Persatuan Islam dan Harga yang Dibayar karena Perpecahan

KHAMENEI.ID– Ada gagasan yang kadang baru terasa nilainya setelah bencana datang. Persatuan Islam adalah salah satunya. Ketika seruan untuk menyatukan umat terdengar, ia mungkin dianggap terlalu idealistis, bahkan mengganggu kepentingan politik yang sudah telanjur mapan. Namun ketika perang saudara pecah, masyarakat tercerai, dan satu per satu negeri Muslim dilanda kekacauan, pertanyaan yang tersisa menjadi jauh lebih sederhana: bagaimana jika sejak awal umat Islam lebih memilih bersatu?

Gagasan tentang persatuan itu selalu ditegaskan melalui gagasan Pekan Persatuan (12 – 17 Rabi’ul awwal) yang diselenggarakan oleh pemerintah Republik Islam Iran, yang mempertemukan umat Islam dari berbagai mazhab dan dari berbagai negara. Intinya bukan menghapus perbedaan keyakinan, ibadah, atau tradisi keagamaan. Setiap mazhab tetap memiliki ruang untuk memelihara keyakinannya. Yang hendak dipertemukan adalah arah besar: kepentingan umat, kehidupan sosial, politik, dan masa depan dunia Islam.

Gagasan semacam itu, jika direnungkan hari ini, terasa semakin relevan.

Sebab sejarah beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa perpecahan di dunia Islam bukan sekadar perbedaan pendapat di ruang pengajian. Ia dapat berubah menjadi konflik politik, perang bersenjata, terorisme, dan kehancuran negara. Irak, Suriah, Yaman, Libya, Afghanistan, serta berbagai wilayah lain pernah menyaksikan bagaimana perbedaan yang dipelihara dan dipertajam dapat mengubah masyarakat menjadi ladang pertikaian.

Di titik ini, persatuan Islam bukan lagi sekadar slogan seremonial. Ia menjadi persoalan strategis.

Perbedaan sebenarnya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Umat Islam sejak berabad-abad lalu hidup dengan keragaman mazhab, tradisi intelektual, dan penafsiran. Persoalannya muncul ketika perbedaan itu diubah menjadi permusuhan. Lebih buruk lagi jika permusuhan tersebut dimanfaatkan oleh kekuatan politik yang memiliki kepentingan sendiri.

Baca Juga  Janji Pertolongan Allah: Mengapa Menolong Agama-Nya Selalu Mengubah Sejarah

Karena itu, persatuan tidak berarti semua orang harus berpikir sama. Persatuan justru menuntut kemampuan untuk hidup bersama di tengah perbedaan.

Gagasan inilah yang menjadi penting ketika melihat konflik sektarian dan kemunculan kelompok-kelompok ekstrem. Dalam sebuah pidato Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs ditekankan bahwa, kekuatan eksternal tidak hanya memanfaatkan perpecahan yang sudah ada, tetapi juga berusaha memperdalamnya melalui propaganda, dukungan terhadap kelompok tertentu, dan berbagai strategi politik. Tuduhan mengenai keterlibatan negara-negara besar dalam lahir dan berkembangnya kelompok teroris seperti ISIS pun menjadi bagian dari kritik tersebut.

Apa pun perdebatan mengenai detail sejarah dan aktor di balik setiap konflik, satu kenyataan sulit dibantah: masyarakat yang terpecah jauh lebih mudah dilemahkan.

Sebuah masyarakat yang sibuk mencurigai tetangganya sendiri akan kehilangan tenaga untuk memikirkan masa depannya. Mereka yang terus bertengkar tentang siapa yang paling benar akan lebih mudah melupakan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: siapa yang sedang mengambil keuntungan dari pertengkaran itu?

Dalam konteks yang lebih luas, persoalan Palestina memperlihatkan paradoks yang menyakitkan. Ketika dunia Islam terfragmentasi, isu Palestina dapat tersisih dari perhatian politik regional. Hubungan sebagian negara dengan Israel, yang dalam teks sumber dipandang sebagai bentuk pengabaian terhadap hak rakyat Palestina, dibaca sebagai salah satu akibat dari lemahnya posisi kolektif dunia Islam.

Di sini, persatuan tidak boleh dipahami sekadar sebagai solidaritas emosional. Persatuan memiliki konsekuensi politik. Negara-negara yang memiliki kepentingan bersama, jika mampu membangun posisi yang terkoordinasi, tentu memiliki daya tawar yang berbeda dibanding negara-negara yang berjalan sendiri-sendiri.

Namun persatuan juga membutuhkan sesuatu yang lebih sulit: keberanian untuk menahan ego.

Sebab perpecahan tidak selalu lahir dari perbedaan teologis. Ia sering tumbuh dari kepentingan, ambisi, ketakutan, dan hasrat mempertahankan kekuasaan. Identitas agama kemudian digunakan sebagai bahan bakar. Orang dibuat marah, diprovokasi, lalu diarahkan untuk melihat sesama Muslim sebagai musuh.

Baca Juga  Belajar Melawan Kezaliman: Pelajaran Abadi Imam Husain untuk Zaman Kita

Pada saat itulah agama kehilangan fungsi moralnya dan berubah menjadi alat mobilisasi kebencian.

Al-Quran telah menggambarkan akibat kehancuran yang ditimbulkan oleh manusia yang menggunakan kekuasaan tanpa tanggung jawab. 

وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ

“Dan ia membinasakan tanaman-tanaman dan keturunan” (QS. Al-Baqarah: 205)

Kalimat itu terasa relevan ketika perang tidak hanya menghancurkan gedung, tetapi juga sekolah, rumah sakit, pasar, jalan, keluarga, dan masa depan anak-anak. Kerusakan perang tidak berhenti ketika suara senjata mereda. Ia meninggalkan trauma, kemiskinan, kebencian, dan generasi yang tumbuh dengan ingatan tentang kehilangan.

Karena itu, persatuan Islam seharusnya tidak berhenti pada perayaan tahunan. Ia harus menjadi cara berpikir.

Persatuan berarti menempatkan kepentingan umat di atas pertengkaran sektarian. Ia berarti menolak penghinaan terhadap mazhab lain sekaligus tetap teguh pada keyakinan sendiri. Ia berarti memahami bahwa seseorang dapat berbeda dalam fikih dan teologi, tetapi tetap berdiri bersama ketika rumah bersama sedang terbakar.

Namun jika ditarik lebih jauh, persoalan ini juga menyentuh kehidupan umat Islam di luar kawasan konflik. Perpecahan dapat muncul dalam bentuk yang lebih kecil: saling mencaci di media sosial, menganggap kelompok lain sesat hanya karena perbedaan praktik, atau menjadikan perbedaan pilihan politik sebagai alasan untuk memutus persaudaraan.

Barangkali di situlah makna persatuan Islam diuji paling dekat dengan kehidupan kita.

Dunia Islam tidak kekurangan suara yang menyerukan persatuan. Yang sering kurang adalah kemauan untuk membayarnya dengan pengendalian diri. Sebab bersatu jauh lebih sulit daripada berteriak tentang persatuan. Ia menuntut kesediaan untuk mendengar, menahan diri, dan mengakui bahwa kepentingan bersama kadang lebih besar daripada kemenangan kelompok sendiri.

Pada akhirnya, sejarah mungkin tidak hanya bertanya siapa yang menang dalam sebuah pertikaian. Sejarah juga akan bertanya siapa yang membiarkan pertikaian itu terjadi.

Baca Juga  Ketika Kesalehan Tidak Berhenti di Sajadah

Persatuan Islam, karena itu, bukan sekadar gagasan tentang bagaimana umat seharusnya hidup bersama. Ia adalah pertaruhan tentang apakah perbedaan akan menjadi sumber kekayaan atau justru menjadi pintu masuk kehancuran. Dan mungkin, semakin sering dunia Islam melihat puing-puing yang ditinggalkan oleh perpecahan, semakin jelas pula harga dari sebuah persatuan yang dulu dianggap terlalu sederhana untuk diperjuangkan.

Bagikan:
Terkait
Komentar