusia kepada kebenaran.

Karena itu, musuh utama para nabi hampir selalu sama sepanjang sejarah: kebekuan berpikir. Bukan kebodohan semata, melainkan keengganan menggunakan akal. Ketika seseorang merasa telah memiliki seluruh jawaban, ketika tradisi tidak lagi boleh diuji, ketika mitos lebih dipercaya daripada kenyataan, saat itulah akal kembali terkubur.

Baca Juga  Pernikahan, Keluarga, dan Masa Depan Bangsa: Mengapa Islam Mendorong Generasi yang Kuat?

Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi pada masyarakat kuno. Dunia modern pun mengalaminya dengan wajah yang berbeda. Arus informasi yang melimpah ternyata tidak selalu melahirkan masyarakat yang lebih rasional. Seseorang dapat mengakses jutaan data dalam hitungan detik, tetapi tetap terjebak dalam ruang gema yang hanya mengulang keyakinannya sendiri. Kebohongan yang diulang terus-menerus sering kali terdengar lebih meyakinkan daripada kebenaran yang sunyi.

Di sinilah pesan para nabi terasa semakin aktual. Mereka mengingatkan bahwa kebenaran tidak lahir dari banyaknya suara yang mendukungnya, melainkan dari kesesuaiannya dengan fitrah dan akal yang sehat.

Misi mereka sesungguhnya bukan menciptakan manusia yang sekadar taat, melainkan manusia yang sadar. Sebab kesadaran melahirkan tanggung jawab, sedangkan kepatuhan tanpa kesadaran mudah berubah menjadi fanatisme.

Barangkali itulah sebabnya Imam Ali a.s memilih metafora “menggali harta karun akal”. Harta karun tidak diberikan begitu saja kepada pemiliknya. Ia harus dicari, digali, dan dibersihkan dari tanah yang menutupinya. Demikian pula akal manusia. Ia memerlukan keberanian untuk mempertanyakan, kerendahan hati untuk belajar, dan kejujuran untuk menerima kebenaran meski bertentangan dengan prasangka yang telah lama dipelihara.

Pada akhirnya, risalah para nabi bukan hanya kisah masa lalu. Ia adalah panggilan yang terus bergema di setiap zaman: membebaskan manusia dari segala sesuatu yang menghalangi akalnya melihat kebenaran. Sebab ketika akal kembali hidup, fitrah kembali berbicara. Dan ketika keduanya berjalan beriringan, manusia tidak hanya menemukan jalan menuju Tuhan, tetapi juga menemukan kembali kemanusiaannya.

Bagikan:
Terkait
Komentar