KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahpahaman yang sering diwariskan dari generasi ke generasi tentang takwa. Ketika kata itu disebut, yang segera muncul dalam benak banyak orang adalah ibadah pribadi: shalat yang khusyuk, puasa yang sempurna, zikir yang panjang, atau kemampuan menjauhi dosa-dosa individu. Semua itu memang bagian dari takwa. Namun, apakah takwa hanya berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan?
Pertanyaan itu menjadi menarik ketika membaca salah satu doa paling terkenal dalam Shahifah Sajjadiyah, karya spiritual yang diwariskan oleh Imam Sajjad a.s. Dalam doa ke-20 yang dikenal sebagai Makārim al-Akhlāq (Kemuliaan Akhlak), terdapat sebuah permohonan yang tampak sederhana tetapi menyimpan pandangan yang sangat luas tentang makna kesalehan.
Imam Sajjad a.s berdoa:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ، وَ حَلِّنِی بِحِلْيَةِ الصَّالِحِينَ، وَ أَلْبِسْنِی زِينَةَ الْمُتَّقِينَ
“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarganya. Hiasilah aku dengan perhiasan orang-orang saleh dan pakaikanlah kepadaku pakaian orang-orang yang bertakwa”
Menariknya, setelah memohon agar menjadi bagian dari golongan orang bertakwa, doa itu tidak langsung berbicara tentang banyaknya ibadah atau panjangnya ritual. Yang muncul justru sederet tindakan sosial yang menyentuh kehidupan bersama.
Di sinilah makna takwa mengalami perluasan yang sering terlupakan.
Takwa, menurut doa ini, pertama-tama tampak dalam upaya menegakkan keadilan. Bukan keadilan yang hanya menjadi slogan, melainkan keadilan yang benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat. Keadilan dalam hukum, dalam kesempatan, dalam distribusi sumber daya, dan dalam perlakuan terhadap sesama.
Dalam konteks yang lebih luas, doa ini seakan mengingatkan bahwa seseorang tidak bisa mengaku bertakwa sambil membiarkan ketidakadilan tumbuh di sekitarnya. Kesalehan tidak hanya diukur dari seberapa sering seseorang menundukkan kepala di hadapan Tuhan, tetapi juga dari seberapa besar ia berdiri di pihak yang benar ketika berhadapan dengan sesama manusia.
Namun takwa tidak berhenti pada urusan struktur sosial. Ia juga menyentuh wilayah yang paling sulit ditaklukkan: diri sendiri.
Doa itu menyebut kāzhim al-ghaizh menahan amarah.
Ayat Al-Qur’an bahkan memuji mereka yang mampu melakukan hal itu:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Mereka yang menahan amarah dan memaafkan manusia; dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”
Amarah sering kali tampak sebagai reaksi yang wajar. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa banyak kerusakan besar justru lahir dari kemarahan yang diberi legitimasi. Ketika emosi mengambil alih akal sehat, batas antara kebenaran dan pelampiasan dendam menjadi kabur.
Karena itu, doa tersebut tidak meminta manusia menjadi makhluk tanpa perasaan. Ia hanya mengingatkan bahwa keputusan yang lahir dari kemarahan hampir selalu menghasilkan penyesalan. Takwa menghendaki agar logika dan kebijaksanaan tetap menjadi nahkoda, bahkan ketika hati sedang bergolak.
Di titik ini, gagasan tentang takwa bergerak semakin jauh dari pengertian yang sempit. Takwa ternyata juga berarti memadamkan api.
Bukan api yang membakar bangunan, melainkan api pertikaian yang membakar hubungan antarmanusia.
Setiap zaman memiliki bara konfliknya sendiri. Ada pertengkaran politik, perselisihan kelompok, perdebatan identitas, hingga perang kata-kata yang tak pernah selesai di ruang digital. Yang mengkhawatirkan, banyak orang justru merasa sedang membela kebenaran ketika sebenarnya sedang menambahkan bahan bakar ke dalam kobaran api.
Padahal orang bertakwa, menurut doa Imam Sajjad a.s, adalah mereka yang berusaha meredakan ketegangan, bukan memperbesarnya. Mereka tidak memperoleh kepuasan dari menyaksikan pertikaian. Sebaliknya, mereka mencari jalan agar pihak-pihak yang berseberangan bisa kembali duduk bersama.
Gagasan ini kemudian menyentuh aspek lain yang sangat relevan bagi masyarakat modern: kemampuan merangkul mereka yang menjauh.
Dalam doa tersebut terdapat permohonan agar mampu mendekatkan orang-orang yang tercerai-berai dan memperbaiki hubungan yang retak. Ini bukan sekadar nasihat sosial biasa. Ia merupakan cara pandang terhadap manusia.
Sering kali kita lebih mudah mengusir daripada merangkul. Lebih mudah memberi label daripada memahami. Lebih mudah memutus hubungan daripada memperbaikinya. Padahal, takwa justru menuntut kemampuan untuk menarik kembali mereka yang berada di pinggir lingkaran.
Bukan dengan paksaan, melainkan dengan keteladanan dan kasih sayang.
Karena itu, salah satu ciri orang bertakwa dalam doa tersebut adalah menjadi jembatan, bukan tembok.
Lebih jauh lagi, Imam Sajjad a.s mengajarkan etika yang terasa semakin langka pada zaman media sosial: menyebarkan kebaikan dan menutupi aib.
Kita hidup dalam budaya yang sering memberi penghargaan lebih besar kepada kabar buruk daripada kabar baik. Kesalahan seseorang dapat menyebar dalam hitungan menit, sementara kebaikannya tenggelam tanpa jejak.
Doa ini menawarkan arah yang berbeda. Jika mengetahui kebaikan seseorang, sebarkanlah. Jika mengetahui kekurangannya, jangan jadikan itu konsumsi publik.
Tentu bukan berarti membiarkan kemungkaran atau menutup mata terhadap kesalahan yang harus diperbaiki. Tetapi ada perbedaan besar antara memperbaiki seseorang dan mempermalukannya. Yang pertama lahir dari kepedulian, sedangkan yang kedua sering lahir dari ego.
Pada akhirnya, seluruh rangkaian doa ini membawa kita pada satu kesimpulan yang mendalam: takwa bukanlah identitas, melainkan karakter. Ia bukan sekadar simbol yang dikenakan, tetapi nilai yang hidup dalam tindakan sehari-hari.
Karena itulah Al-Qur’an menyebut tujuan puasa dengan sangat singkat namun penuh makna:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa yang dimaksud ternyata jauh lebih luas daripada sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia hadir dalam keadilan yang ditegakkan, amarah yang ditahan, konflik yang diredakan, hubungan yang diperbaiki, dan kebaikan yang disebarkan.
Mungkin di situlah letak keindahan doa Imam Sajjad a.s. Ia tidak mengajarkan manusia menjadi suci di menara gading. Ia mengajarkan bagaimana menjadi saleh di tengah keramaian dunia. Sebab ukuran ketakwaan yang sesungguhnya bukan hanya seberapa dekat seseorang kepada Tuhan, melainkan juga seberapa besar kehadirannya membawa ketenangan bagi manusia lain.







