KHAMENEI.ID – Industri bernilai puluhan miliar dolar, puluhan persen lalu lintas internet, dan puluhan ribu korban perempuan setiap tahunnya. Inilah sisi lain dari “kebebasan” yang begitu digembar-gemborkan oleh Barat. Pertanyaannya, apakah ini yang disebut kemajuan?
Dalam pidatonya pada pertemuan akbar dengan kaum perempuan di tanggal 12 Azar 1404 HS, Pemimpin Besar Revolusi, Imam Ali Khamenei, mengungkap fakta menyakitkan: apa yang disebut kebebasan oleh budaya kapitalisme Barat sejatinya adalah bentuk penawanan dan perbudakan baru. Dibalik slogan emansipasi dan hak individual, tersembunyi praktik penghancuran sistematis terhadap institusi keluarga, eksploitasi terhadap perempuan, serta pengabaian terhadap masa depan anak-anak. Beliau secara tegas menyebut promosi pergaulan bebas, beroperasinya geng-geng pemburu gadis muda, dan penghancuran ikatan keluarga sebagai dosa-dosa besar yang justru dibanggakan dengan nama “kebebasan”.
Semua perubahan destruktif yang terjadi di Barat—mulai dari penurunan pernikahan hingga anak tanpa ayah—tidak terjadi secara kebetulan. Semuanya dihela di bawah panji “kebebasan seksual”. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengonfirmasi bahwa Eropa dan Amerika merupakan pasar terbesar bagi perdagangan seks, terutama yang melibatkan perempuan dan anak-anak. Pada tahun 2023, sekitar dua pertiga (63 persen) dari total korban perdagangan manusia yang tercatat di Eropa adalah perempuan atau anak perempuan. “Geng-geng pemburu gadis muda” yang disinggung oleh Pemimpin Besar Revolusi bukanlah metafora, melainkan jaringan kejahatan terorganisir yang setiap tahunnya menyergap ratusan ribu korban, merenggut anak-anak dan remaja dari pangkuan keluarga mereka. Belakangan apa yang pernah dinyatakan oleh Beliau terbongkar dan terkuak secara nyata hingga dapat disaksikan oleh siapa saja. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa kebebasan mutlak ala Barat tidak hanya meruntuhkan institusi keluarga, tetapi juga telah melukai martabat kemanusiaan dan mengancam keselamatan anak-anak.
Salah satu pemicu utama di balik tragedi ini adalah interpretasi “kebebasan” sebagai sesuatu yang mutlak dan tanpa batas. Kebebasan ala Barat, pada praktiknya, bukanlah untuk kemaslahatan manusia, melainkan untuk kepentingan eksploitasi ekonomi dan kultural oleh segelintir elit yang berkuasa. Kebebasan yang diusung telah menggantikan nilai-nilai komitmen dan tanggung jawab dalam hubungan antarmanusia. Konsekuensinya, nilai-nilai kekeluargaan yang stabil luntur, dan muncullah hedonisme, konsumerisme, serta pencarian keuntungan jangka pendek. Industri pornografi di Amerika, misalnya, meraup pendapatan lebih dari 20 miliar dolar setiap tahunnya dan menguasai lebih dari 40 persen konten internet. Ini bukanlah sebuah “kebebasan berekspresi”, melainkan sebuah industri raksasa yang beroperasi di atas kehancuran moral keluarga dan eksploitasi terhadap tubuh perempuan.
Kebebasan tanpa batas ini juga telah mengubah posisi perempuan secara fundamental. Perempuan tidak lagi dipandang sebagai mitra sejajar yang memiliki peran mulia dalam mengelola rumah tangga dan mendidik generasi, tetapi lebih sering direduksi menjadi komoditas: tenaga kerja murah dalam pasar kapitalis dan objek konsumsi dalam industri hiburan dewasa. Slogan “kebebasan memilih” dan “kemandirian individu” pada akhirnya menjebak perempuan dalam isolasi, beban ganda, dan kerentanan ekonomi.
Sementara itu, anak-anak menjadi korban paling tak berdosa: mereka kehilangan ayah, tumbuh dalam kemiskinan emosional dan material, serta kehilangan fondasi identitas. Mereka adalah generasi yang lahir dari hubungan tanpa ikatan, dibesarkan dalam keluarga yang tidak utuh, dan dipersiapkan untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Tak sedikit mereka akhirnya terpaksa tinggal di jalanan tanpa pelindung dan tanpa pengayom. Anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan dan tak terpenuhi kebutuhan dasarnya tak akan tumbuh sebagaimana mestinya. Potensi-potensi bawaan mereka tak akan teraktualisasi dengan baik, bahkan bisa jadi justru menimbulkan masalah baru bagi masyarakat.
Bertolak belakang dengan model Barat yang individualistis dan destruktif, Islam menawarkan sebuah paradigma alternatif tentang keluarga. Dalam pandangan Islam, keluarga adalah institusi suci yang dibangun di atas pernikahan yang sah, tanggung jawab bersama, dan kasih sayang. Perempuan dalam Islam memiliki kedudukan terhormat sebagai pengelola rumah tangga (mudīrah al-bait) sekaligus memiliki identitas hukum dan sosial yang independen, termasuk hak untuk memiliki harta, menuntut ilmu, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial, selama tidak bertentangan dengan fitrah dan nilai-nilai ketuhanan. Dengan kata lain, Islam tidak membebaskan manusia dari tanggung jawab, melainkan membebaskan manusia untuk menjadi hamba Allah yang bermartabat. Sistem keluarga Islami terbukti lebih stabil, lebih manusiawi, dan mampu melindungi perempuan serta anak-anak dari eksploitasi yang kini menjangkiti masyarakat Barat.
Sayangnya, sistem keluarga Islami saat ini cenderung ditinggalkan bahkan menjadi asing bagi pengikutnya. Sistem yang tak lagi dikenal dan tak diketahui bagaimana keberadaannya. Dengan kacamata Barat yang telah dipinjamkan secara paksa, orang-orang melihat sistem keluarga Islami seakan menindas perempuan atau dianggap sebagai sebuah tradisi usang yang tak sesuai zaman.
Imam Ali Khamenei, dalam analisisnya, telah memberikan peringatan yang jelas: peradaban Barat saat ini sedang menghadapi salah satu krisis sosial terdalam dalam sejarahnya—krisis keluarga. Kebebasan semu yang mereka agungkan telah membuahkan ketidakstabilan, penderitaan psikologis, dan kemiskinan struktural. Penghancuran fondasi keluarga bukan hanya merugikan individu, tetapi juga mengancam kohesi sosial secara keseluruhan. Banyak peneliti Barat yang independen pun mengakui bahwa krisis keluarga adalah faktor utama yang akan mengganggu stabilitas masyarakat di dekade-dekade mendatang.
Maka, seruan Ayatullah Khamenei bukanlah sekadar kritik ideologis, melainkan sebuah alarm berdasarkan realitas statistik dan fakta lapangan. Setiap masyarakat yang melonggarkan ikatannya dengan fondasi kekeluargaan yang kokoh, dengan sendirinya akan menghadapi badai disintegrasi sosial yang dahsyat. Ini adalah pelajaran berharga bagi seluruh dunia, termasuk bagi mereka yang masih terbuai dengan gemerlap “kebebasan” Barat. Beliau telah merumuskan kebijakan penting dalam upaya mengokohkan kembali lembaga keluarga dan mencegah kerusakan masyarakat yang diakibatkan kegoncangan lembaga keluarga.
Sumber: https://ec.europa.eu/eurostat/statistics-explained/index.php?title=Trafficking_in_human_beings_statistics ; https://www.brookings.edu/articles/an-analysis-of-out-of-wedlock-births-in-the-united-states/ ; https://ec.europa.eu/eurostat/web/products-eurostat-news/-/ddn-20200717-1







