Ketika Anak Muda Menolak Menyerah pada Masa Depan

KHAMENEI.ID– Ada cara sederhana untuk mengukur harapan sebuah negeri: lihat anak mudanya. Bukan dari apa yang mereka katakan di ruang-ruang resmi, melainkan dari ke mana kaki mereka melangkah ketika tidak ada yang menyuruh.

Di tengah derasnya kabar tentang kegelisahan generasi muda, tentang anak-anak muda yang dianggap semakin jauh dari nilai-nilai, apatis terhadap keadaan, dan kehilangan keyakinan terhadap masa depan, ada kenyataan lain yang kerap luput dari perhatian. Kenyataan itu tidak selalu hadir dalam bentuk slogan. Ia muncul dalam kerja, pengabdian, ilmu pengetahuan, solidaritas, bahkan dalam perjalanan panjang yang ditempuh tanpa banyak suara.

Gambaran tentang anak muda yang putus asa, dalam pandangan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs, justru berhadapan dengan apa yang ia lihat sebagai kenyataan di Iran. Menurutnya, ada arus propaganda yang berusaha meyakinkan publik bahwa generasi muda telah tercerabut dari nilai-nilai dan tidak lagi percaya kepada masa depan. Namun kehidupan sehari-hari menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Anak muda, dalam gambaran itu, bukan generasi yang berhenti. Mereka adalah generasi yang bergerak.

Mereka berada di banyak tempat sekaligus. Ada yang berdiri dalam pertahanan negara dan keamanan. Ada yang bekerja dalam berbagai aktivitas sosial. Ada yang masuk ke laboratorium dan ruang-ruang riset. Ada pula yang berada di tengah masyarakat ketika bencana datang, membantu korban banjir dan gempa, atau mengorganisasi bantuan bagi mereka yang membutuhkan.

Di titik ini, persoalan tentang harapan anak muda menjadi lebih menarik. Harapan tidak selalu berbentuk optimisme yang diucapkan dengan lantang. Kadang ia justru tampak dalam kesediaan seseorang melakukan sesuatu meski hasilnya belum jelas.

Seseorang yang benar-benar percaya bahwa masa depan tidak ada, barangkali tidak akan menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar. Ia tidak akan menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Ia tidak akan berdiri di tengah masyarakat ketika orang lain memilih menyelamatkan dirinya sendiri. Dan ia tidak akan berjalan berpuluh-puluh kilometer hanya untuk memenuhi sebuah panggilan batin.

Baca Juga   Produksi adalah Jihad: Ketika Bekerja Menjadi Bentuk Perlawanan

Karena itu, aktivitas generasi muda dapat dibaca sebagai bahasa lain dari harapan.

Dalam konteks Iran, salah satu contoh yang disebut adalah Arba’in, perjalanan jutaan orang dari Najaf menuju Karbala. Bagi mereka yang menjalaninya, perjalanan itu bukan sekadar aktivitas keagamaan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara keyakinan, ingatan sejarah, solidaritas, dan pengalaman spiritual. Anak-anak muda ikut berjalan di antara jutaan manusia, menempuh jarak yang panjang menuju tempat yang memiliki makna mendalam dalam sejarah Syiah.

Namun yang lebih penting bukan hanya perjalanan itu sendiri. Yang menarik adalah energi manusia yang berada di baliknya.

Energi serupa, menurut Syahid Ali Khamenei qs, tampak dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam sains, anak muda disebut sebagai penggerak utama kemajuan. Dalam produksi dan industri, mereka hadir melalui berbagai inovasi. Dalam menghadapi pandemi, mereka terlibat dalam pelayanan dan bantuan. Dalam kegiatan sosial, mereka ikut menggerakkan apa yang disebut sebagai jihad bantuan, sebuah semangat untuk menolong orang lain secara sukarela dan terorganisasi.

Semua itu memperlihatkan sesuatu yang sering terlupakan dalam pembicaraan mengenai generasi muda: manusia tidak selalu harus mengatakan bahwa ia memiliki harapan untuk membuktikan bahwa ia berharap.

Kadang-kadang pekerjaan adalah pernyataan yang lebih jujur daripada kata-kata.

Seorang peneliti yang tetap berada di laboratorium, seorang relawan yang mendatangi daerah bencana, seorang mahasiswa yang mengembangkan gagasan baru, atau seorang anak muda yang mengorganisasi bantuan bagi tetangganya, sedang mengatakan sesuatu tentang masa depan tanpa harus mengucapkannya. Ia sedang bertindak seolah-olah masa depan layak diperjuangkan.

Dalam konteks yang lebih luas, gagasan ini menyentuh persoalan yang tidak hanya milik Iran. Hampir di setiap masyarakat, anak muda sering menjadi objek penilaian yang tergesa-gesa. Mereka disebut apatis, individualistis, kecanduan teknologi, tidak peduli politik, atau tidak memiliki idealisme. Ada sebagian kebenaran dalam kritik itu. Tetapi menjadikan kritik tersebut sebagai gambaran utuh tentang satu generasi adalah persoalan lain.

Baca Juga  Ketika Keadilan Mengalir dari Puncak Kekuasaan

Generasi muda tidak pernah tunggal.

Di antara mereka ada yang mengejar kesenangan, tetapi ada pula yang memilih pengabdian. Ada yang sibuk membangun dirinya sendiri, tetapi ada yang merasa hidupnya harus berguna bagi orang lain. Ada yang kehilangan arah, tetapi ada pula yang justru menemukan arah melalui kerja sosial, ilmu pengetahuan, keyakinan, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan apakah anak muda masih memiliki nilai atau harapan. Pertanyaannya adalah: di mana harapan itu bekerja?

Sebab harapan yang hidup jarang tinggal sebagai gagasan. Ia mencari jalan untuk menjelma menjadi tindakan.

Di sinilah makna generasi muda dan masa depan bertemu. Masa depan sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh pidato para pemimpinnya, juga bukan semata-mata oleh kebijakan pemerintah. Ia dibangun oleh jutaan keputusan kecil yang dibuat anak-anak muda setiap hari: belajar atau berhenti, mencipta atau sekadar mengeluh, membantu atau berpaling, mengambil tanggung jawab atau menyerah kepada keadaan.

Anak muda yang terus bergerak belum tentu hidup dalam keadaan ideal. Mereka bisa kecewa, marah, bahkan sesekali kehilangan arah. Tetapi selama mereka masih bersedia bekerja untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, harapan belum benar-benar padam.

Barangkali itulah sebabnya masa depan tidak seharusnya dibaca dari suara paling bising yang mengatakan bahwa semuanya telah berakhir. Masa depan justru mungkin sedang tumbuh diam-diam di tempat yang jarang disorot: di ruang belajar, bengkel kerja, laboratorium, jalan-jalan panjang, pos bantuan, dan tangan-tangan muda yang memilih untuk tetap berguna.

Sebab pada akhirnya, sebuah generasi tidak dinilai hanya dari seberapa sering ia berbicara tentang masa depan. Ia dinilai dari apakah ia masih bersedia berjalan menuju ke sana.

Baca Juga   Mengapa Imam Ali Menerima Kekuasaan? Ketika Jabatan Menjadi Amanah, Bukan Ambisi
Bagikan:
Terkait
Komentar